Kembalinya Sagara Basudewa membuat Almadena Anjani kembali merasakan gejolak perasaan yang ia kubur mati-matian selama ini. Sagara, cinta pertama Alma saat itu pernah menorehkan luka begitu dalam. Lelaki itu menikah dengan perempuan asing, dan hidup...
Saga memarkirkan mobilnya di depan rumah Alma. Ada sebagian hatinya yang menolak untuk turun dan memberitahukan keadaan Enzi pada Alma. Tapi sudut lain hatinya, menginginkan Alma mengetahui dan khawatir pada keadaan Enzi. Saga ingin Alma mencemaskan keadaan anaknya dan bersedia menemani Enzi...dan dirinya. Saga menumpukkan dahinya pada roda kemudi. Lelaki itu merutuk dalam hati, mengapa baru saat ini ia begitu menginginkan sosok Alma? Tidak! Sebenarnya jauh di lubuk hatinya, sejak dulu sudah menginginkan Alma menjadi bagian dari hidupnya selain sebagai sosok adik.
Saga perlahan merogoh saku jaketnya. Membuka kertas yang telah ia sobek dari diari Jennifer. Saga mengetatkan rahangnya saat kembali membaca kalimat demi kalimat yang tertera di kertas itu. Saga segera menutup dan meletakkannya di dalam dashboard mobilnya. Entah mengapa, ia selalu ingin membawa kertas itu. Sagaimana jika Alma membacanya?
Saga menghembuskan napas pelan, dan turun dari mobilnya. Berjalan menuju teras dan langsung melihat ibu Alma sedang berjongkok di depan tanaman mungil di pot.
"Assalamualaikum!"
Ibu Alma langsung menoleh dan melebarkan matanya saat melihat sosok Saga menjulang di dekatnya. Perempuan paruh baya itu langsung tersenyum. "Waalaikumussalam. Eh ada Saga. Duduk, Ga!" Ajak ibu Alma sembari menggiring Saga di kursi teras. Saga mengikti setelah sebelumnya mencium tangan ibu Alma.
"Ada apa, Ga? Kok sore-sore ke sini?" Tanya ibu Alma sembari menatap wajah Saga yang terlihat letih.
Saga tersenyum tipis. "Ini tadi dari rumah, ambil baju ganti dan beberapa keperluan. Terus mampir sini." Ibu Alma mengerutkan keningnya. "Emang kamu mau kemana?"
"Ke RSUD."
"RSUD? Siapa yang sakit?"
Saga tersenyum pedih. "Enzi kemarin masuk UGD." Mata ibu Alma membelalak. "Ya Allah! Enzi sakit apa, Ga?"
"DBD, Bu. Trombositnya terus menurun."
"Ya Allah! Terus gimana keadaannya sekarang?"
"Masih dalam perawatan intensif, Bu. Doakan Enzi lekas pulih."
Ibu Alma mengangguk. "Aamiin. Sabar ya, Ga."
Saga mengangguk. Lalu pandangan Saga mengedar, "Alma ke mana, Bu?"
Ibu Alma tersenyum tipis, "Alma lagi nggak ada di rumah." Jawab ibu Alma kalem. Dahi Saga berkerut. "Memangnya kemana?"
Ibu Alma menundukkan kepalanya sekilas. "Dia lagi di Jogja. Ke rumah Nak Abi."
"Pak Abizard?" Ibu Alma mengangguk. Tanpa kentara, Saga memegang erat lengan kursi kayu yang didudukinya.
Ibu Alma kembali bersuara. "Iya, Ga. Nak Abi, atasan Alma kalau di sekolah. Pagi tadi berangkatnya, kamu tahu sendirilah, anak muda yang lagi berhubungan serius pasti akan mengenalkan orangtua satu sama lain kan?"
Saga mengangguk kaku, dan berdehem canggung. "Jadi Alma ketemu...orangtua Pak Abi?"
Ibu Alma mengangguk. "Iya. Apalagi papanya Nak Abi juga lagi sakit, ya kamu doakan aja, Ga. Kalau memang jodohnya, semoga adikmu itu segera menikah. Biar ada yang jagain Alma dan Ibu." Jawaban lembut dari ibu Alma justru membuat Saga merasa sakit. Sakit yang benar-benar tidak dapat Saga jabarkan.
***
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.