BAGIAN 13

3.3K 450 168
                                        

BAGIAN 13

Saga menatap nanar pintu kamar Alma. Lelaki itu mendengar semua pembicaraan Alma dan ibunya. Tadi, saat ia sampai rumah Alma, tidak ada yang menajwab salamnya. Saga langsung masuk ke rumah saat melihat pintu terbuka. Namun, ia langsung tertegun mendengar pembicaraan Alma dan ibunya. Dan semua tentang dirinya.

Dengan perlahan Saga, memundurkan langkahnya sebelum menjauhi pintu kamar. Saga memutuskan untuk menunggu di teras. Pikirannya berkecamuk, selain kenyataan jika orangtua Alma telah mengetahui perasaan sejak dulu yang bahkan dirinya sendiri tidak dapat menelaah, dan fakta yang baru diketahuinya. Alma pernah kecelakaan hanya karena ingin bertemu dengannya.

"Ya Allah..." Saga mengurut pelipisnya. Tujuan utama dirinya ke rumah Alma untuk menjenguk Alma, namun justru ia mendapat kejutan seperti itu. sungguh, ia sama sekali tidak menyangka.

Beberapa lama kemudian, Saga mendongakkan kepalanya saat mendengar suara langkah mendekat. Saga segera berdiri, lalu memasang wajah seakan-akan baru saja tiba.

"Assalamualaikum..."

Ibu Alma terkejut. "Waalaikumussalam, Ya Allah, Saga! Udah lama?" Saga tersenyum lalu mencium tangan ibu Alma.

"Belum kok, baru aja Saga sampai." Ucap Saga berbohong. Ibu Alma memandang Saga, lalu tangannya ia ulurkan untuk mengusap bahu lebar Saga dengan penuh kasih sayang. Tak dapat dipungkiri ada rasa sesak saat melihat wajah Saga. "Mana anakmu?"

Saga tersenyum. "Enzi sama ayah ibu di ruko. Saga sengaja nggak ngajak Enzi, takut dia khawatir sama Alma. Perasaan Enzi tipis."

"Enzi dan orangtuamu sehat kan?"

"Alhamdulillah, semua sehat."

Ibu Alma mengangguk. "Alhamdulillah kalau begitu. Ya udah, masuk yuk! Alma masih menelepon kalau nggak salah." Ibu Alma dan Saga menuju rumah, dan duduk di ruang tamu.

"Ibu sehat?" Ibu Alma mengangguk dan tersenyum.

"Alhamdulillah. Oh ya, sebenarnya ibu ini mau ke apotek, kamu ngga apa-apa kan di sini nunggu Alma sebentar?"

Saga mengerjap, pantas saja ibu Alma seperti hendak pergi. "Mau Saga antar?"

Ibu Alma mengibaskan tangannya. "Nggak usah. Ibu udah pesan ojek tadi. Kamu tunggu Alma aja ya? Alma sebentar lagi keluar kok, biar ibu bilang kalau kamu datang."

Saga akhirnya mengangguk. Lalu kembali duduk.

***

Alma yang baru saja menutup sambungan telepon menoleh karena ibunya kembali ke kamarnya. "Lho, Bu? Kok belum berangkat?"

"Ibu mau berangkat. Tapi Saga di depan."

Alma terkejut. "Mas Saga?" Ibu Alma mengangguk. "Kamu keluar ya, jangan di kamar. Nanti nggak enak dilihat tetangga kalau ada yang tahu."

Alma mengerjap, entah mengapa setelah dinasehati ibunya, Alma menjadi sedikit khawatir bila berdekatan dengan Saga. Apalagi ia baru saja menelepon Abi untuk ke rumahnya. Tapi Alma juga tidak mungkin membiarkan Saga duduk sendirian hingga ibunya kembali.

"Ya udah, Bu. Alma ke depan sebentar lagi." Alma masih tersenyum hingga ibunya keluar dari kamarnya. Lalu senyumnya memudar saat menyadari lelaki yang selama ini selalu menjadi pusat pikirannya berada di ruang tamu rumahnya. Dan hanya berdua di rumahnya.

Dengan menghembuskan napas pelan, Alma turun dari ranjang. Ia sedikit melirik cermin, meneliti wajahnya. Alma berjalan pelan, lalu tatapannya mengarah pada lelaki yang sedang memainkan telepon genggamnya.

"Mas..." Alma memanggil Saga pelan, lelaki itu mendongak dan tersenyum teduh. Alma bahkan mengerjapkan matanya saat melihat senyum itu.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Cinta untuk Alma [SUDAH TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang