BAGIAN 5

4.1K 536 151
                                        

BAGIAN 5

Alma perlahan pulih dari ketermanguannya, ia meletakkan buku presensi, dan menuju meja anak baru itu. Matanya memanas saat melihat anak itu mengeluarkan air liur. Apakah benar anak sekecil ini telah ditinggalkan ibunya? Alma mengambil sapu tangan di sakunya. Membersihkan dengan telaten area dagu anak itu.

Dalam hati, Alma merasa penasaran mengapa nama belakang anak itu sama dengan nama belakang lelaki yang sepuluh tahun ini membuatnya menderita secara perasaan. Namun, itu akan ia cari tahu nanti di berkas-berkas siswa baru.

Alma tersenyum saat mata anak itu menatap dirinya. "Nama kamu Enzi ya?"

Anak itu mengangguk. Alma merasakan matanya semakin memanas saat tangan mungil anak itu menyentuh ringan tangan Alma yang ada di atas meja. "Enzi mau apa?"

Anak itu menggeleng. "Ndah..in-dah..." Alma tersenyum mengerti.

"Ibu indah ya?" Enzi mengangguk semangat. Alma tertawa.

"Bukan indah, Enzi. Tapi Cantik." Dalam hati Alma tertawa, ia menyebut dirinya sendiri cantik.

Lalu Alma mulai membuka pelajaran. Seperti biasa, ketika Alma di kelas, ia akan berubah menjadi seorang ibu. Mendekati dan membimbing satu persatu siswanya. Karena Alma bukan menjadi guru untuk siswa biasa, melainkan siswa yang memiliki kebutuhan khusus.

***

Batin Alma masih menerka-nerka siapa nama orangtua Enzi. Lalu, apa yang akan diharapkan Alma jika sudah mengetahuinya? Alma terdiam saat pemikiran itu menerjangnya. Apakah ia berharap jika Enzi memang anak dari Sagara, yang menurut informasi tadi, ibu dari Enzi sudah meninggal?

Jahat sekali pemikiran Alma, ia merutuk dalam hati. Alma bisa saja meminta data lengkap Enzi, tapi mengapa hatinya takut. Ia takut jika Enzi bukanlah anak Sagara, itu artinya Sagara masih hidup bahagia dengan keluarga kecilnya.

Alma mengusap wajahnya kasar. Alma meletakkan dahi di mejanya. Kepalanya terasa penuh, entah mengapa perasaannya akhir-akhir ini kacau. Sebenarnya Alma bisa saja membuktikan sendiri ke rumah lama keluarga Sagara. Toh, mereka tetap baik kan? Bukankah Sagara selalu menyebut dirinya sebagai adik manisnya?

Alma tersenyum miris.

Adik?

Alma mendongak saat mendengar kasak kusuk rekan-rekannya. Bahkan Luluk dan Mita sudah ngacir keluar ruang guru. Alma yang penasaran hanya mengerutkan kening dan bernajak dari duduknya.

"Ganteng..."

Kerutan di dahi Alma semakin dalam saat mendengar kalimat pujian yang terlontar dari salah satu rekannya. Alma merasakan jantungnya berdetak keras saat ada yang berkata.

"Denger-denger dia anak pemilik toko bangunan terkenal itu lho." Alma menutup mulutnya, matanya memanas. Hati langsung Alma mengatakan jika anak baru tadi adalah anak Sagara.

Dengan sedikit melongok, badannya ia tempelkan di tembok. Badannya tidak akan terlihat karena selain tertutup tembok, ada vas besar juga yang diletakkan di dekatnya berdiri.

Alma belum begitu jelas melihat siapa yang sedang dilihat Enzi, namun ketika suara tawa anak itu terlontar dan Enzi meneybut. "Pa..." Alma tahu, bahwa ayah Enzilah yang menjemput anak itu.

Alma harus sedikit menjinjitkan kakinya saat ada siluet lelaki tegap berkaos hitam dan bercelana hitam mulai memasuki pintu masuk. Alma memusatkan pandangannya.

Dan...

Untuk sesaat dunia Alma berhenti. Alma nyaris tidak dapat bernapas dengan keras. Seolah jika ia bernapas agak keras, objek pandangan Alma akan menoleh padanya. Satu bulir air matanya keluar, Alma tidak mampu menahan isakannya, ketika lelaki itu tersenyum dengan teduhnya –senyum khas yang tidak pernah berubah. Merentangkan kedua tangannya dan langsung merenggut tubuh anaknya. Kasih sayang terlihat jelas dari penglihatan Alma.

Cinta untuk Alma [SUDAH TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang