Chapter 6 : The Dark Side

967 108 4
                                        

Lo merasa kenal gue? Pikir lagi.

-Sean Rawindra-

**********

Mood Sean sedang baik siang itu. Tentu saja dia tidak menunjukkannya terang-terangan dengan senyuman. Tapi dengan wajah datar dan dinginnya seperti biasa. Dia memesan semangkuk mie ayam dan kembali ke mejanya bersama dengan grupnya. Klein, seperti biasa, sedang tertawa terpingkal-pingkal dengan Robin, membicarakan sesuatu tentang gadis yang Sean yakin tidak ingin dia dengar. Ben sedang sibuk dengan buku Matematikanya sambil menyantap batagor kesukaannya, katanya akan ada olimpiade lagi minggu depan.

Mata Sean tertuju pada Ian yang sedang mengunyah ketopraknya dengan kalem. Tidak seperti biasanya, hari ini dia terlihat murung. Matanya tertuju pada ponselnya sambil sesekali menghela napas. Ada apa dengan laki-laki itu? Padahal baru kemarin dia mengejek Thea dan Sean dengan semangat. Sean akhirnya memutuskan untuk duduk di samping laki-laki itu sambil menuang saus di atas bakminya.

"Putus?" tebak Sean.

"Bukan, ketopraknya ga enak," Ian menggumam pelan sambil memakan ketopraknya. "Ya bukanlah! Gue lagi kesel nih, lagi deketin satu cewe yang susah banget didapetin. Padahal dia manis, tapi kenapa susah banget dapetinnya? Chat gue bahkan ga dibalas dari minggu lalu."

"Kenapa susah-susah? Kan stok cewek lo banyak."

"Yee, menantang ini, susah didapetin."

"Susah didapetin ato lo yang naksir?"

Ian mendelik ke arah Sean. Tampaknya Sean benar. Bibir Sean tersenyum tipis sambil mulai menyantap mie ayamnya. Ian menghela napasnya. "Gue benci ngakuin ini, tapi kayaknya memang cewek ini ga suka sama gue. Mungkin tipe dia lebih ke Ben. Soalnya dia sendiri pintar dan cantik. Makanya rayuan kayak apa juga ga mempan, mana mau ya cewek kaya gitu sama gue yang bego gini?"

"Kelas berapa?" tanya Sean penasaran.

"Kelas sepuluh," Ian nyengir. "Gemesin."

Sean mengangguk pelan.

Ian menghela napas untuk kesekian kalinya. Beberapa saat kemudian dia menengok ke arah Sean dengan mata berbinar. "Lo 'kan berhasil deketin Thea ya. Kira-kira lo ada saran buat gue? Lo tuh ya, diem-diem carinya yang cantik. Saingan sama Klein."

"Gue sama Thea ga gitu."

"Jelas-jelas begitu."

Sean mendengus. "Dia ga mikir gitu," gumamnya pelan.

"Oh, tapi lo iya?" bisik Ian dengan senyuman lebar. Mata Ian melirik Klein yang masih tertawa geli dengan Robin. "Susah sih, saingan lo berat."

Sean mendelik ke arah Ian. "Lo butuh saran 'kan?"

Ian mengangguk antusias.

"Jangan deketin cewek lain kalo lo mau kejar cewek ini."

"Hah? Maksud lo?"

"Jangan godain cewek lain," Sean menyuap kembali mie ayam ke dalam mulutnya. "Fokusin perhatian lo sama cewek ini. Jangan ajak cewek lain kencan atau jalan-jalan. Jangan godain cewek lain. Itu caranya."

Detik berikutnya Ian tertawa terpingkal-pingkal. Bahkan suara tawanya melebihi suara tawa Klein yang kini terdiam memperhatikan Ian tertawa sendiri. Tangan Ian menepuk-nepuk pundak Sean sambil berusaha menghentikan tawanya. Sebelah tangannya lagi memeluk perutnya yang sepertinya sakit karena dia terlalu banyak tertawa. Sementara Sean hanya diam sambil menyantap mie ayamnya seperti biasa, seperti tidak ada yang terjadi. Ian berhenti tertawa dan menatap Sean dengan senyuman geli.

Sean (FIN)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang