Author pov
Keduanya menuju ichiraku ramen. Dan naruto masih setia menggenggam tangan hinata dan mengajaknya berlari.
Mungkin ia terlalu nyaman dengan tautan tangan itu hingga tak sadar sepanjang perjalanan tangannya begitu erat menggenggam tangan mungil hinata.
Tak dapat lagi digambarkan betapa merahnya wajah hinata, hingga nampak seperti kepiting rebus yang menunggu untuk disantap.
Mungkinkan pertautan itu akan terjalin selamanya?
Seperti apa yang mereka inginkan di dalam hati mereka masing-masing.
Sungguh jika ditanya apakah hinata masih merasa kelaparan saat ini, maka jawabannya tidak. Tidak ada perasaan lain selain bahagia yang dirasakannya saat ini.
Lalu dengan bocah kuning itu,
Mungkin orang-orang akan memandangnya aneh karna sejak tadi cengiran lima jarinya tak kunjung enyah dari wajah berkumis kucing itu.
Inilah kebahagiaan sederhana yang mereka impikan.
"Naruto-kun"
"Ya, hinata"
"A.. ano.. kemana kita akan pergi?"
"Tentu saja ke ichiraku ramen, ttebayo"
"T..tapi.. itu.. sudah terlewat."
"Heh??"
Naruto lalu berhenti mendadak dan membuat hinata hampir menabraknya.
Namun karna sudah pernah mengalami ini sebelumnya, hinata seperti sudah memiliki pengendalian diri dan persiapan yang matang.
Baka naruto :v
"A.. hahaha.. ternyata sudah terlewat ya.. gomenasai. Aku tidak melihatnya, ttebayo."
Naruto menggaruk tengkuknya sebagai pelampiasan rasa malunya.
Dia merasa konyol dihadapan seseorang yang dia sukai.
Hinata terkikik geli dengan kelakuan naruto-kunnya itu.
Sungguh andai sakura yang berada di posisinya, naruto pasti sudah menderita patah tulang di sekujur tubuhnya karna kebodohan akutnya.
Beruntunglah ini hinata.
Putri hyuga yang lembut dan menyukai naruto dengan setulus hati.
Akhirnya mereka berjalan kembali ke kedai ramen favorit naruto itu dengan hinata masih terkikik kecil dan naruto hanya tertawa canggung.
"Selamat datang naruto. Eh? Bersama hinata?"
Sapa ayame yang agak kaget melihat putri ketua klan hyuga datang bersama naruto.
"Hay ayame-nee chan, paman teuchi."
"Ck ck kalian datang bersama? Tidak biasa"
"A.. Ano kebetulan kami bertemu lalu naruto-kun mengajakku kemari karna aku lapar ayame-nee san."
Ayame hanya mengangguk-angguk sambil memperhatikan wajah keduanya yang berseri-seri.
"Mereka lucu sekali. Apa mungkin mereka saling suka? Andai benar, ini akan menjadi sangat menarik. Si pembuat onar bersama putri lemah lembut. Haha".
Ucap ayame dalam hati.
"Paman, aku pesan ramen jumbo spesial dengan topping naruto yang banyak ya. Bagaimana denganmu hinata?"
"Sama dengan naruto-kun saja."
" Baiklah. 2 paman. Jangan lama-lama ya paman, kami sudah kelaparan, ttebayo."
"Haha, ramen akan segera siap naruto."
Teriak paman teuchi dari belakang kedainya.
"Hinata-sama"
Tiba-tiba ada seseorang yang memanggil hinata. Seorang pelayan keluarga hyuga. Dia terlihat agak menyeramkan untuk ukuran pelayan.
Ya, klan hyuga selalu terlihat tegas dan dingin. Seperti hiashi dan neji. Tapi tidak dengan hinata.
Mungkin hanya hinata satu-satunya hyuga yang terlihat berbeda.
"Kou-san"
"Hiashi-sama meminta hinata-sama untuk kembali ke mansion sekarang"
"Eh? Baiklah setelah aku memakan ramennya aku akan pulang kou-san"
"Iie. Hiashi-sama meminta anda pulang sekarang hinata-sama. Sumimasen."
"T.. tapi"
Hinata menunduk dalam. Ingin sekali ia menangis. Ketika sedang bersama mataharinya, seolah mendung langsung datang dan membuat mereka terpisah. Tapi perintah tou-samanya adalah mutlak.
