Naruto menjaga Hinata yang masih belum sadarkan diri. Sudah 8 jam Hinata pingsan setelah pertarungan berdarah. Kegelapan memenuhi gudang yang kini ditempati para shinobi konoha untuk melepas lelah. Hanya sinar remang rembulan yang menembus atap berlubang sebagai sumber cahaya. Mereka ingin mencari kayu bakar namun luka-luka yang diderita tidak memungkinkan untuk berjalan jauh dan sendirian.
Naruto dengan telaten membasuh luka Hinata dan mengoleskan salep luka khas clan Hyuga yang dulu ia terima dari gadis yang kini terbaring lemah dengan luka sekujur tubuh dan cakra yang habis. Tak sedetikpun ia memalingkan pandangannya dari tubuh lemah di depannya. bahkan Naruto belum sempat mengobati luka-lukanya sendiri. Lukanya tak seberapa dengan luka yang dimiliki gadisnya. Air matanya mengalir, tak sanggup melihat orang yang amat ia sayangi tergeletak tak bergerak sedikitpun.
"Sudahlah Naruto, kau harus beristirahat juga. Besok kita akan kembali ke Konoha."
"Apa Hinata bisa bertahan?"
"Tentu. Hinata shinobi yang kuat."Naruto memejamkan matanya sejenak. Kata-kata Kiba membuatnya kembali memiliki harapan. Hinata tidaklah lemah. Tentu ia bisa bertahan. Naruto tak ingin kehilangan Hinata, apapun yang terjadi Hinata harus selamat.
Naruto lalu berbaring di sebelah Hinata. Tubuhnya menyamping dan menatap gadisnya. Dengan hati-hati ia menggenggam tangan Hinata. Ia takut Hinata kesakitan saat tangannya disentuh, namun Naruto sangat ingin menyentuh tangan mungil itu.
Tangannya dingin dan lemah. Denyut nadinya bahkan sangat lemah. Jika orang biasa yang mengalami luka itu, tentu ia tak akan bisa bertahan. Naruto memastikan itu.Tiba-tiba, tangan mungil itu bergerak lemah. Naruto terkejut namun amat senang. Ia langsung terduduk dan memandangi wajah Hinatanya.
"Hinata, kau sudah sadar?"
Perlahan Hinata membuka mata ametystnya. Ia mengedipkan matanya amat lemah. Terkejut saat tangannya digenggam oleh Naruto, ia berusaha menarik namun Naruto menggenggamnya kuat.
Bukan.
Hinata hanya terlalu lemah bahkan hanya untuk menggerakkan tangannya."Apa Hinata sudah sadar Naruto?"
Naruto menjawab pertanyaan Shino dengan anggukan antusias. Matanya berbinar tak lepas dari wajah ayu Hinata. Senyumnya mengembang tulus melihat semangat hidupnya kembali membuka matanya.
Shino, Kiba, dan Akamaru mendekat. Mereka sangat lega teman satu timnya telah sadar. Mereka juga lega melihat Naruto kembali bersemangat.
Pasalnya sejak Hinata tak sadarkan diri, Naruto hanya murung dan tak bergerak dari posisi duduknya di depan Hinata."Bagaimana perasaanmu Hinata?"
"Aku baik-baik saja Shino-kun. Hanya saja seluruh tubuhku rasanya sakit dan aku tak mampu bergerak."
"Itu karna sekujur tubuhmu penuh luka, ttebayo."
"Hee begitu ya. Emm apa aku pingsan sangat lama?"
"Hampir 9 jam Hinata, dan aku bosan melihat Naruto terus murung dan hanya menggumamkan namamu selama itu."
"Oi Kiba diamlah baka!!"
"Kau yang baka Naruto!!"
"Itu memang benar Hinata, jadi jangan pingsan lagi. Melihat Naruto seperti tadi lebih membuatku khawatir daripada melihatmu pingsan."
"Shino!! Kuso.. apa yang kau katakan itu."
