BAGIAN 15
Alma memelankan langkahnya saat melihat sosok Saga berada di depan ruang guru. Lelaki itu tampak berbincang dengan salah satu guru. Setelah kejadian beberapa hari lalu, Alma meyakinkan diri sendiri bahwa memelihara perasaan terhadap Saga hanya akan menimbulkan luka pada dirinya dan Abi. Alma memang belum sepenuhnya yakin dapat melupakan perasaannya terhadap Saga, namun ia berusaha, dan salah satu caranya adalah menghindari Saga sebisa mungkin.
Alma memundurkan tubuhnya dan berjalan untuk masuk kembali ke kelasnya. Anak-anak sudah pulang. Alma heran, mengapa Saga masih di sekolahnya, padahal Enzi sudah pulang. Lalu ia teringat bahwa Saga merupakan pemborong yang membangun gedung di sekolahnya.
Alma mengambil telepon genggam yang ada di saku seragam batiknya. Ia mengetikkan pesan pada Abi. Seharian ini ia baru sekali bertemu Abi, saat berangkat ke sekolah.
Alma: Mas...
Tak membutuhkan waktu lama, balasan langsung diterima di telepon genggam Alma. Gadis itu membukanya.
Abi: Ya, Sayang? Ada apa? Tanganmu sakit lagi?
Alma mengulum senyumnya dengan jantung berdebar. Alma mengakui setiap bersama Abi, ia selalu menjadi sering tersenyum dan merasa berharga. Abi dengan segala perhatiannya perlahan tapi pasti membuat Alma menjadi ketergantungan terhadap Abi.
Alma: Cuma pengen chat aja. Alma nggak apa-apa kok. Mas masih di ruangan?
Abi: Udah di ruang guru belum? Iya, masih selesaiin proposal. Kenapa?
Tanpa sadar Alma mengelengkan kepalanya.
Alma: Belum, Mas. Masih nulis jurnal. Nggak apa-apa, Alma Cuma tanya.
Alm menggigit bibirnya karena berbohong. Alma belum ke ruang guru karena ia tidak mau bertemu Saga.
Abi: Oh, ya udah. Kalau udah selesai langsung ke ruang guru ya. Nanti setelah salat jamaah kita pulang.
Alma: Kok pulang? Kan biasanya sampai jam 2.
Alma menunggu balasan Abi yang tak kunjung datang. Akhirnya Alma beranjak dari duduknya dan keluar kelas dan menuju ruang guru. Jika ada Saga ia ingin bersikap biasa. Sudah cukup kesalahannya dengan memeluk Saga dan mengutarakan perasaannya. Alma ingin memperbaiki perasaannya sendiri. Alma ingin benar-benar serius bersama Abi.
"Ya Allah, berikanlah kekuatan." Alma berdoa lirih sembari berjalan menuju ruang guru. Sudah seperti yang Alma duga, Saga masih bertahan di depan ruang guru. Saga dan guru itu menoleh saat Alma sudah mendekat di pintu ruang guru.
"Bu Alma kok baru ke sini?" Alma tersenyum, sebelum menjawab. "Iya, Pak. Saya masih nulis jurnal. Saya ke dalam dulu, Pak. Haus."
Lalu tatapannya beralih pada Saga yang menatapnya dalam, Alma mencoba biasa. Ia tetap tersenyum. Lalu menganggukkan kepalanya meminta izin untuk masuk ke ruang guru. Saga belum mengalihkan tatapannya pada Alma. Entah mengapa ia merasa, Alma berbeda hari ini. Setelah ungkapan perasaan mereka beberapa waktu lalu dan kedatang Abi ke rumah Alma saat itu, Alma menjadi berbeda padanya.
Beberapa kali Saga ingin berbicara dengan Alma, namun gadis itu seolah enggan, dan menyibukkan diri dengan kegiatannya. Saga selalu menyempatkan duduk atau berada di dekat ruang guru setiap ia meninjau perkembangan pembangunan gedung, tapi nihil. Alma seolah menghindari dirinya. Sikap Abi terhadapnya juga terasa berbeda. Abi masih ramah, namun senyum cerianya tidak lagi tampak di depan Saga. Apakah lelaki itu tahu kalau Alma mencintai dirinya?
"Pak Saga?" Saga tersadar, dan meminta maaf karena terlalu lama melamun. "Maaf, Pak. Lebih baik kita bicarakan setelah salat saja."
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta untuk Alma [SUDAH TERBIT]
ChickLitKembalinya Sagara Basudewa membuat Almadena Anjani kembali merasakan gejolak perasaan yang ia kubur mati-matian selama ini. Sagara, cinta pertama Alma saat itu pernah menorehkan luka begitu dalam. Lelaki itu menikah dengan perempuan asing, dan hidup...
![Cinta untuk Alma [SUDAH TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/173553633-64-k830793.jpg)