KM 8

13.4K 741 8
                                        

Alhamdulillah masalahnya udah selesai dan udah bisa apdate lagi. Bab 8 nya udah bisa di apdate

Makasih buat supportnya

Biasakan vote sebelum baca
Happy reading

.
.
.

Tidak semua rasa sayang dan cinta datangnya diawal. Terkadang rasa itu baru hadir saat si dia udah menjauh atau bahkan menghilang entah kemana

*


Pernikahan antara Rian dan Aisyah semakin hari semakin mendekat

Persiapan acara dengan segala macam bibit bebet dan bobotnya sudah hampir rampung

Kira-kira seminggu lagi pernikahan itu akan dilaksanakan. Pernikahan yang sangat besar. Bagaimana tidak besar acara pernikahan itu dilakukan oleh putra tunggal dari pengusaha yang sangat sukses bernama Ramdan. Dan juga diacara itu Ramdan akan memperkenalkan Rian, putranya itu sebagai penerusnya

Ramdan, Fidya dan Aisyah sangat bahagia dengan pernikahan yang akan dilangsungkan itu. Sedangkan Rian, ia sama sekali tidak ambil pusing dengan hal-hal yang berbau pernikahan itu

Bahkan Rian lebih memilih menghabiskan waktunya bersama Jenita dari pada membantu persiapan pernikahannya

Seperti saat ini Rian dan Jenita sedang melakukan makan siang bersama di salah satu kafe

"Pelayan" jenita memanggil salah satu pelayan yang berjalan tidak jauh darinya

Setelah mencatat pesanan Rian dan juga Jenita, pelayan itu mulai berjalan pergi untuk mengambil pesanan keduanya

"Rian" panggil Jenita menatap lekat wajah tampan Rian

"Hmm" Rian bergumam karena tengah membalas pesan dari sekretarisnya

"Taruh dulu ponselnya. Aku mau bicara nih" Jenita berucap tegas

Rian menghembuskan nafas berat lalu meletakkan ponselnya diatas meja. Ditatapnya wajah Jenita yang cemberut

"Katanya mau makan sama aku" Jenita berucap masih dengan cemberut

"Iya iya. Ada apa?" tanya rian yang mengerti maksud dan tujuan Jenita jika seperti itu

Senyum terbit dibibir jenita "Rian..kamu serius bakalan menikah?" tanya Jenita pelan

"Iya. Kan sudah kamu lihat sendiri undangannya" ucap Rian mengacak rambut Jenita pelan

Jenita menunduk dalam diam membuat Rian tersenyum kecil "apa yang kamu takutkan?" tanya Rian menggenggam tangan Jenita yang berada diatas meja

"Aku takut kamu nanti malah suka sama istri kamu itu dan melupakanku" ucap Jenita perlahan mengangkat kepalanya dan melihat kearah wajah Rian

"Itu tidak akan pernah terjadi. Percayalah, aku hanya mencintaimu dan akan terus seperti itu" genggaman tangannya pada tangan Jenita makin mengerat

Pelayan datang dan meletakkan makanan yang mereka pesan diatas meja mereka. Pelayan itupun kembali melangkah menjauh

"Kamu pasti lapar. Makanlah!" ucap Rian diangguki Jenita

Keduanya makan dalam keheningan. Rian sesekali melihat kearah Jenita yang hanya diam tidak seperti biasanya

Keikhlasan Melepaskan (Risya)(COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang