BAGIAN 19
Alma tersenyum gugup saat memasuki ruang makan. Abi sebenarnya juga gugup namun ia berusaha tenang. Hampir saja tadi ia melakukan kesalahan. Apa jadinya jika Azidan tidak berteriak memanggil mereka? Apakah mereka akan berciuman? Apakah mereka akan melakukan hal lebih dari ciuman? Abi tertegun memikirkan hal itu.
"Kok diem aja? Makan dong, Bi!" Abi langsung menatap ibunya saat ibunya bersuara. Dengan berdehem, Abi menjawab. "Iya, Ma. Ini juga masih mau milih menu."
Tak jauh berbeda dengan Abi, Alma juga berpikiran yang sama. Apakah jika adik Abi tidak memanggil mereka akan terjadi suatu hal? Apakah bibir mereka akan menempel? Memikirkan itu secara otomatis pipi Alma bersemu.
Azira yang melihat itu mengerutkan kening. "Mbak Al kenapa? Sopnya kepanasan ya? Kok sampai merah gitu wajahnya."
Secara serentak memandang Alma, semua bingung dengan keanehan Alma dan Abi. Hanya satu yang tidak bingung, justru sedang menyembunyikan senyum geli. Siapa lagi kalau bukan Azidan, remaja tampan itu diam-diam mengetahui apa yang akan dilakukan kakaknya.
Azidan sengaja diam melihat dari celah pintu yang terbuka, begitu kakaknya hendak melakukan kesalahan ia langsung berteriak memanggil dua insan yang tengan berpelukan di atas ranjang itu.
"Ya sudah. Ayo kita mulai makan!" Suara ayah Abi menyelamatkan Alma dari situasi itu.
***
Abi mengetuk pelan pintu kamarnya, tak berselang lama, pintu terbuka dan langsung melihat Alma yang baru saja selesai mandi. Rambutnya tergerai dan masih basah. Abi mengerjapkan matanya.
"Kamu cantik." Ucap Abi dengan tatapan penuh pemujaan. Alma yang mendengar itu melongo sejenak sebelum merona. "Apaan sih, Mas! Alma baru selesai mandi, nggak pakai make up."
"Pakai atau nggak pakai kamu tetep cantik, Sayang."
Abi terkekeh melihat kekasihnya semakin merona. Lalu, lelaki itu agak memasukkan badannya, agar lebih mendekat pada Alma. Seperti kebiasaan, tangannya diulurkan untuk mengusap dan memberi pijatan lembut di dahi Alma.
"Aku sama Mama mau keluar sebentar ya? Kamu di rumah sendiri nggak apa-apa kan?"
Alma mengerutkan kening, "Sore-sore mau kemana, Mas?" Gadis itu membiarkan tangan Abi memberikan pijatan lembut di dahinya.
Abi menggaruk kepala belakangnya dengan sebelah tangan, lalu nyengir. "Aku tiba-tiba pengen gudeg buatan Mama, jadi Mama minta dianterin buat beli nangka muda dan bahan-bahan lainnya. Mau ajak Azidan, dia lagi basket di lapangan kompleks. Nggak apa-apa kan?"
"Alma Cuma sama Pak Gunawan?" Abi tertawa, lalu semakin mendekat pada Alma. Mengusap lengan atas Alma. "Iya, Azira sebentar lagi juga pulang. Dia lagi ke rumah temannya di kompleks sebelah. Kamu takut sama Papa? Beliau calon papa mertuamu lho."
Alma cemberut dan memukul pelan dada Abi, namun tidak menurunkan tangannya. Gadis itu justru memainkan kancing hiasan di kaos Abi. "Alma masih segan." Ucapnya pelan sambil mendongak menatap Abi.
"Karena Papa dulu atasamu di sekolah?" Alma mengangguk. Abi menangkap tangan Alma yang bermain di kancing kaosnya. Memberikan ciuman di jemari harum Alma. "Harum banget sih? Pakai sabun apa?"
Alma melotot lucu, "Mas Abi ih!"
Abi tertawa, lalu kembali bersuara. "Aku juga atasanmu lho sekarang, kok nggak segan?" Abi bertanya dengan nada menggoda, bibir lelaki itu masih mengecupi jemari Alma. Jujur saja, hati Alma berdesir saat bibir Abi membelai jemarinya.
"Emang ada atasan yang cium-cium tangan bawahannya?" Alma mengerjap saat kalimat tanya itu yang secara spontan meluncur dari bibir Alma sendiri. Astaga!
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta untuk Alma [SUDAH TERBIT]
Chick-LitKembalinya Sagara Basudewa membuat Almadena Anjani kembali merasakan gejolak perasaan yang ia kubur mati-matian selama ini. Sagara, cinta pertama Alma saat itu pernah menorehkan luka begitu dalam. Lelaki itu menikah dengan perempuan asing, dan hidup...
![Cinta untuk Alma [SUDAH TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/173553633-64-k830793.jpg)