BAB 23: MAMA

962 91 8
                                        

BAB 23: MAMA

Suasana pesta terasa begitu asing bagi Candy. Gadis itu merasa bahwa ini bukanlah tempat baginya. Terlepas dari semuanya Candy sadar bahwa dirinya harus menahan segalanya, ia belum bisa pergi dari tempat ini sekarang. Masih ada sesuatu yang harus diurusnya.

Candy berdiri di dekat meja hidangan. Memperhatikan Ryan yang tampak berbincang dengan banyak rekan bisnisnya, begitu pula Selena.

Candy juga melihat sosok Arya di seberang sana yang memperhatikan sambil mengangkat gelas. Tersenyum manis, pria itu datang menghampiri Candy dan membenturkan kecil gelas mereka.

"Sudah lama hem?" Candy tersenyum dan mengangguk. Jantungnya memang sedikit berdebar namun tidak segila saat berada didekat Ryan. Menyadari rasa suka dirinya sendiri terhadap Ryan membuat cara pandang Candy sedikit berubah pada Arya.

Tampaknya Arya hanya sebatas obsesi semata, tidak lebih. "Ada baiknya bapak bergabung dengan yang lain" Arya tersenyum dan bersandar pada tembok, menoleh kecil pada Candy. "Membosankan jika harus terus memakai topeng di hadapan mereka" Candy melirik sekitarnya.

Kemewahan ada dimana-mana, tapi Candy justru semakin tidak nyaman. Inikah yang didamba ibunya sampai tega melakukan semua hal itu terhadap Candy dan ayahnya? Ini juga kah yang membuat Clarisa berubah drastis. Kehidupan seperti ini?.

"Bukankah kehidupan seperti ini yang didambakan setiap orang?" Arya menoleh, menatap tatapan kosong Candy yang lurus ke depan. "Mungkin, tapi kau akan terus mengkhawatirkan posisimu jika kau ada dalam kehidupan semacam ini. Tanganmu akan kotor dan wajahmu akan dipenuhi berbagai macam topeng".

Candy tersenyum kecut. "Bahkan orang yang bergelimah harta juga membutuhkan topeng? Tapi bukankah tangan kalian tidak pernah benar-benar kotor?" Candy menggelengkan kepalanya menatap Arya yang juga menatap Candy serius.

Candy melihat ke arah pintu masuk, dimana Clarisa berjalan disana. Senyuman terukir di bibir Candy saat melihat sosok Clarisa bersama wanita yang tampak lebih tua namun serupa dengannya. Kakinya akan melangkah mendekat namun lengan Arya menahanya.

Pria itu menarik Candy kuat ke arah balkon, tidak memberi kesempatan bagi Candy untuk melawan. Arya melepas kekangan tanganya pada Candy, jelas Candy menatapnya tidak suka. "Ga seharusnya kamu disini" Candy melihat Arya yang tidak pernah dilihatnya.

"Pak maaf saya permisi" Candy akan beranjak namun lagi-lagi Arya menahannya kuat. Candy menghempas tangan Arya lebih kuat lagi—bersikap kasar adalah solusi terbaik yang dipikirkan Candy saat ini.

"Candy kamu ga seharusnya ada disini kamu tau?" Candy mendegus pelan. "Saya tau, jadi permisi" Arya kembali menahan. Entah ada apa dengan sikap Arya Candy tidak lagi mengerti.

Pria itu tiba-tiba menghempas kuat tubuh Candy ke tembok. "Maaf tapi saya ga akan biarin kamu nyakitin Clarisa atau tante Camela" Candy menatap Arya langsung pada matanya. Melihat sosok yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

"Wah, bapak tau siapa saya?" Arya tersenyum dengan wajah ramahnya, wajah yang tidak pernah Candy bayangkan akan terlihat tidak enak untuk dilihat. "Candy Syam Bie, adik bungsu Clarisa atau yang kamu kenal Syella" Candy ikut tersenyum.

"Kalau begitu bapak tau semuanya kan?" Arya sedikit menghela nafas dan mengangguk. Candy menarik lengan Arya, memutarnya—mengunci—membalik keadaan sampai pria itu sedikit meringis kesakitan. "Harusnya bapak juga tau kalo saya bisa lakuin hal ini".

Candy melihat sekitarnya, sedikit bersyukur karena tempat ini sepi. Jika ada satu orang saja yang melihat maka akan timbul masalah besar. "Kamu ga bisa bales dendam hanya karena mamah sama kakak kamu punya kehidupan yang baik". Candy memiringkan kepalanya dan tersenyum kecil.

Barbie's BodyguardCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang