Happy reading !
7.
Murid-murid berpakaian seragam batik khas Blenda SHS saling berlarian memasuki gerbang sekolah. Jam pelajaran telah aktif kembali. Rachel melangkah turun dari mobil dan menginjakkan sepatunya ke jalanan menuju depan gerbang sekolah. Rachel berhenti di depan kelasnya, melihat Athala yang sedang tertawa bersama Naya. Dia----menyunggingkan senyum tipis ke arah Athala yang menoleh ke arahnya kemudian melangkahkan kakinya ke dalam kelas. "Anneth. Tumben udah dateng.""Mencoba hal baru."
Hari ini Rachel siap untuk menerima pelajaran pertamanya. Berbicara tentang pelajaran , Rachel menyukai pelajaran bahasa. Di usianya yang belum genap 16 tahun ini Rachel sudah menguasai lebih dari tiga bahasa. "Chel. Lo ikut ekskul apa?" Anneth bertanya kepada Rachel seraya memasukkan biskuit ke mulutnya.
"Emang disini ada ekskul apa?" Anneth menyodorkan sebuah kertas bertuliskan nama ekskul dan jadwal ekskul yang ada di Blenda SHS.
• Paskibra ( senin dan jumat )
• Basket ( rabu )
• Volly ( senin dan selasa )
• Futsal ( selasa dan kamis )
• KIR ( kamis )
• Pencak silat ( sabtu )
• Paduan suara ( senin )
• Galaxy Band ( rabu dan kamis )Tidak ada ekskul jurnalis disini. Brosur itu nampak tidak tertarik bagi Rachel. Namun, Galaxy Band sepertinya menjadi daya tarik Rachel untuk membaca brosur itu kembali. Not bad,huh. "Kamu ikut ekskul apa?"
"Paskibra." Memang pantas Anneth mengikuti ekskul paskibra karena Anneth memiliki tinggi badan yang pas. Tidak seperti dirinya yang bertubuh mungil. Tapi kan masih ideal dengan tinggi yang kurang lebih 150 cm dengan berat badan yang cukup,pikir Rachel.
"Aku ikut band aja deh."ujar Rachel seraya menulis data diri di brosur tersebut. Anneth menghentikan aksi mengunyah biskuitnya. "Wah,lo ketemu kak Athala dong."
"Emang kak Athala ikut band?"
"Iyaa,udah lama bahkan. "
Ada perasaan senang dalam diri Rachel ketika mengetahui bahwa Athala juga mengikuti ekskul band. Namun ada juga perasaan takut untuk dekat dengan Athala karena perkataan Anneth beberapa waktu yang lalu. Seorang guru masuk ke dalam kelas Rachel. Sepertinya guru ini killer,kumisnya aja panjang,pikir Rachel.
Bel istirahat berbunyi. Murid-murid berhamburan keluar kelas. Rachel masih berada di kelasnya padahal Anneth memaksanya untuk menemani ke kantin. Namun Rachel menolak dengan alasan bad mood. Jadilah Anneth pergi ke kantin sendiri. Sebenarnya Rachel lapar namun ia sedang tidak ingin bertemu Athala.
Reyhan melihat Anneth yang berjalan menuju ke arah kantin no 8. Dimana Rachel?pikirnya. Reyhan merasa khawatir dengan Rachel karena tadi pagi adiknya belum sempat sarapan dan semalam suhu tubuh Rachel naik. "Gue kesana dulu ya."ucap Reyhan segera berlari menuju kelas Rachel. Untung saja kelas Rachel sepi jadi tidak ada yang mencurigainya.
"Dek,kok gak kantin?lo belum sarapan. Nanti lo sakit gimana? Ayo makan! Mau gue beliin?" Reyhan menyerocos----membuat Rachel mengernyit. "Abang apaan sih. Rachel gapapa kok. Rachel lagi ga mood aja."
"Lo mana pernah mood sih. Gue emut sini,makan gak!." "Ga."
"Makan chel." Suara deheman seseorang membuat Reyhan tidak berani menyeloteh lagi. Athala. "Ngapain?"
"Mendingan kalian pergi aja ya. Rachel lagi badmood bangett. Sana sana." Rachel mengibaskan kedua tangannya untuk mengusir kedua cowok tersebut.
