BAB 19: Cemburu Cinta

1K 87 0
                                        

Cemburu Cinta

Ryan menekan tombol hotel terus menerus sampai pintu hotel dibuka. Menampakan wajah terkejut Salsa yang tampak tidak senang melihat Ryan di hadapannya. "Mana Candy?" Tidak mau basa-basi, Ryan langsung menanyakan hal tepat sasaran itu.

"Candy keluar sama Rafael, Candy hutang satu hari kencan makannya dia bayar hari ini, pas Rafael baru dateng pagi tadi" Bianca seenaknya muncul dan memperkeruh suasana, Ryan melirik jam tangannya. Melihat jarum jam yang sudah mengarah pada pukul sebelas malam.

Gadis itu tidak mengangkat teleponnya, membaca pesan pun tidak. Benar-benar kurang ajar, tampaknya memang enggan diganggu Ryan. "Rafael itu anak baik-baik dia ga bakal macem-macem sama Candy, lagian Candy bukan tipe orang bisa dimacem-macemin sembarangan orang" Salsa menghela nafas.

Pria itu akhirnya melangkah pergi namun entah mengapa masih merasa tidak tenang. Padahal seperti yang dikatakan Salsa, Candy bukanlah tipe orang yang harus dikhawatirkan. Sama sekali bukan.

Ryan menggelengkan kepalanya dan langsung masuk ke mobil. Memutuskan kembali sebelum akhirnya menghubungi seseorang. "Lacak hp Candy sekarang" Ryan mendesah pelan—memutar mobilnya. Pria itu membelah jalanan di malam dingin nan mulai sunyi. Ryan menggerutu ketidaktenangan dalam dirinya, padahal perasaan itu sama sekali tidak berguna.

Mobil Ryan berhenti pada salah satu tempat karoke. Pria itu seenaknya membuka setiap pintu karaoke—menerima sumpah serapah dari setiap orang yang diganggunya. Sampai akhirnya tanganya mengepal menyaksikan hal yang tidak pernah diduga.

Candy tampak terlelap dengan sebagian pakaian yang sudah menanggalkan tubuhnya, menyisakan celana pendek dan bra gadis itu. Pria yang semula tengah mencium Candy menoleh marah pada Ryan namun langsung menerima hantaman keras.

Ryan terus memukul Rafael tanpa ragu, membuat luka separah mungkin yang dirinya bisa. Ryan masih tidak ingin berhenti, tangannya bahkan sudah berdarah karena hantaman yang terlalu keras. Rafael sendiri tidak sempat balas melawan karena Ryan terlalu brutal. Tidak memberi cela dan kesempatan untuk Rafael mengambil kesempatan. Wajah Rafael sendiri sudah babak belur saat ini. Pria itu sudah tidak bisa bergerak namun Ryan masih terus memukulnya.

Pria itu hanya tidak tahu caranya berhenti. Kemarahannya masih begitu memuncak sampai tangannya tidak mau berhenti.

Brukkk

"AH" Candy tampaknya terjatuh dari sofa. Gadis yang kehilangan kesadaran itu menjerit pelan namun masih belum membuka matanya. Ryan menoleh, baru tersadar akan apa yang dilakukannya.

"Jangan berani-berani muncul di hadapan gue atau Candy. Ngerti lo berengsek". Ryan bangkit—mengangkat Candy ke atas sofa. Ryan membuka jasnya dan memakaikannya pada Candy. Mendesah pelan saat melihat Candy saat ini.

Tanpa pikir panjang Ryan membawa Candy, membawa gadis itu ke rumah sakit. Tepatnya ke tempat ibunya sendiri di rawat.

Selena mengerjap dua kali saat Ryan datang dengan wajah murka dan Candy dalam dekapanya. "Sayang ada apa?" Ryan menidurkan Candy di sofa. "Tolong pakein dia baju, kalo mami ga mau aku bisa minta perawat" Selena masih menangkap kemurkaan dalam raut wajah Ryan.

"Mami bakal pakein. Kamu panggil dokter aja buat periksa dia" Ryan mengangguk dan kembali keluar ruangan. Rumah sakit sangat sepi saat di malam hari, mungkin lebih mudah meminta pemeriksaan pada dokter yang bertugas.

Ryan terhenti—menatap tangannya yang cukup penuh darah. Mendesah pelan—Ryan berbalik menuju toilet—membersihkan dirinya sendiri. Raut wajah Ryan masih semurka itu, Ryan beberapa kali mencuci wajahnya—menatap dirinya sendiri dari pantulan cermin.

Barbie's BodyguardCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang