Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Jadi, lo keguguran gara-gara tuh cewek sialan?!"
Iya, gue udah jelasin semuanya ke Nanda sama Jingga. Bahkan gue sempet netesin air mata yang bikin mereka makin tersulut.
Yah, mau gimana lagi. Emang belum rejeki gue dan Bang Wonwoo, kan?
"Kalo begitu harus dipenjarain, Na." kata Jingga.
"Iya, itu kan namanya percobaan pembunuhan. Malah lo sampai kehilangan calon anak lo karena dia." tambah Nanda.
Gue ngegeleng pelan. "Gue gak bisa menjarain temen sendiri. Lagipula itu murni gak sengaja, dia lagi emosi, dan dia bahkan gak tau gue hamil."
"Tapi-"
"Udahlah. Gue males bawa-bawa jalur hukum. Ribet. Gue udah ikhlas, Allah cuma belum bisa ngasih sekarang."
"Oke, kalau emang itu pilihan lo, kita dukung. Tapi jangan sampai lo sembunyiin apa-apa lagi. Marah besar gue kalau begitu."
"Iyaaa."
Hari itu gue ngobrol-ngobrol masalah yang lain. Tentang Jingga yang hampir dikira hamil padahal stres tugas. Nanda yang stres ngehadepin Bang Jeonghan yang lagi cemburuan gara-gara ada maba yang deketin dia.
Semua seakan bawa kami ke zaman dulu. Zaman gue masih tergila-gila sama Bang Wonwoo.
Semua berawal dari sini...
"Al, lo nembus!"
"Anjir! Serius?!"
"Iya!"
Gue dengan paniknya nengok ke rok putih yang gue pakai sekarang. Udah bukan putih lagi, coy. Udah berubah merah. Tapi bunder doang, di pantat.
Plis, ini gak lucu banget.
Gue lagi ada kumpul remaja masjid, lagi ada rapat dan susunan acara buat 17-an. Semua lagi pada merhatiin Bang Josh yang ngoceh di depan. Gue, Nanda, sama Jingga duduk paling belakang karena kami anak baru.
"Dek, jangan berisik, dong." tegur salah satu cowok yang waktu itu menurut gue ganteng banget.
Mukanya familiar, suaranya juga mirip temennya Bang Hoshi.
Seusai Bang Josh ngoceh. Akhirnya semua pada bubar. Termasuk abang gue yang udah ngacir mau main balapan sama Bang Deka.
Jingga sama Nanda diminta ke rumah ustadzah yang biasanya ngajar ngaji di masjid. Gue jadinya cuma diem nunggu halaman masjid sepi.
Kita kumpul bukan di masjid, tapi di pendopo kecil yang biasa emang suka dipakai buat pertemuan remas, ronda, atau orang tua yang jemput anaknya ngaji.
Gue duduk diem tanpa tujuan. Ya tujuannya mau pulang, tapi nanti, tunggu sepi. Gue mau lari aja sampai rumah biar gak keliatan bocornya.
"Ngapain disini?"
Kaget.
"E- eh. Enggak bang, ini.."
"Bocor?"
"Njir.. Keliatan apa?" gumam gue pelan. Malu banget dong!
"Iya, keliatan. Bangun."
Enak aja nyuruh bangun! Muka gue mau ditaro dimana?!
"Bangun." tapi suaranya tak terbantahkan. Jadinya gue berdiri pelan-pelan.
Setelahnya dia ngiketin jaketnya yang entah sejak kapan dia lepas itu ke pinggang gue. Cepet banget, gak kena tubuh gue juga jadi gue gak merasa dilecehkan atau merasa dia keterlaluan.
"Udah, pulang sana. Nanti si kuaci nyariin."
"Kuaci?"
"Hoshi." dia langsung pergi gitu aja ninggalin gue sendiri.
Akhirnya gue pulang ke rumah dengan hati berbunga-bunga. Walaupun gue tetep ngacir pelan takut makin rembes.
Setelahnya gueberusaha nyari nama cowok itu sampe 2 hari. Mau nanya ke Bang Hoshi, takut. Sampai akhirnya, cowok itu dibawa ke rumah sama Bang Hoshi.
"Siapa bang?"
"Temen gue, Wonwoo. Masa lo gak tau? Anak remas."
"Enggak tau. Ohh, Bang wonwoo namanya?"
"Iya, napa? Suka?"
Gue otomatis gelagapan karena gue deg-degan banget waktu itu. "E- enggak."
"Sayangnya udah sold out."
"Hah?"
"Iya. Dia udah punya pacar."
Diri gue yang masih remaja labil dan naif waktu itu, cuma bisa kecewa dan berusaha nerima kenyataan. Tapi makin gue terima, makin sakit dan makin gue suka sama dia.
Akhirnya gue cuma suka sama dia dalam diam. Gue gak bilang siapa-siapa awalnya. Tapi tau-tau Bang Hoshi ngelambe-in itu ke semua anggota remas. Malah gue yakin dia tau tapi sok gak tau.
"Heh! Bengong lagi! Ayo, itu udah kumpul buat main game!"
Nanda narik gue ke lapangan yang disambut Bang Wonwoo.
"Cie yang abis mikirin abang."
"Geer!"
"Cie..."
Mau bagaimana pun, gue cinta banget sama ciptaan Allah yang ada di hadapan gue ini.