"Ramai ya yang datang." gumam Dilla.
Celliqa yang berada di samping Dilla langsung menoleh.
Ramai apanya? Pikir Celliqa.
Karena yang hadir hanya, ia, Yaya, Bella, Farshal, Marvin, Bhilly, Rio, Valery, Ferdinand, Valen, Lucas dan Benjamin.
"Ramai?" tanya Celliqa dengan dahi berkerut.
Dilla mengangguk lalu tersenyum tipis, berusaha membuat Celliqa mengerti apa maksudnya.
Mulut Celliqa ternganga saat mengerti apa maksud Dilla, bukan sulit membaca arti senyuman Dilla tersebut.
Walaupun Celliqa tidak bisa melihat makhluk halus, namun saat Dilla memberi senyuman yang mengartikan mereka ada dan ramai banget, membuat bulu kuduk Celliqa berdiri.
Salah satu yang Dilla lihat adalah sosok Dimas yang sedang tersenyum ke arahnya, Dilla sedikit kaget saat melihat Dimas. Bagaimana juga wajah Dimas mengingatkannya pada Alfa.
"Dil, kenapa?" tanya Celliqa sambil mengguncang tubuh Dilla,
"Dimas." gumam Dilla yang masih menatap lurus sosok Dimas.
Dilla sangat ingin berbicara pada Dimas, namun rasanya tidak mungkin karena ia takut bahwa orang-orang di sekitarnya menganggap ia sedang berbicara sendiri. Padahal tidak.
Kini Celliqa mengerti mengapa Dilla merasa terkejut saat melihat Dimas. Walaupun ia tidak tau rupa Dimas seperti apa. Apakah mengerikan atau tetap sama saja seperti Alfa?
"Dil?" tiba-tiba suara Marvin membuat Dilla menoleh. Begitu juga dengan Celliqa.
"Gue duluan ya." ucap Celliqa karena ia melihat sepertinya Marvin ingin membicarakan sesuatu dengan Dilla.
Celliqa pun bergabung dengan Yaya, Bhilly, Bella, dan Rio.
Sedangkan Farshal pulang terlebih dahulu karena Cara tidak enak badan.
Celliqa memang cemburu kenapa Farshal masih mau mengantar Cara pulang. Namun setelah ia main pakai otaknya, bukan hatinya. Celliqa jadi mengerti, Cara perginya sama Farshal. Masa' harus pulang naik taksi? Malam-malam dan sendirian lagi. Oh ya satu lagi, dia cewek dan cantik.
"Jadi kapan mau punya anak?" Celliqa mendengar suara Bella bertanya kepada Bhilly dan Yaya.
Langsung Celliqa duduk di samping kiri Bella, dan ia juga melihat bahwa Bhilly dan Yaya sedang melotot ke arah kekasih Rio itu.
"Lo suruh gue gak usah punya anak karena masih sekolah, ya kita nundalah!" jawab Yaya blak-blakan.
"Nunda punya anaknya atau bikinnya?" pertanyaan dewasa itu keluar dari mulut Rio. Ok, dia emang udah dewasa tapikan tetap aja masih ada anak SMA, walaupun udah nggak di bawah umur sih.
Entah kenapa mendengar itu wajah Yaya langsung memerah, sampai ke telinga.
Kalau sedang tidak ada orang, Bhilly pengen aja nempelin bibirnya ke pipi chubby Yaya yang memerah. Gemas.
"Jadi, lo udah itu, Ya?" tanya Bella memberi kode ke Yaya.
Yaya yang tadinya malu langsung mikir keras dengan pertanyaan Bella.
Itu apa? Pikirnya.Celliqa yang mengerti hanya bisa menulikan telinganya, sementara Rio langsung menyikut Bella. Omongan Bella bisa menjurus ke arah yang lebih jauh kalau di teruskan.
"Apasih?!" Bella gitu orangnya, di senggol dikit langsung ngamuk.
Sistem kesabaran Rio udah kebal karenanya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Somewhere Over The Rainbow
FanfictionIbunya tidak peduli. Ayahnya apalagi. Keduanya sering bertengkar. Tapi tidak mau bercerai. Dan juga saling berselingkuh di belakang. Jadi sebenarnya, untuk apa ia hidup? ------ Cewek enam belas tahun ini merasakan nerakanya dunia, di saat remaja seu...