SPECIAL BAB 22 : Zein & Candy: Dua Malaikat Maut

1K 81 2
                                        

Zein & Candy

Dua Malaikat Maut

Salsa tidak tau sudah berapa kali dirinya mendesah, semuanya benar-benar tidak berjalan lancar. Adik Bianca memang memberikan yang mereka butuhkan tepat waktu tapi entah mengapa mereka terjebak di jalanan selama tiga jam karena terjadi kecelakaan dan jalan mengalami sedikit perbaikan.

Begitu sampai airport mereka sudah tertinggal pesawat dan bisa mengikuti penerbangan keesokan paginya. Benar-benar hari yang sial, seolah mereka memang tidak diperbolehkan datang ke tempat tujuan mereka.

"Tampi Sa, kenapa Bos Candy ga inget apapun sesuai kata kamu, kenapa Clarisa yang sebenarnya Syella bisa jadi penyelamat?" Salsa tersenyum dan mendesah pelan. Ketiganya yang duduk sembarangan di pinggiran mengundang perhatian orang yang berlalu lalang.

"Clarisa datang ke rumah sakit buat mastiin karena dia denger kabar kalo Ryan baik-baik aja. Terus Ryan yang ternyata ga inget apapun nganggep Clarisa ga asing akhirnya Clarisa bilang kalo dia yang bantuin Ryan lolos. Sejak itu Clarisa dan ibunya hidup damai tentram sesuai apa yang mereka harapin, bahkan ibu Candy menikah sama Mr. Smit entah dengan cara apa" Bianca mendesir mendengar penuturan Salsa.

"Ngancurin suami dan anak demi harta, ga heran Candy jadi sakit jiwa"  Bianca tanpa sadar selalu mengepal kuat tangannya setiap mendengar semua yang Salsa katakan. Benar-benar hancur, Bianca sendiri tidak akan tahu dirinya akan bertahan atau tidak jika menjadi Candy.

Dalam sekejap menjadi pembunuh, penculik yang kejiwaannya dipertanyakan. Mengikuti rehabilitasi sejak usianya masih begitu kecil. Setiap liburan sekolah harus masuk rumah sakit jiwa untuk terapi dan semacamnya, Candy hanya terlalu pandai menutup semuanya sampai tidak ada seorangpun yang sadar sebesar apa bebannya.

"Kenapa hasil tes kejiwaan Candy positif menyimpang? Apa dipalsuin?" Lola kembali bertanya. Salsa menggeleng pelan. "Ibu sama kakak Candy belum cukup punya kuasa saat itu, Candy emang punya pola pikir beda sama kita sejak kejadian itu. Yang dipikirin cuma kepuasan nyiksa dua orang paling dibencinya, Candy selalu inget semua rasa sakitnya, rasa dimana dia diiket dan dimasukin ke dalam sumur saat dipaksa buat ngebunuh Ryan. Semuanya dia inget—semuanya dan itu yang ngebuat dia bertahan" Salsa mendesah saat merasa emosinya ikut terpancing.

"Tanpa dendam, dia udah nyerah buat hidup sedari lama. Topeng dia terlalu sempurna, selalu bisa menipu semua orang termasuk gue". Bianca mengelus lengan Salsa menenangkan. Lola bangkit, "Aku beli minum yah". Salsa dan Bianca mengangguk, Lola langsung pergi setelahnya. "Mungkin ga Candy bunuh Ryan kalo tau siapa Ryan sebenarnya?" Salsa mengangguk.

"Kalo Ryan dateng saat itu, Candy ga akan jadi pembunuh ibunya yang sekarang hidup enak, Candy juga ga akan jadi penculik gila yang haus akan darah" Bianca menunduk tampak berpikir. "Kalo dia beneran bunuh Ryan, lo bakal apa?" Salsa menoleh dan tersenyum kecil, "Lo udah tau jawaban gue Bianca".

*          *          *

Pertemuan yang memakan cukup banyak waktu karena kehadiran sosok yang tidak terduga akhirnya berakhir.

Seluruh pemimpin dari berbagai perusahaan keluar ruangan dimana Kaelyn dan Ryan menjadi yang terakhir—kedua nya masih berdiam diri di posisi mereka. Kaelyn masih belum beranjak hingga sekretarisnya juga masih berdiam di posisinya, begitu pula Candy, masih terdiam karena Ryan juga belum beranjak.

"Kau ingin berbicara?" Kaelyn akhirnya mulai berbicara lebih dulu, Ryan tampak bangkit dan semakin mendekat ke arah Kaelyn. Ryan sendiri memang mengenal Kaelyn sejak dirinya masih kecil, dan sosok yang kini berada di hadapannya seolah bukanlah sosok yang pernah ia kenal.

Barbie's BodyguardCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang