KM 15

20.7K 948 11
                                        

Lanjut chapter selanjutnya. Semoga suka

Terima kasih bagi yang udah baca dan ngedukung ceritaku

Maaf bila typo bertebaran

Biasakan vote sebelum baca
Happy reading

.
.
.


Rian membalikkan badannya sehingga membelakangi kedua orang tuanya. Tidak dapat menahan lagi, air matanya akhirnya menetes satu persatu. Perkataan kasarnya pada istrinya terus berputar dalam pikirannya

'Kamu dimana sayang. Mas minta maaf, mas mohon kembali' batin Rian, tubuhnya mulai bergetar karena tangisnya tanpa suara

Seseorang memeluknya dari belakang dengan sangat erat "jangan sakiti diri kamu sayang" ucap Fidya tepat di telinga Rian

Tubuh Rian semakin bergetar air matanya terus saja mengalir. Fidya mengusap kepala putranya dengan sayang

Fidya membantu Rian untuk bangun, kemudian menarik Rian lagi kedalam pelukannya

Rian memeluk tubuh bundanya semakin erat. Air matanya terus mengalir membasahi pipinya

"Cerita sama bunda kalau itu bisa meringankan beban dalam pikiranmu nak" bunda Fidya terus mengelus punggung Rian dengan sayang

"B..bunda Rian salah" ucap Rian dengan sangat pelan

"R..Rian salah. Rian bodoh bunda, sangat bodoh" Fidya terus mengusap punggung Rian

Cerita itu pun mulai mengalir dengan lancar dari mulut Rian. Mulai dari awal mereka menikah sampai kejadian ditangga kemarin

"Rian bodoh bunda. Padahal Rian sudah janji sama Aisyah kalau Rian tidak akan pernah nyakitin dia lagi. Aisyah juga bilang dia akan pergi kalau aku yang suruh dia pergi, dan kemarin Rian yang nyuruh dia buat pergi bunda" Rian mengungkapkan semuanya. Ia tidak peduli dengan kata orang bahwa laki-laki itu tidak akan menangis

Rian merasa sangat rapuh. Ia telah membuat istri dan calon anaknya pergi entah kemana

"Aisyah mungkin tidak akan pernah maafin Rian.Aisyah pasti benci sama Rian. Seandainya kemarin Rian dengarin penjelasan dari Aisyah, ini tidak akan terjadi, Aisyah tidak akan pergi" Rian terus bercerita

Ramdan sangat menyayangkan kebodohan putranya tapi ia akan membantu putranya menemukan istri putranya. Ramdan mengeluarkan ponselnya dari dalam sakunya sebelum melangkah menjauh

Ramdan mencari nomor kontak seorang untuk dihubungi. Di tempelkannya ponselnya ditelinga, menunggu sambungannya terangkat

"Kerahkan beberapa orang untuk mencari keberadaan menantu saya sekarang juga" ucap Ramdan langsung

"Baik bos" Ramdan langsung mematikan teleponnya setelah mendengar sahutan dari seberang. Disaat yang sama Fidya berjalan mendekat kearahnya

"Mas ngapain?" tanya Fidya

"Mas habis nelpon" Ramdan melihat kearah putranya yang sudah tertidur

"Nelpon siapa?" tanya Fidya lagi

"Nelpon anak mas" ucap Ramdan bercanda

"Mas punya anak lain?" tanya Fidya. Ramdan mengangguk

"Mas selingkuh" wajah Fidya sudah merah padam

Keikhlasan Melepaskan (Risya)(COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang