All Falls Down - Alan Walker 🎼
Sementara itu, Cindy yang tadi nya tidak memiliki teman dekat kecuali Farid dikelasnya didekati oleh tiga wanita. Mereka adalah Stevi, Devi dan Dian. Ingat mereka? Ya, mereka. Tiga wanita hits disekolah dan terkenal suka melabrak siapapun cewek yang menurutnya mengganggu kehidupannya. Dan mereka terkenal slalu menghalalkan segala cara untuk mendapatkan Farid, namun selalu gagal.
Stevi dan kedua teman nya mendekat kearah Cindy yang sedang sendiri saat itu.
"Eh lo,"
Cindy yang kebetulan sedang duduk sendirian menengok ke sumber suara,
"Gue?" Cindy menunjuk diri nya sendiri untuk memastikan apa benar mereka menyebut namanya.
"Iya lo," Ketiga gadis itu berjalan semakin dekat ke arah Cindy, dengan tampang sombong nya.
Ah mati gue, nyari masalah lagi kaya nya ini bocah, lagi males nambah-nambah masalah gini lagi. Cindy menggerutu di dalam hati.
"Nanti acara, satu tenda sama siapa?" Tanya Stevi santai.
Cindy terdiam kaget tak percaya, seorang Stevi yang jelas-jelas membencinya, malah mendekati nya dan bertanya dengan nada sopan.
"Lo cakep-cakep engga budeg kan Cin?" Tanya Stevi lagi.
"Eh iya, engga kok. Gue belom tau nih, kayanya cewe-cewe dikelas udah pada punya geng masing-masing, tinggal gue doang sendiri."
"Bukan nya lo temenan sama Sherly?" tanya Devi.
"Iya, tapi dia udah dapet temen setenda kayanya," Cindy celingak-celinguk untuk mencari Sherly, "Nah itu, bener kan, itu dia ber 4 kayanya satu tenda" Cindy menunjuk ke arah Sherly yang sedang mengobrol bersama 3 temannya.
"Temen kok begitu, najis." Celetuk Stevi dengan muka judesnya.
"Tau, lo kok jarang bergaul sih? sekali nya dapet temen modelnya kaya begitu? hi gue sih ogah Cin" Tambah Dian.
"Tau tuh, kalo gue sih ya, ga akan gue anggep pernah kenal tu orang begitu, engga ada temen begitu Cin, liat temen susah dia malah seneng-seneng sendiri. Kaya kita dong susah seneng sama-sama" Jelas Devi, "Ye ga sist?" Tanya Devi kepada kedua teman nya.
"Apaan lo, kemaren pas gue beli baso dikantin trus duit gue kurang, lo ga inget?. Cuma minta tambahin empat rebu doang, lo malah kabur" Umpat Dian kesal.
"Ye maap elah, itu gue panggilan darurat biasa lah, panggilan alam" Jawab Devi sembari memamerkan gigi, tak merasa bersalah.
"Panggilan-panggilan, pala lo bau menyan" Dian terlihat makin kesal.
"Kok malah berantem ya si anying" Stevi menarik kedua telinga teman nya.
"Eh—Eh iya kaga Stev kaga" Jawab Dian dan Devi serentak sembari melepaskan tangan Stevi dari telinga mereka.
"Lo sih" Dian menyikut lengan Devi
"Lo!" Devi membalas dengan tatapan Sinis.
"Heh masih?" Stevi memelototi kedua teman nya.
"Eh iya kaga Stev ya allah" Dian menundukan kepalanya sembari sesekali melirik Devi.
Cindy tertawa kecil melihat kehangatan persahabatan mereka.
"Yaudah dari pada lo sendirian kaya jomblo, jomblo ngenes kaya si Devi, mending gabung sama kita aja ntar. Gimana?"
"Kok kaya gue?" Devi yang merasa namanya disebut oleh Stevi langsung angkat bicara.
"Apaan?" Stevi menatap tajam mata Devi.
"Kaga deng, ga jadi gue salah denger" Devi kembali menunduk.
"Makanya punya kuping di bersihin" Ledek Dian.
"Bacot" Jawab Devi cuek.
"Gue gabung sama lo pada?" Tanya Cindy tak percaya.
