Salma memasuki bis dengan wajah berseri-seri. Membuat sahabatnya bertanya-tanya pada Salma.
"Sal, Lo tau ga kenapa Egi bisa nelpon sama lo pake hp gue?" Tanya Eliana terlihat seperti dia akan menceritakan sesuatu.
Salma hanya menggeleng sebagai jawaban.
"Dia tiba-tiba nyamperin gue, terus bilang 'gue boleh minjem hp lo? Mau telpon seseorang, hp gue lowbat'. Emang gaada temen yang lain gitu? Kenapa harus ke gue coba, Sal. Terus dia nelpon gitu kan, cara bicaranya beda banget, pake saya-kamu segala lagi. Nah, gue kaget pas liat siapa yang udah dia telpon, itu elo, Sal. Gue belum sempet minta penjelasan, eh dia udah tutup mulut gue dengan embel-embel 'nanti gue beliin sesuatu buat Lo, makasih ya' terus pergi gitu aja. Ya gue kan jadi bingung gitu loh, Sal" jelas Eliana panjang lebar membuat Salma tersenyum bahagia.
"Dia ga nunjuk dirinya pake 'saya' waktu ngomong sama lo? Tanya Salma memastikan.
"Engga, Sal. Bilangnya lo-gue an"
Salma tertawa renyah mendengarnya. Entah kenapa rasanya benar-benar bahagia. Seperti dia dia anggap beda oleh seorang Egi Mahesa. Sosok yang sudah dia perhatikan selama 7bulan lebih ini kini sudah melihat keberadaannya, dan membuat kupu-kupu berterbangan dalam perut Salma.
"Lo ada hubungan sama dia, Sal?" Tanya Eliana hati-hati.
"Ngaco kali lo, dia mengetahui keberadaan gue aja baru sekarang, El. Masa iya udah langsung punya hubungan gitu aja. Gercep banget" tukas Salma sambil tertawa renyah untuk meyakinkan sahabatnya yang kini hanya mengangguk mengerti.
Beberapa saat setelah Salma berhenti membicarakan Egi, sosok manis yang tinggi itu muncul dari pintu bis. Salma dengan cepat mengalihkan pandangannya pada luar jendela. Dari sudut matanya, Salma bisa melihat bahwa Egi berjalan ke arahnya.
Ya iya, orang satu-satunya jalan kebelakang cuma ngelewatin keberadaan Salma doang.
Salma kira, Egi akan melewatinya begitu saja. Namun Salma salah. Karna sekarang, Egi sedang berdiri tepat di bagian kursi Salma. Namun, dia tetap berusaha untuk mengalihkan pandangannya pada benda apapun yang ada di dekatnya.
"Hm, ini tanda terimakasih gue"
Eliana tersenyum bahagia saat apa yang diberikan oleh Egi adalah sebuah ice cream kesukaannya.
"Makasih egii" ucap Eliana tulus.
Egi hanya membalasnya dengan senyuman saja.
"Dan kamu, ini titipan dari mas kasirnya" ucap Egi seraya menyimpan coklat greentea itu pada pangkuan Salma, kemudian pergi meninggalkan Salma yang masih terkejut dengan apa yang telah dilakukan Egi padanya.
Salma dan Eliana saling memandang, keduanya melemparkan tatapan tidak mengerti.
"Gue yakin setelah ini, Lo bakal ada apa-apanya sama dia, Sal." Ucap Eliana dengan yakin.
"Ngaco lo sumpah" Salma menjawabnya dengan tertawa renyah.
Saat sedang berniat akan mengabadikan pemberian dari Egi lewat kamera, tiba-tiba layar pada ponselnya memunculkan nama seseorang yang mengiriminya pesan lewat aplikasi line.
Mahesagi.
Gausah di foto, nanti saya kasih yang lebih dari itu.
Setelah membaca itu, Salma sedikit tertawa. Kemudian dia melihat kebelakang, menemukan Egi yang sedang menahan tawa melihat Salma. Setelah itu, Salma kembali duduk mengambil posisi yang nyaman kemudian membalas pesan Egi.
Ini saja sudah cukup, terimakasih yaa.
Loh kenapa makasihnya sama saya?
Tolong sampaikan saja pada mas kasirnya.
Tidak usah, ya?
Loh kenapa?
Mas kasirnya hanya terima hati, bukan terima kasih lagi
Kamu sudah kenal lama sama mas kasirnya?
Kebetulan saya yang jadi mas kasirnya.
Jari Salma kemudian tidak bisa bergerak lagi. Wajahnya memanas melihat pesan terakhir dari Egi. Hangat menjelajar dari seluruh tubuhnya. Hangat yang asing kini dia rasakan dari seorang Egi Mahesa. Manusia yang sudah dia cintai tanpa bersua pada siapapun. Manusia yang sudah membuat hari-harinya tidak menentu. Manusia yang selama ini tidak pernah melihat kearahnya, kini bersikap manis hanya kepadanya. Meski tidak bisa dipungkiri, Salma masih takut untuk percaya diri. Sebab, takut-takut Egi tidak hanya bersikap manis seperti itu hanya kepadanya. Karna secara luas, Egi itu orang yang ramah pada siapapun apalagi pada wanita.
Handphone yang sedang di genggamnya itu bergetar menampilkan ikon telpon dari Egi, membantu Salma sadar kembali pada kenyataan. Setelah dibiarkan bergetar tiga kali, kemudian Salma mengangkat telpon itu.
"Ke- kenapa?" Suara Salma terdengar gugup.
"Sudah, tidur saja. Tidak perlu memikirkan mas kasirnya"
"Hmm" terlalu bahagia membuat Salma hanya bergumam membalas perintah Egi.
"Istirahat ya, Sal. Tempat tujuannya masih lumayan jauh"
"Iyaa"
"Tapi tidak usah dimatikan ya telponnya?"
"Kenapa memangnya?"
"Suara nafasmu lebih enak di dengar daripada lagu-lagu yang biasa saya dengarkan"
Salma tertawa mendengarnya.
"Tapi aku lagi ga pake earphone"
"Oh yasudah, saya matikan telponnya ya. Kamu harus tidur sekarang"
"Iya"
"Selamat tidur, Salma"
Tidak lama dari itu, Egi memutuskan telponnya. Salma tersenyum senang karena perlakuan Egi terhadapnya. Seperti manusia yang selalu menurut pada inginnya semesta, Salma tidur setelah merasa cukup untuk berbahagia hari itu.
*****
Insomnia membuat kalang kabut. Jadi kuputuskan saja untuk mempublikasikan bagian ini yang semoga bisa menghibur kalian semua dan pada akhirnya bisa memberikan dukungan pada ceritaku yang tidak seberapa ini.
Terimakasih.
KAMU SEDANG MEMBACA
Filosofi Senja
Teen FictionSalma, wanita yang selalu jatuh cinta pada pesona senja. Entah dari bagaimana senja datang, hingga pada saat bagaimana senja membuat langit menjadi penutup hari yang begitu indah. Meski pada kenyataannya, senja membawa gadis itu kepada langit berhia...
