28. Aku Pergi.

524 67 22
                                        

Beberapa tahun lalu, di pelosok desa yang jauh dari hiruk pikuk kota, hiduplah sebuah keluarga sederhana yang jauh dari kata sempurna

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Beberapa tahun lalu, di pelosok desa yang jauh dari hiruk pikuk kota, hiduplah sebuah keluarga sederhana yang jauh dari kata sempurna.

Berjuang adalah kebiasaan mereka. Kesusahan merupakan makanan sehari-hari dari kelurga ini.

Hidup dalam kesengsaraan bukanlah takdir yang menyenangkan. Setiap harinya mereka harus selalu bekerja demi untuk mendapat sesuap nasi saja. Eluhan tentu saja terlontar dari mulut mereka. Tetapi itu semua tidak bisa mengubah takdir. Mengeluh hanya menjadi bukti kalau kita benar-benar lelah.

Udin dan Surti merupakan sepasang suami istri yang sudah sah sejak lama. Dua anak yang terlahir dari rahim Surti merupakan bukti jika keduanya saling cinta.

Cinta bukan ketika dua orang manusia saling bertukar ludah, tetapi ketika orang-orang mengucapkan kata 'sah'.

Udin memang bukan laki-laki dari keluarga kaya. Terlahir dari keluarga miskin sudah membuatnya terbiasa menjadi seorang pekerja di salah satu pabrik sepatu. Tidak besar, bisa dibilang itu adalah pabrik rumahan.

Dan Surti, wanita yang mencintai Udin dengan setulus hati tanpa memandang materi. Surti merupakan seorang pengrajin tikar di desanya, tetapi tetap saja itu tidak berhasil membuatnya kaya raya.

Kehadiran seorang anak pertama -laki-laki- berhasil membuat hari-hari mereka penuh warna. Dan mereka berharap jika anak pertamanya bisa menjadi Presiden kelak. Tetapi apa daya, itu jauh dari harapan mereka. Bisa menyekolahkannya sampai lulus SD saja sudah sangat membuat bangga.

Lima tahun kemudian, lahirlah bayi perempuan, yang wajahnya sedari kecil sudah tampak cantik seperti Surti.

Bisa dibilang itu adalah sebuah kesalahan. Karena menambah anak sama saja dengan menambah pengeluaran. Udin mengaku khilaf saat itu, dan Surti pun lupa kalau ia belum memasang KB.

Kokom, yang pada saat itu duduk di kelas VI SD harus sudah menerima tentang pahitnya kehidupan.

Setiap hari, ia selalu menyaksikan pertengkaran kedua orangtuanya. Sejak kecil, ia sudah mengerti rasanya sakit hati. Melihat Ibunya berurai air mata sangat menyayat hati sang anak tersebut.

Apalagi, pertengkaran kedua orangtuanya berasal dari Kim Hanbin. Kakak laki-lakinya.

"GUE BILANG GUE BUTUH UANG! KALIAN TUH KENAPA SIH PADA NGGAK NGERTI GUE!"

Lagi, Kokom harus mendengar itu.

Bentakan yang keluar dari mulut Kakaknya membuatnya takut bukan main.

"Tapi Ibu sudah nggak punya uang lagi, Nak. Kemarin 'kan kamu Ibu kasih 50 ribu, memangnya sudah habis?" Surti menyahuti sembari menenun tikar. Berusaha menahan emosi yang membuncah mendengar bentakan dari sang anak.

"Abis buat benerin motor."

"Lagian kamu tuh motor jangan diotak-atik terus, Mbin. Motor bagus-bagus jadi jelek begitu."

FANGIRLTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang