BAB 25: Cara Terakhir
Candy mengendurkan ikatan pada sang mamah, menatap mamanya dengan senyuman manis. "Semua pelayan mamah ga bisa nolong, semuanya udah aku buat tidur. Sekarang tinggal mamah sama Clarisa yang masih sadar, mungkin sebentar lagi bakal ga sadar juga sih" Candy kembali tersenyum. Membuat Syahlena kian menangis meraung.
Candy bangkit berdiri memperhatikan tubuh mamanya yang sudah diikat dan dimasukan ke dalam bak mandi mewah nan besar. "Mamah harus mandi, aku baca katanya ratu Countess Elizabeth Bathory mandi darah biar awet muda dan cantik abadi. Mamah tenang aja aku bakal buat mamah awet muda, buat mamah hidup lebih lama meski kemungkinan besar mamah bakal gila" Candy kian tertawa dengan perkataannya sendiri.
"Bak mandinya gede banget mungkin darah satu orang ga bakal bikin penuh selain darah Syella ah maksud aku Clarisa mamah mau darah siapa lagi? Mamah suka bangsawan kan? Gimana kalo darah Mr. Smit?" Candy mengelus lembut rambut mamanya. Wanita yang ingin dibuat gila olehnya. Melihat bagaimana Clarisa meninggalkan mamaya begitu saja membuat Candy berpikir tidak akan mengasikan jika membunuh keduanya tanpa ada skenario apapun. Candy ingin membuat mamahnya mengingat semua perbuatan kejinya dulu dan perbuatan keji Candy saat ini. Candy ingin membagi kegilaannya pada mamanya sendiri. Mengutarakan beban dan rasa sakit yang dideritanya selama ini karena ulah mamanya.
"Sayang aku cuma bisa bunuh dua orang kalo aku ga terkekang aku bakal banjiri kolam mewah mamah ini, ngebuat mamah makin awet muda dan cantik juga hidup panjang buat nikmati harta berlimpah mamah ini, harta yang selalu mamah damba bahkan rela kehilangan siapapun demi semuanya" Candy memiringkan kepalanya dan duduk di tepian kolam mandi menatap sang mami kian sendu.
Candy melepas penutup mulut Syahlena dan menatap wanita itu kian dalam. "Aku ngebuat kesepakatan. Aku bunuh satu orang aku bakal bikin ka Shalman mati bunuh diri, aku bunuh dua orang ka Shalman bakal buat surat wasiat, buat ayah bunuh diri kalo aku bunuh orang kedua dengan kata lain di dunia ini mamah bakal kehilangan Clarisa yang mamah sayang, yang sekarang lagi sembunyi, Mr. Smit, ka Shalman sama ayah aku" Candy menyentuh rambut mamahnya lembut lalu tersenyum kian dalam.
"Aku udah mutusin ga akan bunuh mamah dan aku ngegantiin tempat mamah sama suami mamah yang sekarang. Meski aku mau bunuh kalian bertiga, tapi aku ga mau bunuh orang untuk yang ketiga kalinya, karena aku ga mau kehilangan orang ketiga, jadi mamah harus bersikap baik dan jangan ngebuat aku tanpa sadar bunuh mamah" .
"Aku mau mamah nikmatin harta mamah ini, lagian kalo suami mamah sama Clarisa mati semuanya bakal jadi milik mamah seorang. Aku baik kan?" Syahlena menggeleng, mulai menangis meraung.
Dirinya sendiri yang menciptakan monster di hadapannya dirinya sendiri juga yang tidak mampu menghadapi Candy—monster yang telah dibentuknya sendiri. Syahlena menunduk—tidak mampu mengatakan apapun—tahu betul perkataannya tidak akan membuahkan hasil apapun pada keadaan saat ini. Tahu betul suara yang lolos dari bibirnya hanya akan memperkeruh suasana.
Candy masih memandangi mamanya, tidak memungkiri rindu akan sosok yang kini akan dibuat gila olehnya. "Bisa kasih tau alasan awal mamah ngebuat mamah mati? Terus mayat siapa yang waktu itu ada di rumah kita? Aku penasaran" Syahlena menatap Candy masih dengan isak tangisnya yang semakin dalam.
"Ceritapun nggak akan mengubah apapun kan?" Candy mengangguk namun masih menatap Syahlena penasaran. "Clarisa nggak sengaja ngelakuin nya, Clarisa nggak sengaja bunuh wanita yang dia kira pencuri yang masuk rumah. Mamah nggak ada pilihan, dia masih tetangga kita dia ternyata masuk rumah buat nganterin barang pinjaman dia sama mamah. Mamah ga ada pilihan yang mamah lakuin waktu itu cuma bakar mayat itu terus ngebuat dna mamah ada di mayat yang sudah hangus itu. Pergi dari rumah—ngebuat rumah seolah-olah abis terjadi pertengkaran hebat" Candy masih memperhatikan, diam dan mendengarkan semuanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Barbie's Bodyguard
Fiksi Remaja"Kalo bego mah bego ajah. Ga usah sok pinter sampe manfaatin orang sana-sini. Dasar sampah" Candy menoleh, murka akan setiap kalimat yang dilontarkan untuknya. Candy menatap Ryan intens, mendekat lalu berjinjit dan menarik kera baju Ryan. Mencium bi...
