BAGIAN 7

4.1K 489 136
                                        

BAGIAN 7


Alma baru saja menyelesaikan salat Zuhur berjamaah di sekolahnya. Alma melipat mukenanya dengan pelan, pikirannya masih dipenuhi kejadian beberapa hari yang lalu saat Saga ke rumahnya bersama Enzi. Setelah mengucapkan alasan Enzi rewel, mereka sama-sama terdiam. Hingga kedatangan ibu Alma membawakan minuman.

Sejak hari itu, Alma belum bertemu Saga. Enzi selalu diantar jemput kakeknya. Alma menggelengkan kepalanya, ia ingin sehari saja tidak memikirkan Saga. Namun sepertinya mustahil. Sudah menjadi kebiasaan selama sepuluh tahun ini, atau bahkan lebih.

Alma menoleh saat bahunya dicolek. Alma menemukan wajah sumringah Mita. "Ada apa, Mbak?"

"Ciyeee...ditunggu Mas-Abi. Tuh di depan." Alma tertawa mendengar Mita menyebutkan nama Abi dengan penekanan.

"Bukan nunggu Alma kali, Mbak. Kan semua juga abis salat pasti juga duduk di depan. Ada-ada aja sih."

Mita merengut. "Kamu ini sebenarnya gimana sih, Dek? Nggak ngerasa apa ya?"

Alma yang sedang memakai jam tangannya menoleh. "Ngerasa apaan sih, Mbak?"

Mita memasang wajah gemas. Ingin rasanya perempuan beranak dua itu berteriak di depan teman yang sudah ia anggap sebagai adiknya. "Masa kamu nggak tahu sih, Dek? Ya Allah, Pak Abi itu suka sama kamu. Dia menaruh hati sama kamu."

"Suka gimana, Mbak?"

"Hadeh! Suka, Dek. Pak Abi suka sama kamu. Cinta...cinta..." Mita mengatakan dengan berapi-api. Tak pelak wajah Alma memanas, apalagi pandangan teman-temannya yang lain mengarah pada mereka. Ingin sekali Alma menutup wajahnya. Apalagi Mita berkata padanya seperti menggunakan toa.

"Apaan sih, Mbak! Malu tahu."

"Lah beneran. Masa iya Pak Abi selalu perhatian sama kamu, kamu malah sama sekali nggak merasa? Hadeh!" Setelah mengatakan itu Mita ngeloyor keluar. Sepertinya jika ia berdekatan dengan Alma, bisa-bisa Alma ditelan habis olehnya. Gemas dengan Alma kelewat polos atau memang tidak peka.

Setelah beberapa saat, Alma beranjak. Alma mengangguk sembari tersenyum, izin untuk keluar terlebih dulu dengan guru dan karyawan lainnya yang masih duduk di dalam masjid sekolah.

Begitu mencapai pintu masjid, langkahnya terhenti saat melihat punggung kokoh Abi. Tidak biasanya ia merasa lain saat melihat Abi. Ini pasti gara-gara perkataan Mita tadi.

Alma melihat Abi berbicara dan tertawa seperti biasa. Bahkan dari samping lesung pipinya terlihat, begitu menawan. Seketika wajah Alma menghangat.

 Seketika wajah Alma menghangat

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Ya Allah..." Bisiknya sembari memegang dadanya yang tiba-tiba berdetak tak karuan.

***

Abi mempercepat langkahnya ketika melihat Alma kerepotan dengan salah satu siswa. Matanya melebar saat badan Alma terhuyung hingga menabrak pot besar.

Cinta untuk Alma [SUDAH TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang