Gue berangkat menuju Bali bersama mama, papa, Bagas dan Yusuf.
Perjalanan menuju Bali memakan waktu 1 jam 45 menit, gue sedari tadi gak bisa berhenti tersenyum melihat Bagas dan Yusuf yang begitu antusias saat menaiki pesawat terbang untuk yang pertama kalinya.
Sang kakak, Yusuf gak berhenti berterima kasih pada gue, membuat gue menahan air mata yang ingin menetes.
Setelah hampir terbang satu jam lebih, kita sudah mendarat di bandara internasional Ngurah Rai Bali, Bagas yang sedang tidur di gendongan gue sementara Yusuf membantu mama dan papa membawa barang bawaan.
Gue memesan sebuah resort besar berisi 7 kamar yang juga bakal jadi tempat orang tuanya Kevin menginap, benar, gak salah denger, ini semuanya rencana gue dan Kevin mempertemukan kedua orang tua kita berdua di resort yang sama karena si Kevin yang sudah yakin dengan pilihan yang ia jalani saat ini.
Gue menghela nafas pelan, bersiap siap untuk mempertemukan kedua orang tua gue sama Kevin.
Bicara tentang Kevin, ia dan keluarganya berangkat pagi buta, jam 5 pagi, tentu saja telah lebih dahulu sampai ke resort.
Kevin is calling...
Ponsel gue bergetar hebat saat melihat caller id bertuliskan Kevin.
Gue mengangkat panggilanya.
"Halo?" sapa gue.
"Mau di jemput enggak?" tanya Kevin di sebrang.
"Enggak, gak suprise kalo dijemput" jawab gue yang dapet kekehan gemes ala Kevin.
"Suara kamu kok serak? Kenapa?" tanya gue pada Kevin yang suaranya terdengar berat, ia bahkan beberapa kali berdeham keras.
"Sakit tenggorokan nih aku," jawabnya yang gue balas oh panjang.
Gue dan keluarga akhirnya memutuskan untuk menaiki taksi online menuju cottage yang gue dan Kevin rencanakan.
Gue sengaja turun belakangan karena ingin melihat reaksi mereka waktu cottage udah ada isinya, juga ada Kevin sebagai penyambut orangtua gue.
Gue menggendong Bagas yang masih tidur di genggaman sembari mendorong koper milik gue.
"Halo om, Tante" sapa Kevin yang membuat orangtua gue membeku heran, kenapa ada Kevin disini.
"Oh! Kevin?" Ucap papa yang lebih dahulu sadar dari kebekuan mereka, menjabat tangan Kevin sembari menepuk bahunya hangat.
"Om Kevin?!!!" Yusuf sang kakak berteriak keras, melompat ke pelukan Kevin, membuat imajinasi liar kurang ajar menyelusup ke dalam otak gue.
Ternyata kekhawatiran yang selama ini gue pikirin tentang pertemuan orangtua gue dan dia gak terjadi, mama gue udah asik sama mamanya Kevin, sedangkan Papa dan papanya Kevin udah jalan bareng naik mobil keliling Bali.
Bagas yang ngantuk bahkan tertidur di paha Kevin, membuat gue mau gak mau harus senyum ke arah dia.
"Pulang dari Bali, mau dilamar gak?" tanya Kevin, membuat gue melongo heran dengan ucapannya.
Lamaran macam apa yang bilang dulu sama ceweknya? Kevin emang bener bener aneh. Membuat gue harus menyerngitkan kedua alis gue begitu mendengar ucapannya yang absurd.
"Kamu mau ngajakin nikah apa ngajakin tanding badminton sih?" gerutu gue yang dibalas senyuman manis dari dia, membuat siapa saja yang melihatnya bisa dipastikan meleleh seketika.
Gue dan Kevin saat ini ada di pasar tradisional, berbelanja kebutuhan bahan makanan untuk beberapa hari.
Di pasar yang ramai, gue harus mengenggam erat tangan Kevin biar kami gak kepisah, karena orang yang gue genggam tangannya asik dengan ponselnya dan gak bantuin gue, dia cuma bayarin sama bawain belanjaannya, dia bahkan membiarkan gue memegang dompetnya, padahal dari tadi gue menahan amarahnya gue yang udah mau meledak.
"Bantuin kek," keluh gue yang akhirnya membuat dia lepas dari ponselnya, membuat gue menghela nafas lega. Pasalnya, gue lebih banyak bawa barang bawaan dari dia, membuat gue ingin nangis saja karena tangan yang udah merah genggam plastik berisi bahan makanan yang super berat.
"Kamu marah?" tanya Kevin setelah sekian lamanya dia gak peka kalo gue ngambek, ya Tuhan berasa pacaran sama tembok ini gue.
"Ngomong sama candi lah sono," balas gue.