"Muka lo pucat dek. Astaga." Dek? Athala menaikkan alisnya------meminta penjelasan kepada Reyhan. "Huh,baiklah. Rachel ini adik gue. Puas lo?" Gotcha! Benar dugaan Athala. Semenjak Athala mengantar Rachel pulang ke rumah saat itu. Ia sangat yakin bahwa rumah itu adalah rumah Reyhan. Walaupun baru sekali Athala kesana namun ingatannya masih cukup baik. "Abang pergi aja deh. Keburu teman-teman Rachel datang. Sana bang!" Rachel mendorong tubuh Reyhan ke luar kelas.
Athala menahan lengan Rachel hingga membuat gadis itu terdiam. Athala menggendong Rachel bridal style menuju ke UKS. Semua pandangan mengarah ke Rachel. Tubuh Rachel sudah bergetar, ia takut jika dia akan dibully oleh fans fanatik Athala. Rachel meronta-ronta agar lepas dari gendongan itu namun Athala semakin menambah kecepatan jalannya membuat Rachel menutup mata dan memeluk leher Athala. Jangan tanya bagaimana perasaan mereka berdua saat itu!
Athala membaringkan Rachel ke atas ranjang UKS dan memegang dahi Rachel. "38,7 derajat." Rachel membulatkan matanya, bagaimana Athala tau suhu tubuhnya tanpa menggunakan alat apapun. Athala mengambil baskom yang berisi air hangat--------ia mengompres dahi Rachel berharap suhunya turun. "Ini den makanannya." Athala membuka penutup makanannya. Bubur polos alias putih. Rachel tidak menyukai makanan itu. Seperti orang sakit katanya. Athala mulai menyendokkan bubur ke mulut Rachel, tetapi Rachel membungkam mulutnya. "Buka!"
"Gak gamau. Aku gak sakit. Aku gak mau bubur."rengek Rachel. "Aw." Rachel tiba-tiba memegang kepalanya erat. Tetesan darah jatuh ke bagian tepi seragam Athala. Athala mendongak,"Rachel. Kenapa? Rachel." Athala mencoba untuk membantu Rachel namun Rachel semakin meronta kesakitan. Athala menggendong Rachel menuju ke parkiran.
"Saya mau keluar. Ada yang sakit."
"Baik Tuan."
Athala melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit dekat sekolah. Ia melihat Rachel yang mulai menangis kesakitan. Athala menjadi tidak tega. "Bertahan please."
"Brankar cepetan." Athala menjadi sangat gusar dan khawatir. Ia takut Rachel kenapa-kenapa. Athala bersama perawat mendorong brankar Rachel menuju ke UGD. "Maaf, tidak boleh masuk."
Athala menunggu proses pemeriksaan Rachel. Ia mondar-mandir tidak jelas. Athala sudah menghubungi Reyhan agar ke rumah sakit.
"Adek gue."
"Di dalam."
Pintu UGD terbuka menampakkan sesosok dokter berpakaian hijau.
"Keluarga pasien?"
"Saya kakaknya." Reyhan mengacungkan tangannya dan mulai mengikuti dokter. Athala tidak ikut masuk ke ruangan dokter namun dia masuk ke ruangan Rachel. Gadis itu tampak sangat pucat dan lemah. Rachel yang ceria tiba-tiba terbaring tak berdaya. Energi Athala menjadi sangat negatif sekarang ini. "Gimana?" Athala bertanya kepada Reyhan yang baru saja masuk ke dalam ruangan Rachel.
"Cuma kecapekan dan efek hujan-hujan." Athala memicingkan matanya-------sedikit tidak percaya. Namun kemudian ia menganggukkan kepala.
Ada rasa khawatir yang terbesit di pikiran Athala. Bagaimana mungkin Rachel sangat merasakan sakit yang luar biasa pada kepalanya dibilang hanya kecapekan ? Athala belum percaya.
"Gue suka sama Rachel."
To be cotinued
Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca 🌟🌟🌟
Thanks for reading ❤

KAMU SEDANG MEMBACA
ATHARA (SELESAI) ✔
Teen FictionAthala namanya, seorang cowok yang sangat tidak suka dengan dunia percintaan. Namun ketika dia bertemu seorang gadis, dia tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menaruh perasaan. Athala mencari tau tentang gadis itu yang ternyata namanya Rachel, si...