Jaehyun mencari Jiyeon seperti tiada hari esok.
Gadis itu tidak ada di apartment juga di rumah orang tuanya. Jiyeon tidak bisa dihubungi, juga tidak dapat ditemukan dimanapun. Jaehyun sudah berburuk sangka jika gadis itu akan kabur menjelang hari pernikahan mereka sebelum ia mendapatkan informasi dari tempat Jiyeon bekerja jika gadis itu tengah menjadi relawan mengikuti proses evakuasi di sebuah desa terpencil yang terkena bencana beberapa hari yang lalu.
Adalah kekacauan, juga kesedihan yang Jaehyun temukan ketika menginjakkan kakinya pada tempat evakuasi sore itu. Jaehyun berjalan menyusuri puing bangunan yang runtuh akibat badai, juga tenda-tenda tempat berteduh seadanya di penghujung musim panas tahun itu.
Jiyeon tampak tengah memapah seorang lansia dengan perban di lengan saat Jaehyun menemukannya. Dan tidak butuh waktu lama bagi gadis itu untuk menyadari kehadiran Jaehyun yang memang nampak sangat mencolok disana.
“Sejak kapan kamu disini?”
Jiyeon berdiri di belakang Jaehyun yang memunggunginya. Lelaki itu lebih memilih menatap hamparan rerumputan yang luas, menolak untuk menatap Jiyeon semenjak beberapa menit yang lalu.
“Tiga hari yang lalu.” jawab Jiyeon.
“Kenapa nggak ngabarin kakak? Kamu sadar nggak sih, posisi kamu saat ini?”
Jiyeon yang semula menunduk kini mengangkat kepala, menatap Jaehyun yang berbicara dengan nada jengkel yang kentara.
“Kamu udah mau jadi seorang istri, tapi bahkan minta izin untuk pergi sejauh ini aja nggak bisa. Setidaknya, kamu kasih tau kakak kamu ada dimana. Bukannya hilang nggak jelas gitu aja.”
Jaehyun berbalik, mata mereka beradu.
“Atau kamu sebenernya memang belum siap menikah? Belum merasa agenda kita ini penting buat kamu?”
Jaehyun menatapnya tegas, namun gadis itu tampak tidak takut sama sekali padanya.
“Buat apa aku ngabarin, kakak? Toh yang baca dan bales semua pesanku tetep kak Yuta. Aku justru kaget kakak sadar kalau aku udah menghilang selama tiga hari. Aku pikir, kakak nggak akan pernah tau kalau aku sempat pergi jauh.”
“Kamu ngomong apa sih?”
“Kakak sadar nggak sih, kakak sendiri belum siap jadi suami? Suami mana yang ninggalin istrinya tanpa kabar, nyerahin semua urusan keluarga ke tangan sekretaris? Aku mau nikah sama kakak atau sama kak Yuta memangnya? Jadi yang nggak perduli sama agenda kita ini aku atau kakak?”
Jaehyun memijit pangkal hidungnya keras. Pening semakin melanda kepalanya.
“Jiyeon, kakak kerja buat kamu. Kakak sibuk buat kamu. Kakak cari duit juga buat kamu. Kamu nggak ikhlas ngurusin pernikahan kita sendirian? Kenapa? Capek?”
“Kalau aku nggak ikhlas dan capek, udah dari dulu aku berhenti ngurusin semua ini kak.” setetes air mata jatuh di pipi Jiyeon.
“Kak.. aku nggak butuh banyak materi. Aku nggak butuh kakak jadi kaya raya buat aku. Kakak nggak harus kerja sesibuk ini. Uang nggak bisa beli kebahagiaan, kak. Aku justru lebih bahagia kalau kakak mau ngeluangin waktu ngurus pernikahan ini bareng aku. Ini rencana besar kita berdua, kan? Kakak juga mau ini jadi momen penting buat kita, kan, kak?”
“Aku nggak masalah harus ambil cuti dan kakak tetap kerja. Tapi kasih aku sedikit waktu. Kalau sebelum nikah aja kakak bisa ninggalin aku dan rencana besar kita, aku harus percaya sama siapa lagi kalau penikahan ini bakal berhasil?”
Kala itu Jaehyun baru menyadari jika benar bahwa mungkin ia terlalu berlebihan dan sudah melewati batas kesabaran Jiyeon. Gadis itu pergi dengan mata basah dan isakan kecil yang samar. Meninggalkan Jaehyun sendirian ditengah pikirannya yang berkecamuk kalut.
KAMU SEDANG MEMBACA
[✔] Way Back Home | Jung Jaehyun
RomanceIs it possible for home to be a person and not a place?
![[✔] Way Back Home | Jung Jaehyun](https://img.wattpad.com/cover/178582498-64-k225126.jpg)