Bukan Hello Kitty
Shalman menatap Ryan masih tampak tenang. Pria itu tau betul alasan Ryan memanggilnya malam ini. Sudah jelas Ryan akan memakan umpan yang diberikan Shalman padanya pagi tadi. "Jika anda berharap saya akan menjelaskan kepada anda maka anda salah besar. Karena saya tidak sebaik itu untuk mengatakan apa yang anda ingin ketahui".
Shalman tersenyum melihat raut wajah Ryan yang tampak tidak terkejut. Menandakan bahwa pria itu sudah menduga jawaban yang akan diberikan Shalman.
"Anda terlibat? Benar anda terlibat. Anda juga ikut bertanggung jawab dalam kasus itu. Candy tidak akan mendapatkan tuduhan jika anda tidak membiarkannya. Kini anda malah menariknya disisi anda, anda bahkan terlihat begitu tenang dan hidup damai" Shalman bangkit dan tersenyum menatap Ryan.
Pria itu memberikan tatapan paling tajam pada salah satu petinggi perusahaan tempatnya bekerja. "Kedamaian anda itu sungguh membuat saya jengkel. Saya hanya ingin membuat anda sedikit tidak tenang. Anda ingin tau? Maka ingatlah semuanya. Ingat seperti apa anda terlibat dalam menciptakan kekacauan pada hidup kami" Shalman menekan di setiap perbuatannya.
"Satu saran saya. Anda sadar siapa anda, saya, Salsa, ayah saya, bahkan tunangan anda tahu akan apa yang terjadi dengan anda dan Candy di masa lalu. Tapi jangan biarkan dia tahu, karena anda adalah orang ketiga paling ingin dibunuh adik saya" Shalman melangkah pergi.
Pria itu melihat sorot mata Ryan yang berbeda, Shalman sempat ragu tapi akhirnya Shalman yakin. Ryan semakin terlihat frustasi. Mungkin Ryan tidak menyadarinya tapi Shalman melihat rasa simpatik yang kuat dari mata Ryan pada Candy.
Jika rasa simpati itu berubah menjadi sebuah ketertarikan maka Ryan menggali kuburnya sendiri. Sejauh yang Shalman tau, Candy benar-benar membenci Ryan meski Candy belum menyadari sosok Ryan yang sekarang.
Shalman berhenti melangkah saat sudah keluar dari cafe. Sayangnya Shalman juga melihat simpati yang sama pada mata Candy terhadap Ryan. Meski sudah dipastikan gadis itu belum menyadarinya.
* * *
"Oh lo udah pulang" Ryan terkejut saat suara Candy tiba-tiba bergema. Gadis itu memiringkan kepalanya dan lanjut menyiapkan makanan yang baru saja dibuat oleh salah satu asisten rumah tangga Ryan yang baru saja datang sore tadi.
"Lo udah makan? Kalo belum sini kalo udah sono" Ryan menghela nafas dan duduk di kursi tepat di hadapan Candy. Candy memperhatikan wajah Ryan yang tampak lebih kusam dari biasanya. "Lo ga pulang? Ngapain masih ganggu gue disini?" Candy mengangguk setuju tidak menyangkal ucapan Ryan.
Gadis itu malah melanjutkan kegiatan makannya. "Cewek jadi-jadian lo tadi telpon dan dia bilang bakal anter salah satu gaun cantik buat gue jadi gue ga bisa pergi, padahal gue udah mau pergi tadi" Ryan tidak terkejut. Candy benar-benar membuatnya mengeluarkan banyak uang untuk semua pakaian-pakain yang dimaksud olehnya.
"Oh iya dokter Handi juga bilang gue harus ke rumah sakit lebih tepatnya nemuin dia tiap seminggu sekali. Gue udah bilang semua biaya lo yang nanggung jadi lo ga usah khawatir" Ryan menopang dagunya, memperhatikan Candy yang tengah menyantap makanannya. Candy melirik namun tidak peduli meski sedikit tidak nyaman dengan tatapan Ryan padanya itu. "Menurut lo gue mesti tetap di timur meski gue mulai goyah sama jalan menuju timur atau ke barat saat jalan barat semakin terlihat jelas dan gamblang?" Candy mengangkat sendoknya tampak berpikir.
Gadis itu menatap Ryan saat dirasanya telah menentukan pilihan. "Kenapa harus tetap di timur saat lo sendiri mulai ga yakin? Lo bakal tersesat dan kalo masih tetep milih timur saat lo sendiri ga yakin itu namanya keputusan bego. Bukanya bakal menyenangkan milih jalan baru kaya barat?" Ryan tersenyum dan mengangguk.
KAMU SEDANG MEMBACA
Barbie's Bodyguard
Teen Fiction"Kalo bego mah bego ajah. Ga usah sok pinter sampe manfaatin orang sana-sini. Dasar sampah" Candy menoleh, murka akan setiap kalimat yang dilontarkan untuknya. Candy menatap Ryan intens, mendekat lalu berjinjit dan menarik kera baju Ryan. Mencium bi...
