Jam 3 pagi gue bela-belain bangun tidur sepagi ini cuma buat bisa bikin makanan buat orang tuanya Kevin, padahal anaknya masih asik sama temennya di pulau.
Setelah nasi gurih matang, gue menggoreng kentang yang sudah dipotong dadu, sembari merebus berbagai macam jenis sayuran untuk trancam.
Jam setengah 6 pagi gue berhasil menyelesaikan pekerjaan gue. Bokap-Nyokap nya Kevin datang kesini jam 7 pagi, itu artinya gue masih punya waktu.
Gue memutuskan untuk merapihkan barang-barang yang sudah gue buat berantakan di dapur asrama ini, dan melanjutkan untuk pergi mandi.
Gue mengoleskan bedak tipis dan blush-on tipis, serta liptint pink di bibir gue.
"Zoya, bangun lo!" tepuk gue pada selimutnya.
"Iya, makanan disisain gak buat gue?" tanya Zoya dengan suara sengau khas bangun tidur.
"Udah, gue berangkat ya" pamit gue sambil menenteng tas berisi makanan yang gue buat untuk orangtuanya Kevin.
Gue memang berusaha menarik perhatian mereka, jujur saja. Memangnya siapa yang mau jika di pandang jelek oleh orangtuanya pasangan kita? Munafik bila tak berusaha menarik perhatian mereka.
Tapi, lebih dari itu, gue ternyata sayang sama anak mereka. Karena gue sayang sama anaknya, gue harus menghargai orang yang melahirkannya, jadilah gue disini.
"Tante mama sama papanya Kevin kan?" tanya gue sesaat setelah gue menghampiri mereka.
"Iya sayang, kamu Karin ya? Pacarnya Kevin?" tanya tante Nilawati, ibunda Kevin. Gue kemudian mencium punggung tangan ayah dan ibunya Kevin.
"Hehe iya Tan, ku bantu ya Tan" ucap gue sembari mengambil alih koper besar yang dipegang oleh ibu Kevin.
"Gak nyangka, anaknya om dapet yang secantik kamu" ucap om Sugiarto, selaku ayah Kevin.
"Puji Tuhan om," gue beserta kedua orangtuanya Kevin menuju ke mobil gue yang berada di parkiran.
"Kamu di pelatnas Cipayung juga, cantik?" tanya mama Kevin ke gue.
"Iya Tan, Tante dari Banyuwangi take off jam berapa?" tanya gue.
"Tadi jam setengah 5 pagi, maaf ya kalo Kevin ngerepotin kamu" jawab mama Kevin.
"Enggak sama sekali Tante, gak ngerepotin Karin kok" jawab gue yang malah jadi gak enak.
"Ini mobilnya wangi masakan gini, jadi laper loh Tante" ucap mama Kevin.
"Ini kebetulan Karin tadi pagi masak buat Tante sama Om, boleh dimakan Tante, atau mau berhenti di rest area dulu?" Tawar gue, dan disitu gue ngeliat mamanya Kevin melempar senyum manis ke gue.
"Kita di rest area dulu kali ya sayang, biar makanannya santai" tawar mama Kevin yang langsung gue sanggupi dengan berhenti di rest area.
"Kamu masak apa ini?" tanya mama Kevin.
"Ini ada ayam bakar kecap, trancam sama sambel goreng kentang Tante. Ini juga Karin buat jus wortel sama apel. Maaf ya Tante kalo masakan Karin gak seenak masakan Tante" jelas gue.
"Wah, wanginya aja udah harum gini ndok. Gimana gak enak" sambung papanya Kevin yang diangguki oleh mama Kevin.
Mereka berdua mencoba masakan gue dan langsung membulatkan matanya ke gue sembari menggelengkan kepalanya.
"Enak banget sayang, masih hangat lagi" ujar mama Kevin sembari menyuap makanan di hadapan gue.
"Wah, syukur deh nanti Kevin, kalo nikah sama kamu gak akan kelaparan" sahut papa Kevin yang dibalas senyum super lebar dari gue.
Gue bingung mau bawa mereka kemana, karena keduanya terlihat jelas sedang lelah dan butuh istirahat, gak pantes kalo gue harus bawa keliling hotel. Akhirnya, gue memutuskan untuk bawa dia ke hotel untuk check-in dan mendapatkan istirahat yang cukup.
"Tante, Tante sama om istirahat aja, nanti malam saya dan Kevin akan jemput Tante," ucap gue setelah mendorong koper mereka masuk ke kamar hotel.
"Sayang, makasih sudah baik memperlakukan kami, tadi makanannya enak" ucap mama Kevin.
"Iya Tante sama-sama, kalo butuh apa-apa, telfon saya aja Tante," gue pamit pulang ke asrama, sepertinya rencana bawa mereka jalan-jalan setelah sampe Jakarta gagal, karena kasian merekanya capek dan butuh istirahat.
Gue menelpon Kevin, untuk mengabari bahwa orang tuanya sudah sampai selamat lahir batin.