"Ck.. Itu benar sekali Hinata"
"Oi Kiba, jangan asal kau!!"
"Hihi.. aku senang bisa melihat kalian lagi teman-teman."Hinata tersenyum amat manis dengan rona merah di pipinya. Ia sangat terharu karena semua teman-temannya sangat menghawatirkan dirinya. Terutama Naruto. Ia juga sangat bahagia merasakan tangan hangat Naruto masih tetap menggenggam tangan mungilnya.
"Ehm.. sampai kapan kau akan menggenggam tangan Hinata itu baka Naruto?"
"Na..nani?"Naruto terlonjak kaget saat melihat tangannya masih menggenggam tangan Hinata, namun ia enggan melepaskan.
Kali ini saja.
Biarkan ia menggenggam tangan mungil pujaan hatinya."Sudahlah Kiba, biarkan mereka!"
Shino lalu berbalik dan menuju tempat istirahatnya, diikuti oleh Kiba dan Akamaru. Tinggallah Naruto dan Hinata berdua.
"Hinata, jangan terluka lagi. Aku sangat khawatir."
Naruto menundukkan kepalanya dan mengeratkan genggaman tangannya pada Hinata. Hinata hanya tersenyum. Hinata ingat, Naruto amat peduli dengan teman-temannya. Sehingga pastilah Naruto sangat menghawatirkannya. Ia hanya berpikir untuk tidak menilai lebih perasaan Naruto padanya.
"Seorang shinobi tentulah terluka Naruto. Apalagi shinobi lemah sepertiku."
"Iie. Kau tidak lemah Hinata. Kau adalah salah satu kunoichi terkuat di Konoha. Bukankah aku pernah mengatakannya padamu?"
"Eh? Kau tidak pernah mengatakan itu Naruto-kun"
"Kau hanya tidak menyadarinya Hinata."Hinata terdiam. Mencerna perkataan Naruto yang membuatnya bingung. Ia lalu teringat cerita yang pernah ia dengar dari Naruto tentang seorang kunoichi kuat di Konoha. Kunoichi yang disukai oleh Narutonya. Namun itu adalah Sakura, bukan dirinya.
Begitukan??
Apa mungkin seseorang yang ada dalam cerita itu adalah dirinya??
Ia menggelengkan kepalanya kuat.
Bukan
Tentu saja bukan.
Naruto tak pernah menyukainya.
Dan ia tak boleh menyalah artikan perasaan Naruto terhadapnya.
Ia takut sakit
Sakit jika perasaan itu salah
Sakit jika Naruto ternyata tak pernah menyukainya."Hinata, maukah kau berjanji padaku?"
"A..apa Naruto-kun?"
"Berjanji untuk tidak terluka demi diriku."
"Aku tidak bisa."
"Kenapa dattebayo?"
"Karena aku ingin selalu bisa melindungi Naruto-kun"
"Melindungiku? Tidak!! Aku yang akan melindungimu Hinata."Hinata terdiam. Hatinya menghangat mendengar penuturan Naruto. Ada seseorang yang ingin melindunginya, dan dia adalah Naruto.
Bahagia.
Itulah yang ia rasakan."Karena kau sangat berharga bagiku, hime."
Deg
Hinata mendongakkan pandangannya menuju biru safir Naruto. Tak ada keraguan dimatanya. Naruto amat tulus saat mengatakan kalimat itu. Air mata mengalir membasahi pipi chubby Hinata. Ia memalingkan wajah memerahnya. Tak ingin Naruto melihatnya menangis.
Malam ini adalah salah satu malam yang paling istimewa bagi Hinata."Karena aku mencintaimu, Hinata"

KAMU SEDANG MEMBACA
my first love
Fanfiction(Disclaimer : naruto milik paman masashi kishimoto🤗) aku mencintai sosok yg tidak mungkin untuk kudapatkan. namun rasa ini terlalu dalam sehingga aku tak mampu menyingkirkannya. naruto-kun akankah kamu memandangku? bukan sebagai seorang gadis yang...