22. Keputusan Renata

96 4 0
                                        

~Kaca Yang Sudah Pecah Walaupun Bisa Di Perbaiki Pasti Masih Akan Terlihat Retak~

                         ****

Dua hari telah berlalu semenjak kesepakatan yang telah di buat Dhany dan Renata. Dan hari ini Renata akan menentukan pilihannya anatara Dhany atau Rafa.

Sekarang Renata sudah berada di salah satu cafe yang lumayan terkenal. Sudah 15 menit lamanya Renata berada di sini tapi ia belum menemukan tanda-tanda Dhany akan datang. Ponselnya pun mati tidak bisa di hubungi.

"Maaf tadi macet." Dhany menarik kursi yang berhadapan dengan Renata lalu mendudukkan bokongnya.

"Ok nggak masalah. Gue juga belum lama disini." Renata mengaduk-aduk Jus Jeruknya karena merasa bosan.

"Gue pesen dulu aja ya." pertanyaan Dhany hanya di balas anggukan oleh Renata. Setelah memanggil waiter Dhany hanya memesan minuman saja seperti Renata.

"Ok langsung to the point aja. So pilih gue atau Rafa." Dhany menatap Renata instens.

"Kaca yang udah pecah walaupun bisa di perbaiki lagi pasti masih kelihatan retak.Gue pilih..." ucapan Renata terpotong.

"Ini mas pesanannya." waiter tersebut tersenyum kearah Dhany tapi Dhany hanya memasang wajah tembok nya.

"Lanjutin." ucap Dhany setelah pelayan tadi pergi dengan wajah kecewa.

"Sorry gue pilih Rafa." Renata menundukkan kepalanya ia tidak bisa melihat wajah kecewa Dhany.

"Semoga ini keputusan yang benar buat lo gue nggak akan buat lo harus jadi milik gue karna gue mau buktiin gue itu cinta sama lo bukan hanya sekedar terobsesi." Dhany mengangkat dagu Renata agar ia bisa melihat Dhany. "Dan kalo ngomong itu liat lawan bicaranya bukan nunduk ke bawah." Dhany tersenyum kearah Renata.

"Makasih udah hargain keputusan gue." Renata membalas senyuman Dhany.

"Gue duluan. Apa mau gue antar." tawar Dhany.

"Nggak usah gue udah mesen taxi online kok." sebenernya Renata belum memesannya tapi agar lebih cepat melupakan Dhany lebih baik ia berbohong.

"Gue pergi hati-hati jaga diri lo karena gue udah nggak bisa jaga lo." sebenarnya Dhany kecewa dengan keputusan Renata tapi apa boleh buat Dhany sudah terlalu banyak menabur luka diatas garam.

"Lo juga hati-hati di jalan." Renata menahan air matanya agar tidak terjatuh di hadapan Dhany. Dhany hanya mengangguk dengan tersenyum setelah itu pergi. Mungkin ini terakhir kalinya Renata dan Dhany duduk berdua di cafe karena sekarang semua sudah benar-benar selesai.

Di meja pokok cafe ada dua orang yang sedang tertawa lepas melihat dua orang yang saling mencintai harus berpisah.

"Liat rencana gue berhasilkan. Sekarang lo dapet apa yang lo inginkan dan sekarang saatnya gue ngisi kekosongan hati Dhany pasti di saat-saat seperti ini mudah banget buat gue masuk ke hatinya." suara itu adalah suara milik Sarah.

"Iya lo bener dengan lo komporin Dhany kalo dia hanya terobsesi dengan Renata ngaruh juga akhirnya ia nyerah juga." dan itu adalah suara cowok dengan senyum miringnya lebih tepatnya itu suara Rafa.

"Sekarang lo samperin cewek lo anterin dia pulang bikin luluh hatinya." Sarah menatap Renata yang Keluar dari cafe.

"Iya lo benar." Rafa bangkit dari kursinya lalu berjalan kearah Renata.

"Hei kamu ngapain disini sendirian?" Rafa menepuk pundak Renata hal itu membuat Renata sedikit terkejut.

"It itu habis ketemuan sama teman SMP dulu." dusta Renata jika ia jujur takutnya Rafa akan cemburu.

Hilang Karna Dia [COMPLETED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang