Pertolongan Penuh Kebohongan
Candy menajamkan matanya. Melihat dari kejauhan Clarisa berlari keluar hotel. Ikut pergi ke jalanan terbuka saat berhasil menyelamatkan diri. Namun Candy masih belum melihat Selena dari arah manapun. Gadis itu mendesah pelan dan memejamkan matanya.
"Ga usah peduli" Candy terus menggumamkan hal yang sama. "Mamah" suara anak kecil terus terdengar. Candy yang masih jongkok dengan tangan menutup telinga akhirnya menoleh. Melihat bocah lelaki yang berdiri sambil menangis memanggil ibunya.
Bocah itu terus menangis sampai tidak sadar akan tertimpah pohon. Lengan Candy tanpa sadar terulur, berusaha memperingatkan namun terlambat. Terlalu menyedihkan sampai Candy menutup matanya.
Tangisan anak itu tidak kunjung reda. Candy membuka matanya dan melihat tubuh wanita yang tampaknya ibu dari sang anak melindungi tubuh anaknya. Menahan pohon dengan tubuhnya sendiri. Anak itu semakin histeris melihat keadaan ibunya.
Candy bangkit, berlari kecil dan mencoba membantu. "Apa kalian tidak punya malu dan hanya akan melihat saja?" beberapa orang akhirnya membantu menyingkirkan pohon itu dan membuat sang ibu dari anak yang namanya entah siapa itu terbebas.
Anak lelaki itu langsung memeluk ibunya. Menangis, terus menangis sambil memeluk sang ibu. Candy merasakan getaran yang semakin mereda. Gadis itu berkedip beberapa kali dan memperhatikan sekitarnya.
"Benar juga, jangan samakan semua orang denganmu Candy" gadis itu mendesah dan mulai berjalan menuju hotel. Candy ditahan oleh beberapa orang, tentu dengan maksud baik untuk mencegah Candy menantang maut.
"Kau sudah gila? Bagaimana jika ada gempa susulan. Kau mau mati di dalam?" Candy memutar tangan yang menahanya dan berjalan masuk ke dalam hotel. "Yah aku memang gila. Tiba-tiba saja ingin berganti peran dari Hello Kitty jadi Hero" Candy sedikit berlari. Gadis itu langsung menuju tangga darurat dan menaiki tangga dengan cepat.
Samar-samar Candy mendengar tangisan Selena. Suasana hening ini tentu membuat tangisan Selena semakin menggema. Candy yakin wanita itu pasti sudah frustasi dan berpikir akan segera menemui ajalnya.
Semakin lama tebalnya asap semakin menjadi. Candy menutup bibirnya dan semakin berlari menaiki tangga—menuju keberadaan Selena yang semakin terdengar histeris.
Sampai di lantai sembilan, Candy sudah bisa melihat Selena yang terkapar dengan tembok menindih sebagian tubuhnya. Pantas saja Clarisa meninggalkan calon ibu mertuanya sendiri seperti ini. Gadis itu pasti tidak ingin mati hanya untuk sebuah kesetiaan.
"Ryan Sayang. Mami sayang kamu, mami bener-bener sayang kamu" Selena menangis sejadi-jadinya. Mendengar itu Candy berhenti melangkah. "Mami bakal selalu sayang kamu, jangan sedih terlalu lama. Inget mami sesekali yah sayang. Mami bener-bener sayang kamu ja-".
"Maaf menyela anda saat anda membuat surat wasiat, tapi bisa kita pergi dari sini terlebih dahulu?". Candy menatap Selena mengejek. Gadis itu sedikit terganggu saat asap semakin tebal. Melirik ke arah pintu, akhirnya Candy menemukan asal asap itu.
Candy mendesah pelan. Jika semakin lama ditempat ini maka dirinya akan mati. Jika bukan mati karena gempa susulan maka akan mati karena ledakan dari kebakaran. Selena menatap Candy tidak percaya, mungkin berpikir bahwa Candy memang datang untuk menyelamatkannya.
"Jangan salah paham. Saya cuma salah jalan" Candy mencoba mengangkat tembok itu. Berhasil, Selena sempat tidak percaya gadis itu bisa mengangkat beban yang beratnya berkali-kali lipat dari bobot tubuhnya sendiri. Meski itu tidak lama dan membuat Selena kembali menjerit saat menerima beban kembali.
Candy terjatuh. Gadis itu tampak terpejam dengan nafas memburu, perutnya terasa begitu sakit. Luka itu tidak kunjung sembuh dan selalu menghalanginya. Lagipula memang baru beberapa hari sejak dirinya mendapatkan luka pada perutnya. Mustahil dirinya akan baik-baik saja saat mencoba mengangkat beban seberat itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Barbie's Bodyguard
Fiksi Remaja"Kalo bego mah bego ajah. Ga usah sok pinter sampe manfaatin orang sana-sini. Dasar sampah" Candy menoleh, murka akan setiap kalimat yang dilontarkan untuknya. Candy menatap Ryan intens, mendekat lalu berjinjit dan menarik kera baju Ryan. Mencium bi...
