Reditus (End)

6.1K 754 118
                                        


"Grandmi!"

"Emiii!"

Sora berlarian menggenggam jemari Hendery, putra pertama David yang kini berumur tiga tahun. Sementara Lami berjalan di belakang mereka, terkekeh lucu sambil mendekap Junki, balita berumur satu setengah tahun dalam gendongannya.

Kedua bocah kecil itu sudah duduk di pinggiran pusara sang nenek, mencabuti satu persatu rumput liar yang mulai tumbuh disana semenjak terakhir kali mereka berkunjung satu bulan yang lalu.

David berdiri di samping sang ayah, ditemani Jisung yang membawa beberapa barang untuk diletakkan di pusara ibu mertuanya. Mereka berdoa bersama disana, sesekali melepaskan gelak tawa akibat kelakar ketiga malaikat yang kini terlihat semakin aktif itu.

"Bunda, Dave punya kabar bahagia."

Putra bungsu keluarga Jung itu merogoh saku dan meletakkan foto usg di atas pusara Jiyeon.

"Allin hamil, cucu ke-empat bunda on the way nih."

Seluruh pasang mata melerai tawa meski bukan sepenuhnya karena bahagia. Ujung mata masing-masing sudah digenangi air, sibuk saling menahan diri agar tak perlu ada lagi air mata yang tumpah karena mereka yakin sang bunda sudah tenang dan bahagia disana.

"Jaga calon anak ke-dua kita, ya, bun. Dave tau bunda selalu jagain kita dari sana."

Lami tampak tidak tenang, seperti biasa, usai mereka mengunjungi pusara sang bunda. Karena pada akhirnya sang ayah akan tetap bertahan disana untuk waktu yang lebih lama. Menikmati keintiman berdua bersama kekasih hatinya.

Jaehyun hanya mengusap tanah pusara Jiyeon lembut. Tidak ada air mata yang tumpah dari matanya seperti empat tahun lalu. Meski untuk bangkit dari keterpurukan itu, ia berusaha puluhan kali lebih kuat dari sebelumnya.

Bulan-bulan pertama tanpa kehadiran Jiyeon terasa seperti neraka. Jaehyun mengurung diri di dalam kamarnya untuk beberapa hari, lalu setelah itu ia hanya akan bolak-balik diantara kamar dan halaman belakang rumah. Tempat ia dan sang istri sering menghabiskan waktu dulu.

Tanpa celotehan cerewet dari Jiyeon, nasihat dan pengertiannya, sarapan dan makan malam darinya, hidup Jaehyun terasa begitu hampa.

Kehilangan Jiyeon adalah kehilangan terbesar yang pernah ia alami.

Jaehyun hanya tak menyangka jika kekasih hatinya itu memiliki dampak yang begitu besar terhadap hidupnya. Keabsenan Jiyeon membuat Jaehyun hilang arah, hilang tujuan. Karena selama ini tujuan hidupnya memang hanya membahagiakan sangbpemilik hati.

Kedua putra dan putrinya juga sudah berusaha kuat untuk merangkulnya. Jaehyun tidak pernah meragukan itu, bahwa Jiyeon mendidik anak-anak mereka dengan baik. Hingga bahkan saat sudah memiliki kehidupan masing-masing pun, tak ada satupun dari mereka yang meninggalkan Jaehyun setelahnya.

"Sayang, apa kabar? Kamu pasti masih jadi yang paling cantik diantara banyak bidadari surga." Jaehyun tersenyum lirih menatap pusara yang tertuliskan nama Jiyeon,

"Tujuan hidup kakak udah terpenuhi, membahagiakan kamu dan anak-anak kita. Do you mind if im coming home, now? Kakak.. capek. Butuh istirahat dan pulang."

Teriakan ketiga cucunya menyambut kedatangan Jaehyun yang berjalan dari pusara. Lami memeluk ayahnya erat, begitu pula dengan David.

"Malam ini pada nginep di rumah, ya? Ayah kangen barbeque-an sama kalian."

Tidak ada yang lebih membahagiakan daripada melihat kedua anaknya berbahagia, juga menyaksikan tumbuh kembang ketiga cucunya di hari tua.

Jaehyun duduk di kursi goyang yang diletakkan Lami di halaman belakang rumah. Sementara yang lain sibuk dengan tugas masing-masing.

Riuh suara rumah mengingatkan Jaehyun pada Jiyeon. Pada apapun usaha yang ia lakukan untuk berbahagia selama empat tahun ini, namun berakhir gagal. Pada rasa lelahnya menutupi kerinduan yang begitu dalam kepada kekasih hati. Pada masa-masa ia pernah berjanji bahwa kemanapun ia pergi, akan selalu ada rumah bernama Park Jiyeon yang menjadi tempatnya untuk kembali.

Senja yang berpulang ke pangkuan malam menjadi saksi bahwa sore itu Jaehyun pun kembali pulang. Pada satu-satunya rumah yang ia miliki di sepanjang hidupnya. Menyusul sang istri ke tempat dimana pertemuan dan cinta mereka akan kekal abadi. Menebus rindu yang sudah terlalu lama memendam di hati.

Sore itu Jaehyun berpulang, ditengah riuh bahagia yang keluarga kecil putra putrinya miliki.


Remember when i told you no matter where i go.
I'll never leave your side, you'll never be alone.
Eve when we go through changes, even when we're old.
Remember that i told you i'll find my way back home.


--

Cerita ini terinspirasi dari lagu Shaun - Way Back Home. Coba dengerin deh, serius enak banget lagunya!

By the way makasih ya buat yg udah baca dan sangat apresiatif! See you in another work😊

[✔] Way Back Home | Jung JaehyunCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang