BAGIAN 1

5.6K 608 87
                                        

BAGIAN 1


Pacitan, masa kini...

Alma menyeka peluhnya, ia baru saja selesai membersihkan rumahnya. Ibunya sudah berangkat untuk bekerja. Ibunya bekerja di salah satu Taman Kanak-Kanak di kotanya. Sedangkan Alma hari ini berangkat lebih siang karena hanya akan ada acara perkenalan sekaligus pemindahtugasan kepemilikan di SLB Cinta Mutiara.

Ya, Alma akhirnya dapat menyelesaikan sekolahnya meski hanya dengan ibunya. Alma berusaha menyelesaikan pendidikannya dengan baik. Ia juga berkuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di kotanya. Ia mengambil jurusan pendidikan luar biasa. Meski agak kewalahan dengan mata kuliah dan kurikulum yang agak berbeda dengan masa sekolahnya, namun Alma berusaha semaksimal mungkin. Meski tidak termasuk jajaran mahasiswa yang memiliki kemampuan di atas rata-rata, Alma bersyukur ketika ia lulus, ia langsung mendaftar dan diterima di SLB tempat ia bekerja sekarang. Alma menjadi guru di bagian SDLB, apapun itu, Alma bersyukur.

Ayahnya sudah berpulang sekitar sepuluh tahun yang lalu karena kecelakaan. Jika mengingat itu, dada Alma masih terasa sesak. Bagaimana saat itu, ia melihat ayahnya sudah ditutupi dengan kain berwarna putih. Ketika ia membuka kain itu, tampak wajah pucat dan tubuh ayahnya yang biasanya memeluknya dengan hangat terasa dingin. Namun, Alma dapat melihat ayahnya meninggal dengan tersenyum. Berkali-kali Alma pingsan, bahkan ia harus dipapah saat melihat ayahnya dikebumikan.

Alma menggelengkan kepalanya saat mengingat hal itu. Ia tersenyum miris, seketika ia kembali ingat akan luka lain yang ia rasakan. Seminggu setelah ayahnya meninggal dunia, ada kabar jika Sagara menikah di negara asal istrinya. Alma tidak menyangka jika Sagara demikian tega, padahal selama ini Sagara menganggap ayah Alma sebagai ayahnya. Mengapa lelaki itu tega menikah saat kabut duka masih menyelimuti mereka?

Alma berusaha menghilangkan rasa sakit itu, namun tidaj bisa, rasanya begitu berat. Alma terkejut saat telepon genggamnya berdering. Bergegas ia mengambilnya dan mengangkat panggilan.

"Assalamualaikum..."

"Waalaikumusalam, Dek, kamu berangkat agak awal ya. Guru muda semua masuk agak awal, kita siap-siap bikin minum dan cari makanan."

"Oke, Mbak. Alma langsung siap-siap ke sekolah kalau gitu."

"Nggak Dek, kamu nanti cari kue aja. Di langgananmu itu aja ya. Mbak juga udah mau berangkat ini."

"Oke, Mbak."

***

Alma masih memilih kue di Amelia Cakery. Alma memilih tempat ini karena selain rasanya enak, pemilik kios ini adalah temannya saat kuliah. Temannya itu adalah mantan penyanyi kafe, setelah menikah Amelia lebih memilih mengembangkan toko kuenya.

"Mel, aku pilih molen, kue sus, sama roti isi coklat aja."

Amelia, si pemilik mengangguk. "Buat apa sih, Al?"

"Biasa, buat acara di sekolah. Oh ya, gimana kabar si kecil?" Alma tersenyum sembari mengelus perut Amelia yang sudah berdiri di dekatnya. Alma tersenyum melihat temannya semakin terlihat cantik saat hamil.

"Alhamdulillah baik dan sehat. Tinggal menunggu hari sih. Doain ya?"

Alma tersenyum dan mengangguk. Lalu ia memeluk temannya sebelum berpamitan. Ketika sampai di parkiran depan kios, Alma mendesah saat melihat ban belakangnya kempes.

"Ya Allah, bakalan lama ini." Alma mengambil telepon genggamnya, menghubungi salah satu rekan kerjanya. Menunggu beberapa saat, akhirnya sambungannya terhubung.

Cinta untuk Alma [SUDAH TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang