Chapter 2 : Dangerous Smile

1.1K 126 9
                                        

Kenapa ada cewek yang ga pegel senyum terus sih?

-Sean Rawindra-

**********

Thea masuk ke dalam ruang serbaguna dengan wajah berseri. Meskipun wajah anak-anak lainnya di dalam ruangan itu tampak kusut. Tentu saja. Karena mereka semua yang ada di dalam kepanitiaan ini dipilih paksa oleh para guru. Tapi berbeda dengan Thea yang selalu berpikir positif, dia tidak kusut sama sekali. Dia malah senang bisa mengenal banyak orang dalam kesempatan kali ini. Karena dia memang berniat memperluas pergaulannya, terutama dengan anak kelas X dan XII.

Mata Thea seketika langsung menemukan sosok Sean. Wajahnya yang berseri perlahan berubah. Oh ya, dia lupa dengan persyaratan yang diajukan Sean. Katanya Thea tidak boleh banyak tersenyum dan tebar pesona. Mulut gadis itu terbuka, hendak memanggil Sean yang masih sibuk mengutak-atik kamera di tangannya, tidak menyadari kehadiranya di pintu masuk. Tapi mulut itu kembali tertutup, dia kembali teringat janjinya untuk tidak berteriak dari radius lima meter.

Cih, dia baru sadar syarat Sean terlalu banyak.

Lagipula kenapa juga dia menurut?

Thea menutup pintu ruangan itu dan langsung bergerak ke pojok ruangan menghampiri Sean. Suara bel kecil dari ranselnya yang bergoyang seiring langkah kakinya membuat Sean mendongak. Laki-laki itu menatap Thea sejenak tanpa reaksi kemudian mengerjap ketika melihat Thea duduk di kursi sebelahnya yang kosong. "Kosong 'kan?" tanyanya sambil meletakkan ranselnya. "Hai, beruang kutub."

"Lo ga bisa berenti manggil gua dengan sebutan itu?" Sean kembali fokus membersihkan lensa kamera kesayangannya.

"Bisa sih, tapi gue ga mau," Thea menopang dagunya di depan Sean, membuat laki-laki itu mendelik. Thea menanggapinya dengan senyum termanisnya. "Soalnya beruang kutub itu 'kan udah kaya panggilan sayang gue ke lo."

Sean menaikkan sebelah alisnya kemudian menggeleng pelan. Sepertinya dia baru saja berpikir kalau Thea itu punya penyakit mental. Thea berdeham pelan, membuat Sean mau tidak mau menengok lagi ke arahnya. "Apa lagi?" tanya Sean dingin.

"Kita udah sepakat buat baikan," Thea memiringkan kepalanya. "Tapi kenapa lo masih dingin sama gue?"

"Memang gue begini," Sean meletakkan kameranya, kali ini menatap Thea dengan serius dan sedikit mendekatkan wajahnya ke jarak duduk mereka yang sudah cukup dekat. "Lo maunya gue kaya begini? Fokus ngeliatin lo?"

Hal itu membuat Thea spontan memundurkan wajahnya. "Jangan serang mendadak gitu dong, Sean. Bikin kaget aja."

"Gue juga kaget Sean bisa begitu juga sama cewek ya."

Kali ini kepala Sean dan Thea spontan menoleh ke arah yang sama. Mereka melihat sosok seorang laki-laki yang sedang senyum-senyum sendiri duduk di depan mereka. Hal itu membuat Thea mengernyit. Sepertinya dia tidak mengenal sosok laki-laki itu. Mungkin dia anak IPA? Thea menoleh pada Sean yang sedang menatap laki-laki itu sambil mendengus. Sean menggeleng pelan sambil menyentuh kameranya kembali.

"Woi, tega amat gue dikacangin!" protes laki-laki itu tidak terima pada Sean.

"Satu lagi manusia berisik," gumam Sean sambil menggeleng pelan.

"Lo ga mau kenalin gue sama cewek ini?" tanya laki-laki itu pada Sean. Kali ini pertanyaan itu sukses membuat Sean kembali menatap laki-laki itu. "Atau jangan-jangan dia gebetan lo? Atau malah pacar yang lo sembunyiin ya? Ngaku lo!"

Thea mengerjap. "Gue bukan pacar atau gebetan Sean."

"Oh?" laki-laki itu langsung mengulurkan tangannya di depan Thea. "Althea Theodora 'kan? Si kapten cheers yang setiap hari Selasa selalu paling semangat latihan. Gue tahu sih cewek kaya lo mana mau jadi pacar Sean yang sedingin es begini."

Sean (FIN)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang