Kembalinya Sagara Basudewa membuat Almadena Anjani kembali merasakan gejolak perasaan yang ia kubur mati-matian selama ini. Sagara, cinta pertama Alma saat itu pernah menorehkan luka begitu dalam. Lelaki itu menikah dengan perempuan asing, dan hidup...
Alma memerhatikan ibu dan Abi yang membereskan barang-barangnya. Sesekali Abi meliriknya dan melemparkan senyum yang membuat Alma merona. Alma kembali menatap Abi yang membantu ibunya yang kesulitan menutup reseleting tasnya.
"Ini kenapa susah banget ya." Gerutuan ibunya disambut tawa renyah Abi, lalu lelaki itu menutup tas dengan mudah. "Nggak susah lho, Bu."
Ibu Alma berdecak. "Tenaga laki-laki yo bedo to, Le. (Ya bedalah, Nak.)" Abi tertawa. Hati Alma menghangat melihat interaksi ibu dan kekasihnya. Bukankah Alma tidak salah jika menganggap Abi sebagai kekasihnya?
"Orangtuamu menetap di sini, Nak?"
Abi menggeleng pelan. "Nggak, Bu. Papa Mama di Jogja, sama adik-adik juga."
Ibu Alma mengangguk. "Kamu anak pertama?"
"Iya, Bu. Saya anak pertama, adik saya kembar. Nakalnya luar biasa..."
"Tapi kamu menyayanginya kan?"
Abi tertawa. "Iya, Bu. Saya sayang banget sama mereka meski sering dijahili."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Alma ikut tertawa mendengar perkataan Abi. Tiba-tiba Alma tersentak saat Abi menyenderkan badannya ke tembok dan menatap dirinya. Abi tidak berkata apa-apa, hanya menatap dirinya dengan senyum terkulum. Alma yang ditatap seperti itu mendadak gugup. Alma balas menatap meski ia yakin wajahnya memerah. Tetap saja Abi tidak mengalihkan pandangan atau mengatakan sepatah katapun.
Suara deheman keras membuat dua insan itu tersentak. Abi langsung menatap ibu Alma yang berdehem keras. Lalu gantian dirinya yang wajahnya memerah. Lalu tertawa garing. "Kalian belum boleh lama-lama bertatapan. Nanti kesambet lho." Kalimat penuh godaan dari ibunya semkain membuat Alma malu. Astaga!
Abi hanya tertawa garing, lalu meminta izin saat mendapat panggilan dari ayahnya. "Maaf, Bu. Saya menerima telepon dari Papa dulu."
Abi menatap sekilas Alma sebelum keluar kamar inap. "Assalamualaikum, Pa. Ada apa?"
"Waalikumusalam. Kamu masih di rumah sakit?"
"Iya, Pa. Kenapa?"
Abi mendengar suara ibunya yang entah mengatakan apa pada ayahnya. "Nanti langsung hubungi Pak Saga ya. Gedung baru harus selesai sebelum tahun ajaran baru. Teman Papa udah siap mengirimkan alat-alat pembelajaran."
Abi tanpa sadar mengangguk. "Iya, Pa. Nanti setelah mengantar Alma pulang, Abi langsung ke sekolah buat hubungi Pak Saga."
"Okay, Son! Jangan lama-ala di rumah Alma, inget kalian belum halal."
"Apaan sih, Pa!" Diam-diam Abi merasa malu. Tadi ibu Alma, kini gantian ayahnya yang menggoda.
Abi mendengar suara tawa orangtuanya di seberang. "Cepat dekati, langsung diajak menuju halal."