Hubungan yang baik itu yang membuat dua orang sama-sama bersikap dewasa.
-Althea Theodora-
**********
Thea merasa tubuhnya sangat lemas. Rasanya sangat sulit untuk menggerakan tangannya. Terutama karena tangannya terasa seperti digenggam. Matanya mengerjap pelan, berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk. Dia menoleh ke arah tangannya dan melihat tangannya benar-benar ada dalam genggaman seseorang. Pandangannya masih kabur ketika dia menoleh ke arah orang yang menggenggamnya. Yang pasti sekarang orang itu sedang duduk di hadapannya, menatapnya dalam diam.
Tidak mungkin itu Sean 'kan?
Thea pasti sedang bermimpi. Dia hendak memejamkan matanya lagi ketika dia merasakan pipinya disentuh. Matanya kembali terbuka dan dia melihat laki-laki yang sejak tadi menatapnya dalam diam. Sean. Itu benar-benar Sean. Sebelah tangan Thea bahkan terangkat untuk menyentuh tangan Sean yang sedang menyentuh pipinya. Hanya untuk meyakinkan kalau laki-laki itu memang pacarnya. Bukan halusinasinya saja.
"Sean?" gumam Thea pelan dan serak. Kenapa dia jadi lemah begini sih?
"Iya, ini aku," Sean tersenyum tipis. Dia melepas tangan Thea sebentar dan meraih sesuatu dari meja kecil di samping ranjang. "Nih, minum obatnya dulu."
Thea mendudukan tubuhnya pelan-pelan. Dia meringis ketika merasa kepalanya pusing. Ah, dia baru ingat kalau dia tadi pingsan di lapangan. Mendadak kepalanya terasa sangat pusing, mungkin karena dia berdiri di bawah matahari terlalu lama. Terlebih lagi tubuhnya memang lemas hari ini. Thea meminum obatnya dan baru sadar akan sesuatu. Bagaimana bisa Sean ada di sini? Bukannya seharusnya laki-laki itu masih berada di kelasnya?
"Kok kamu ada di sini?" tanya Thea bingung.
"Tadi aku lihat kamu pingsan dari depan kelas," Sean mengusap tangan Thea dengan ibu jarinya. "Kamu gapapa?"
"Tadi cuma sedikit pusing, terus mendadak aku lemas," Thea terdiam sebentar kemudian menatap Sean sebentar. "Kamu ga kelas?"
"Ga usah dipikirin," Sean bergumam pelan kemudian menatap Thea serius. "Kamu lapar?"
Thea mengernyit. "Kok tau?"
"Makanan kamu ga habis tadi," Sean tersenyum kecil. "Masih pusing kepalanya?"
Thea menggeleng pelan.
"Mau ke kantin? Aku temenin makan."
Thea mengerjap pelan. "Boleh?"
Sean mengangguk. Dia meraih tangan Thea dan menggandengnya. "Yuk."
Gadis itu mengangguk pelan dan bangun dari ranjang UKS. Dia berjalan bersama dengan Sean menuju kantin. Tangannya masih dalam genggaman Sean. Suasana sekolah saat itu sepi karena semua masih sibuk belajar di dalam kelas. "Sean," gumam Thea tiba-tiba.
"Hmm?"
"Aku minta maaf," Thea menggigit bibir. "Kemarin aku berlebihan."
"Kita ngomongnya sambil kamu makan ya?" Mereka sudah berada di dalam kantin yang sepi. Sean menyuruh Thea duduk di kursi tengah. "Mau makan apa? Aku pesenin."
"Soto ayam," Thea tampak seperti sedang berpikir. "Sama es milo."
Sean menyipitkan matanya. "Lagi sakit, jangan minum es milo. Nanti aku pesenin teh hangat," gumamnya sambil berjalan untuk memesan makanan. Laki-laki itu kembali ke mejanya dengan membawa sebuah nampan di tangannya.
Sean membeli beberapa potong bakwan goreng dan segelas es teh untuk dirinya sendiri. Dia meletakkan soto ayam dan segelas teh hangat di depan Thea. Perut Thea berbunyi pelan dan tanpa ragu dia langsung memulai makan setelah berdoa. Dia bahkan tidak menyadari tatapan Sean sejak tadi masih terarah padanya. Laki-laki itu menggigit bakwannya sambil tersenyum. Merasa bersyukur bahwa nafsu makan Thea sudah kembali seperti semula.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sean (FIN)
Novela Juvenil#1 dalam kategori #ceritaremaja (25/12/2018) (Cerita Pertama dari Sekutu "Lima Jari") Sean Rawindra adalah laki-laki berdarah dingin. Jika diibaratkan jari, maka dia adalah jari telunjuk. Suka memerintah dan selalu bergerak duluan. Meskipun dia tid...