"Ya iya lah, lo mau setenda sama siapa lagi emang? emang lo mau setenda sama si Farid dan tiga temen nya yang sengklek itu?"
"Yeh yakali, kaga lah"
"Nah yaudah, ga mungkin juga lo sendiri kan?" Tanya Stevi. "Iye tau lo Cin" Tambah Devi dan Dian.
"Oke deh," Cindy setuju dan menjawab dengan senyuman nya.
"Nah gitu dong. Mulai sekarang, kita temenan." Stevi menyodorkan tangan nya ke arah Cindy.
"Apa nih?" tanya Cindy.
"Ya tanda kita temenan lah," Jawab Stevi.
"Udah 3 tahun sekolah bareng-bareng, kita baru mau mulai temenan pas udah mau perpisahan kaya gini, miris yak haha" Ujar Devi yang menujukan omongan nya ke arah Dian.
"Dari pada engga sama sekali?" Ujar Stevi.
"Lo sih Stev jadi orang jangan galak, untung gue sama Dian bertahan sampe sekarang buat nemenin lo" Ujar Devi.
"Iya deh iya, makasih ya dua gesrek"
"Buset gesrek, tapi gapapa dah, anggep aja panggilan sayang haha" Devi tertawa kecil. "Iya bener" Tambah Dian membuat ke tiga nya tertawa kecil.
"Jadi gimana Cin, mau temenan sama kita?" tanya Stevi ulang.
"Iye mau lah, lagian semua nya udah gue anggep temen dari awal gue sekolah sini kok" Cindy tersenyum menyambut tangan Stevi, dan ke dua temannya.
"Oke deh, nih tulis nomor lo" Stevi menyodorkan Hp nya ke Cindy.
"Oh, oke" Cindy mengetik nomor hp nya di hp Stevi.
"Makasih ya, nanti kita-kita hubungin lo secepatnya"
"Oke"
"Kita cabut dulu ya Cin" Pamit Stevi.
"Iya, cabut dulu ya Cin" Tambah Dian dan Devi.
"Oke deh"
"Bye" pamit Stevi And the geng.
Pletak!
"Awww! sakit aaaaahh" Teriak Dian yang saat itu nyungsep setelah melambaikan tangan nya kepada Cindy.
"Kalo jalan liat-liat kenapa, sakit ni ih" Pekik Dian kepada Devi
"Maaf-maaf yaelah, tadi gue juga keserimpet hehe" Devi hanya menggaruk-garuk kepalanya.
"Udah ayo lama ah" Stevi menarik kedua telinga teman nya lagi, dan berjalan membawa kedua teman nya seperti sedang membawa anak kucing.
Cindy yang melihat kejadian itu hanya tertawa kecil.
"Cin, diapain sama tu tiga cabe-cabean?" tanya Reno yang saat itu tiba-tiba dibelakang Cindy bersama Farid, Rafa dan Dino.
"Ga di apa-apain kok, orang mereka baik" Jawab Cindy santai.
"Hah? gue ga salah denger?!" Rafa terkejut dengan jawaban Cindy.
"Cindy bener, mereka itu baik, apa lagi Devi, hu bidadari ku satu itu baik banget mana montok hm" Jawab Reno dengan muka ambigu nya.
"Ye ga nanya lo" Jawab Rafa.
"Sensi amat mas nya" Jawab Reno.
"Tapi bener lo ga di apa-apain Cin?" tanya Dino.
"Bener" Jawab Cindy sekali lagi.
"Yaudah baguslah kalo gitu, kita pulang yu?" Tawar Farid.
"Ayo deh" Jawab ke tiga temannya.
"Ayo put?" Ajak Farid kepada Cindy.
"Iya" Jawab Cindy.
Mereka berjalan bersama-sama menuju parkiran.
Happy reading! ♥
KAMU SEDANG MEMBACA
RAIN
Genç KurguGeo farid alvaro, sang lekaki cuek pembenci hujan. Mempunyai sifat yang dingin dan multitalent membuat Farid menjadi idaman para wanita. Cindy putri cantika, sang wanita tomboy penyuka hujan. Memiliki banyak bakat terpendam, terbilang cuek dan sulit...