"Baiklah. Gomenasai naruto-kun. Ramenku naruto-kun saja ya yang menghabiskan. Jaa"
Setelah memberikan beberapa keping uang, hinata pulang dengan wajah yang lesu. Diikuti oleh pelayannya.
Naruto hanya terdiam dan melihat hinatanya melangkah menjauh.
Dia tau, pasti tidak menyenangkan menjadi putri klan yang terhormat.
Waktunya pasti selalu dibatasi dan aktivitasnya selalu diatur.
Membosankan sekali.
Dia lalu merasa beruntung menjadi dirinya sekarang.
Meskipun tak memiliki siapapun, namun dia bebas melakukan apapun yang ia suka.
Setiap orang memiliki kepedihan dan kebahagiaan dalam hidupnya.
Meskipun hanya kebahagiaan yang nampak pada orang lain, namun, percayalah ada sesuatu yang tersimpan dalam kehidupan setiap orang.
"Sepertinya aku beruntung ya ayame-nee, tidak memiliki siapapun."
Naruto lalu melanjutkan makannya.
Sekarang dia memiliki 2 porsi ramen jumbo didepan mata.
Tentu saja dia tidak keberatan menghabiskan semuanya.
Namun hatinya yang berat melihat hinatanya pergi. Ditengah kebersamaan mereka.
***
Hari ini tidak ada misi untuk naruto, dia hanya berjalan-jalan keliling desa.
Lalu kemudian dia melihat sakura yang sibuk membawa beberapa buku medis milik tsunade.
"Sakura-chan"
"Hay, naruto. Baguslah kau datang. Ini"
Sakura memindahkan tumpukan buku-buku yang menggunung dari tangannya ke tangan naruto.
"Huhu.. banyak sekali buku ini, ttebayo."
"Tentu saja. Dan aku akan mempelajari semuanya mulai sekarang."
"Wheee?? Kau bercanda kan sakura-chan? Memangnya kau bisa? Haha"
"Narutooo"
Pletak
"Ittaii.. kau tega sekali sakura-chan"
Seperti biasa, kepala naruto menjadi sasaran empuk sakura yang marah.
"Oh ya, naruto. Kudengar kemarin kau dan hinata bersama di kedai ramen. Hihi. Kalian berkencan ya?"
"Na.. na.. nani? Ti..tidak. maksudku iya kami bersama tapi bukan kencan, ttebayo"
"Hahaha kenapa kau jadi gugup naruto? Kau menyukai hinata kan?"
"Eh? Ti..tidak."
"Hontou?"
"Tentu saja, ttebayo"
"Kalau begitu jika hinata bersama gaara kau tidak marah?
Deg
"Apa maksudmu sakura-chan?"
"Ya. Aku melihat hinata dan gaara bersama. Mereka di taman konoha."
"Apa kau serius sakura-chan?"
Tanya naruto lesu. Dia yang awalnya semangat dengan senyum lima jarinya kini berubah mendung dan menundukan kepala. Bahkan dia berhenti berjalan karena begitu terkejutnya.
Sakura mengambil semua buku dari naruto.
"Pergilah! Jangan sampai kau menyesal nanti"
Naruto memandang sakura.
Sakura hanya tersenyum seolah berkata 'aku tau semuanya dan sekarang pergilah ambil apa yang ingin kau miliki'
Dengan tergesa naruto berlari menuju taman konoha.
Pemandangan yang ia lihat sekarang benar-benar membuatnya sakit.
Dia sangat sakit hingga tak mampu berdiri dengan tegap. Bersandar pada pohon sambil memegang dadanya, naruto hanya bermonolog dalam hatinya.
"Apa ini akhir dari semuanya hinata? Apa akhirnya kau akan bersama kawanku sendiri-gaara?
Padahal aku kira kemarin kita baru saja mulai dekat. Tapi sekarang aku merasa jurang yang sangat dalam memisahkan kita.
Kenapa takdirku begitu menyedihkan. Kehilangan sebelum benar-benar memiliki. Kalah sebelum menyatakan berperang."
Naruto tersenyum kecut dan menangis dalam hati.
KAMU SEDANG MEMBACA
my first love
Fanfiction(Disclaimer : naruto milik paman masashi kishimoto🤗) aku mencintai sosok yg tidak mungkin untuk kudapatkan. namun rasa ini terlalu dalam sehingga aku tak mampu menyingkirkannya. naruto-kun akankah kamu memandangku? bukan sebagai seorang gadis yang...