"Halo," sapa Kevin, suaranya samar-samar karena berisik.
"Tante dan om sudah sampe,"
"Aku jemput kamu jam 1," ucap Kevin.
"Ngapain jemput? Gue masih punya tangan dan kaki buat nyetir,"
"Masih ngambek?" tanyanya.
"Memangnya gue bocah ngambek-ngambek, gue lebih ke gak habis pikir sama otak lo," ucap gue kesal.
"Maaf, aku salah" pasrahnya.
"Jelas lo salah, mau dimasakin gak pas jemput?" tanya gue.
"Mau, bikinin spaghetti dong" ujar Kevin semangat.
"Iya, dah tutup telfonnya,"
"Jangan dulu!!" sela Kevin heboh.
"Apalagi?"
"I love you," aku Kevin bikin gue gak bisa nahan senyum dan tawa gue.
"I love me too,"
"Kok gitu? Don't you love me back?" tanya Kevin sebal.
"Hmm, i love you too, bye"
Tut
Sengaja langsung gue tutup karena kalo enggak, speaker iphonenya bisa rusak sama teriakan heboh dari gue.
Sebelum pulang ke asrama, gue menyempatkan diri untuk beli bahan di supermarket terdekat sekaligus lewat.
Jam 12,
Setelah gue menghabiskan waktu buat Zoya kampret yang ikut-ikutan mau spaghetti tapi pake bumbu aglio Olio itu gue langsung pergi mandi karena keringat yang dihasilkan saat masak.
"Heh, Joy!! Minjem ikat rambut dong," tipikal gue si manusia lupa, yang hampir ninggalin barang setiap gue pergi ke manapun.
"Nih," dia ngelempar karet rambut yang ada di kotak mejanya.
Kevin udah line gue, dia udah sampai di depan asrama, dan gue masih nyari kotak makan isi spaghetti yang gak tau gue taruh dimana sehabis ngebungkus makanannya di paperbag.
"Heh, nenek-nenek, nih tas paperbag lo," serah Zoya dari dapur, gue nyengir lebar karena kebiasaan buruk gue. Jangan sampe gue lupa kalo punya pacar ya Tuhan.
Gue ngeliat Kevin udah rapih di depan mobilnya sambil mainin handphone yang dimiringkan yang sepertinya sedang main game.
"Hm" deheman gue kencang, sengaja, biar menyadarkan orang dihadapan saya ini.
"Eh iya ayo," Kevin langsung menutup handphonenya dan memasukkan ke kantung celananya.
"Nih," sodor gue yang menenteng paperbag berisi kotak bekal.
"Siapa suruh? Suapin juga," najis tralala dah nih orang, lebay banget kaya bucin.
"Idih ogah," balas gue.
"Aku lagi nyetir," lanjutnya.
"Iya terus?" jawab gue bodoamat.
"Kenapa sih? Kaya gini aja jadi masalah, jangan ngekang aku lah, aku kan juga perlu waktu sama temen-temenku," lah? Kenapa nyambung kesana sih, bikin mood gue ancur aja, mana lagi PMS, nyari mati nih orang kali.
"Vin, lo kemarin janji mau nemenin gue ke panti asuhan, terus gak jadi akhirnya, gue maklumi, lo gak ngabarin 4 hari, for fuck sake! Gue maklumi, mungkin emang lagi butuh istirahat habis turnamen, lo minta gak di ganggu waktu lagi sama temen lo, gue iyain, lo gak bisa jemput bokapnyokap lo, gue jemputin, dan sekarang lo bilang gue ngekang lo? Punya otak gak sih lo?!" Maki gue sambil nangis, iya beneran gue nangis.
KAMU SEDANG MEMBACA
Story
Fanfiction𝐈𝐟 𝐢 𝐜𝐨𝐮𝐥𝐝 𝐠𝐢𝐯𝐞 𝐲𝐨𝐮 𝐨𝐧𝐞 𝐭𝐡𝐢𝐧𝐠 𝐢𝐧 𝐥𝐢𝐟𝐞, 𝐢 𝐰𝐨𝐮𝐥𝐝 𝐠𝐢𝐯𝐞 𝐲𝐨𝐮 𝐭𝐡𝐞 𝐚𝐛𝐢𝐥𝐢𝐭𝐲 𝐭𝐨 𝐬𝐞𝐞 𝐲𝐨𝐮𝐫𝐬𝐞𝐥𝐟 𝐭𝐡𝐫𝐨𝐮𝐠𝐡 𝐦𝐲 𝐞𝐲𝐞𝐬, 𝐨𝐧𝐥𝐲 𝐭𝐡𝐞𝐧 𝐰𝐨𝐮𝐥𝐝 𝐲𝐨𝐮 𝐫𝐞𝐚𝐥𝐢𝐳𝐞 𝐡𝐨𝐰 𝐬𝐩𝐞𝐜𝐢𝐚...