Sesampainya di cottage, mama sama ibunya Kevin masih asik ngobrol, gak tau dah kenapa bisa akrab banget gitu, kok bisa ya ngobrol lama tanpa kehabisan bahan buat dibahas.
Gue mulai mengolah bahan yang gue beli di pasar dengan asik, hampir lupa sama kejadian apa yang terjadi dibalik bahan-bahan yang gue masak ini, sampai ibunya Kevin menepuk pundak gue yang asik mengiris wortel.
"Masak apa sayang?" tanya mama Kevin, membuat gue langsung membalikan badan gue ke mamanya Kevin.
"Mau bikin sup ayam sama ayam bumbu kemangi Tan, paling sama bakwan juga," jawab gue.
"Jangan panggil Tante, Mama" Elis mama Kevin pada rambut panjang gue, gue membalasnya dengan anggukan kecil.
"Mau mama bantuin?" tanya mama Kevin, membuat reflek menggeleng.
"Istirahat aja ma, biar aku yang masak" ujar gue yang akhirnya diangguki setelah akhirnya beberapa kali menyuruhnya istirahat karena bisa saja masih jet lag.
Gue gak tau kenapa perasaan gue gak enak, pasalnya Riani nelfon gue beberapa kali waktu gue masak.
Riani ia calling you...
"Rin, bukannya kemarin lo bilang balikan sama Kevin?" ucap Riani tiba-tiba.
"Bentar" ucap gue sambil menaruh piring masakan terakhir gue ke meja makan gede. Di ruang tamu masih ada Kevin yang asik banget sama ponselnya. Gue lari ke kamar biar Kevin gak dengerin pembicaraan kami berdua.
"Iya, kami balikan, kenapa?" tanya gue.
"Ada cewek yang upload foto Kevin sama dia pake caption tanda love rinnn!!! Harus liat" lanjutnya bikin seluruh tubuh gue lemes tiba-tiba.
"Kita lagi liburan di Bali bareng keluarga masing-masing di rumah yang sama Ni! I don't know what to do right now" ucap gue pasrah, mati sudah, walaupun gue tau ini belum pasti tapi rasa kecewa tetap ada.
"Coba tanya aja Rin, biar gak salah paham juga," nasihat Riani yang gue balas helaan nafas panjang.
"Ya udah, gue tutup, bye my love" pamit Riani yang gue balas sewot.
"Geli!!!"
Daripada gue harus sedih gak karuan, gue memilih untuk membangunkan yang lain untuk makan, karena jam sudah menunjukan jam 1 siang.
Di meja makan, obrolan mama gue dan Mama Kevin mendominasi, membuat gue makin betah dengan kegiatan tutup mulut saat ini.
Sejujurnya gue pengen penjelasan dari dia, tapi dilihat-lihat, dia bahkan gak tau masalahnya. Jadi mengharapkan dia peduli sama gue cuma sekedar menyakitkan hati.
Akhirnya gue memberanikan diri untuk nanya ke orangnya langsung.
"Mau nanya, Denira siapa Vin?" tanya gue gugup, mendapat keheningan panjang yang ia jawab dengan ragu.
"Aku sempet deket sama dia waktu ngejar kamu balik, tapi sekarang aku sama dia bahkan gak pernah ketemu lagi," jelas Kevin dalam satu tarikan nafas, membuat gue akhirnya menghela nafas lega.
Hubungan menurut gue, tentang kejujuran satu sama lain, tentang gimana lo mempercayakan sebuah rasa pada pasangan lo sendiri. Syukur, kami gak dihadapkan pada masalah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Story
Fanfiction𝐈𝐟 𝐢 𝐜𝐨𝐮𝐥𝐝 𝐠𝐢𝐯𝐞 𝐲𝐨𝐮 𝐨𝐧𝐞 𝐭𝐡𝐢𝐧𝐠 𝐢𝐧 𝐥𝐢𝐟𝐞, 𝐢 𝐰𝐨𝐮𝐥𝐝 𝐠𝐢𝐯𝐞 𝐲𝐨𝐮 𝐭𝐡𝐞 𝐚𝐛𝐢𝐥𝐢𝐭𝐲 𝐭𝐨 𝐬𝐞𝐞 𝐲𝐨𝐮𝐫𝐬𝐞𝐥𝐟 𝐭𝐡𝐫𝐨𝐮𝐠𝐡 𝐦𝐲 𝐞𝐲𝐞𝐬, 𝐨𝐧𝐥𝐲 𝐭𝐡𝐞𝐧 𝐰𝐨𝐮𝐥𝐝 𝐲𝐨𝐮 𝐫𝐞𝐚𝐥𝐢𝐳𝐞 𝐡𝐨𝐰 𝐬𝐩𝐞𝐜𝐢𝐚...
