“Jadi Jisung itu siapanya kakak?”
Jaehyun melihat Lami yang melirik bundanya dengan mata menuduh, lalu kembali padanya.
“Bukan siapa-siapa, Ayah. Cuma temen UKM Dance dulu.”
“Tapi kakak suka?”
“Dek! Apaan sih?”
“Jawab iya atau enggak kan nggak susah, kak.”
“Kamu iseng banget.”
“Loh kok iseng? Kan bunda bilang—“
“Dave..”
David diam setelah ditegur sang bunda. Tapi itu bukan berarti Lami terbebas dari introgasi ayahnya.
Selama ini putri pertama keluarga Jung itu memang tidak pernah terlihat tertarik dengan hubungan asmara. Lami adalah tipikal anak yang sangat serius dan fokus dengan pendidikannya. Karena itulah sepanjang sekolah menengah hingga menginjak bangku perkuliahan, Jiyeon dan Jaehyun tidak sama sekali mendengar Lami bercerita perihal lelaki.
“Jadi, kakak suka Jisung?”
Jaehyun dapat merasakannya. Betapa kedua pipi lembut putrinya memerah di bawah lampu ruang makan yang terang. Jiyeon dulu juga seperti itu. Tapi Lami tampaknya lebih keras kepala.
“Enggak, ayah. Kakak kan udah bilang mau fokus kuliah dulu.”
“Kalau suka juga nggak apa-apa, sayang. Kakak udah cukup dewasa kok untuk memulai suatu hubungan.”
Lami menatap Jiyeon yang berbicara lembut sembari mengusap tangannya, memberikan rasa percaya.
“Tapi bun—“
“Kak, ayah sama bunda nggak pernah ngelarang kakak untuk pacaran. Selama ini juga kakak masih sendiri karna pilihan kakak. Asalkan, kakak coba kenalin dulu cowoknya ke rumah. Setidaknya, ayah sama bunda mau lihat cowok yang udah ngerebut hati putri cantik ayah ini cowok baik-baik atau enggak.”
Tiga bulan setelahnya, bel rumah berbunyi sesaat setelah acara makan malam selesai. Jaehyun kemudian menatap putri pertamanya yang berdiri tepat di depan pintu kamarnya dan Jiyeon untuk mengatakan,
“Ayah, bunda, ada yang mau ketemu.”
Lalu mereka berempat duduk di sofa ruang keluarga.
Jaehyun duduk berhadapan dengan tamu mereka, menyisakan Lami dan Jiyeon di sudut sofa lainnya. Lami tampak menunduk entah karena takut atau malu, tapi lelaki bernama Jisung itu justru tampak luwes berbicara dan memperkenalkan diri pada ayahnya.
“Sudah berapa lama pacarannya?”
Jisung menggeleng dan tersenyum tipis. “Belum pacaran, om.”
“Loh?”
“Lami bilang harus minta izin ayah bundanya terlebih dahulu.”
“Kenalnya, udah lama?”
“Sudah semenjak Lami tingkat pertama, om.”
“Jadi selama ini kalian ngapain? Cuma temen? Atau sukanya baru-baru ini?”
Jisung tampak tersenyum simple mendengar pertanyaan Jaehyun. “Sukanya juga udah lama, om. Tapi kita sepakat cuma temenan.”
“Kakak tau?”
Kali ini perhatian Jaehyun tertuju pada putrinya. Gadis yang menunduk itu mengangkat kepalanya dan mengangguk pelan.
“Terus kenapa baru datang sekarang, nak Jisung?”
Jaehyun melihat lelaki itu menatap putrinya sejenak, lalu kembali menatap Jaehyun tepat di bola matanya. Sikap beraninya itu, membuat Jaehyun sedikit terkesima.
“Saya sudah bersedia datang dari dulu, om, tante. Tapi Lami bilang dia belum siap untuk ngasih tau ayah dan bundanya, jadi saya menunggu Lami siap terlebih dahulu, om.”
Jaehyun terkesiap, begitupun Jiyeon. Tatapan serius Jisung pada mereka, juga sikap luwesnya yang penuh percaya diri mau tidak mau membuat hati keduanya luluh.
“Nak Jisung, om sama tante nggak pernah melarang Lami untuk menjalin hubungan. Seandainya memang kalian serius, silahkan diskusikan berdua. Om dan tante cuma berharap nak Jisung nggak menyakiti putri kami. Karena saat Lami mulai membuka hatinya untuk nak Jisung, saat itu juga kami sebagai orang tua mulai menaruh kepercayaan sama laki-laki yang berhasil bikin putri kami jatuh hati.”
“Saya serius, om. Walaupun ini masih terlalu dini dan saya nggak bisa menjanjikan apapun untuk masa depan Lami, tapi saya sangat serius dengan putri om dan tante. Bahkan seandainya Lami belum siap saat ini juga, saya masih berkenan menunggu untuk meminta izin sama om dan tante di lain waktu.”
Jaehyun menatap Lami yang mengantarkan Jisung selesai lelaki itu bertamu. Hari sudah menunjukkan pukul sembilan malam dan lelaki itu sadar bahwa memang sudah saatnya untuk ia pulang.
Dari balkon kamar mereka di lantai dua, Jaehyun memeluk pundak Jiyeon yang menyandarkan kepalanya pada dada sang suami. Putri mereka sudah beranjak dewasa. Jaehyun dapat melihat bagaimana hati-hatinya Lami berusaha menyamankan perasaan kedua orang tuanya perihal keputusan gadis itu untuk menjalin suatu hubungan.
Dan Jisung, Jaehyun rasa adalah sosok yang tepat untuk putrinya.
Lelaki itu tampak bertanggung jawab dan sangat sopan. Ia menghargai Lami selayaknya seseorang yang ia cintai.
Dari atas Jaehyun dapat melihat Lami yang berdiri di hadapan Jisung, namun menunduk. Mereka tampak berbicara serius. Raut wajah Jisung tampak tenang dan penuh kelegaan. Tak lama kemudian Lami tampak mengangguk. Lalu Jisung menarik gadis itu dengan lembut ke dalam pelukannya.
“Si kakak udah gede, ya, yah?”
Jaehyun dapat merasakan cengkraman Jiyeon pada piyama di dadanya menguat. Ia menggerakkan tangan, mengusap lengan sang istri menenangkan. Tidak dapat dipungkiri, perjalanan mereka sudah sangat jauh. Kini, putri kecil yang dulu keduanya timang sudah beranjak dewasa dan akan memiliki dunianya sendiri.
“Hm-m. Sebentar lagi udah punya dunianya sendiri.”
“Rasanya baru kemarin kakak nangis karna gigi pertamanya tumbuh.”
Jaehyun mengecup sayang pelipis istrinya, memberikannya rasa nyaman. Lagipula, secercah rasa bahagia menyelimuti relung hati keduanya mengetahui bahwa setidaknya putri pertama mereka sudah menemukan hati untuk bermuara.
KAMU SEDANG MEMBACA
[✔] Way Back Home | Jung Jaehyun
RomanceIs it possible for home to be a person and not a place?
![[✔] Way Back Home | Jung Jaehyun](https://img.wattpad.com/cover/178582498-64-k225126.jpg)