Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kehilangan.
Dari dulu gue paling benci namanya kehilangan. Manusia manapun pasti benci.
Dokter memvonis gue gak akan mudah buat punya anak. Butuh usaha dan kesungguhan yang besar. Sakit rasanya denger itu. Iya, gue emang gak berniat hamil cepet mengingat gue masih harus kuliah dan masih muda. Tapi gue bisa liat seberapa senengnya Bang Wonwoo saat tau gue hamil, juga seberapa sedihnya saat gue keguguran.
Gue merasa gagal jadi istri.
"Hei.."
Gue noleh dan nemuin Bang Wonwoo yang udah duduk di samping gue. "Mikirin apa?"
"Enggak ada."
"Kamu tau kamu gak jago bohong, Na." gue cuma senyum dan ngegeleng nanggepin perkataannya.
Dia milih diem dan ikut mandangin pemandangan depan rumah. Taman asri yang dirawat Mbak Irene masih gue rawat sampai sekarang.
"Jangan pernah anggap musibah kemarin jadi beban, sayang." katanya tiba-tiba.
Dia emang tau betul apa yang ada di pikiran gue. Padahal gue gak bilang. Entah dia cenayang atau telepati, intinya dia jago nebak pikiran gue.
Berguru di mbah limbad mungkin.
"Iya, abang. Alana ikhlas."
"Kamu emang udah ikhlas, Na. Tapi kamu masih terus anggap itu kesalahan kamu. Kamu gak salah, sayang. Abang yang salah gak bisa jaga kamu dari Lili, masa lalu abang yang bahaya."
"Lili temen Alana, bang. Dia gak bahaya. Emang Alana aja kurang hati-hati."
"Udah, cukup. Abang gak mau denger kamu nyalahin diri kamu sendiri. Disini abang yang salah, oke?" gue cuma diem.
Bang Wonwoo berdiri dan ngeraih tangan gue. "Masuk yuk, gerimis. Dingin banget." Gue ngangguk dan ngikutin dia sampai dalem.