Lami tumbuh dengan baik dan sehat. Putri pertama mereka tampak begitu ceria dalam gendongan tangan Jaehyun saat Jiyeon tengah sibuk memasak di dapur.
“Nda, ndaaaaaa..”
Putri kecil itu bergerak aktif dan menggelinjang hebat saat Jaehyun mencium seluruh wajahnya dengan brutal, membuat si gadis geli. Namun alih-alih mampu berlari menuju Jiyeon, Lami sudah kembali melayang ke dalam pelukan sang ayah.
Jiyeon menatapnya dari dapur dengan senyum yang tak putus. Sebelah tangan mengaduk kaldu samgyetang dalam panci dan sebelahnya lagi mengusap perut buncitnya lembut.
Bukan tanpa alasan keduanya melabeli Lami dengan panggilan kakak semenjak ia masih berada di dalam kandungan. Jaehyun pernah berkata bahwa itu adalah harapan, bahwa semoga Lami akan memiliki adik-adik lainnya yang akan semakin memeriahkan rumah mereka nanti.
Kandungan Jiyeon sudah berusia delapan bulan saat Lami menginjak usia tiga setengah tahun. Gadis kecil itu sudah mengerti mengapa ia dipanggil kakak, juga bahwa sebentar lagi ada adik kecil yang harus ia jaga di dalam rumah.
Segalanya terjadi begitu cepat di suatu pagi di akhir musim dingin saat Jiyeon merasakan kontraksi usai ia membangunkan Jaehyun. Jiyeon terjatuh di pintu kamar dengan air ketuban yang mulai mengalir dikakinya.
Jaehyun datang dengan panik dan segera membawa Jiyeon ke rumah sakit.
Perjalanan menuju rumah sakit adalah hal paling menakutkan terjadi sepanjang hidup Jaehyun. Bagaimana Jiyeon terisak kesakitan juga pandangan Lami yang tampak takut karena melihat bundanya yang menangis tersedu hampir membuat Jaehyun hilang akal.
“Bagaimana, dok?”
Lami memeluk leher Jaehyun saat dokter menerangkan bahwa Jiyeon harus melakukan operasi cesare karena kandungannya tidak cukup kuat untuk melahirkan normal.
Malam itu, Jaehyun menunggu hampir dua jam lamanya sebelum mendengar tangis kecang bayi dari dalam ruangan.
Jiyeon tampak masih terlelap, tapi dokter memastikan jika itu hanya karena efek anastesi. Saat Jiyeon sudah dipindahkan kedalam ruangannya, Jaehyun berdiri membawa Lami pada ruangan lainnya yang penuh dengan bayi-bayi mungil namun terbatasi kaca.
“Itu.. adek?”
Lami menunjuk bayi yang tampak menggeliat dalam box inkubator. Pipinya merah, bibirnya tampak tipis seolah mewarisi garis wajah Jaehyun. Putra keduanya lahir prematur. Dan pada akhirnya menjadi malaikat terakhir yang akan hadir dalam rumah tangga mereka karena,
“Rahim aku diangkat?”
Jaehyun mengangguk, menggenggam jemari Jiyeon dengan kedua tangan. Lami sudah tertidur di bed lain di sisi ruangan. Mata Jiyeon tampak berkaca-kaca dan Jaehyun mengerti akan kesedihannya.
“Dokter bilang rahim kamu lemah dan ada luka dalam karena benturan, kalau dibiarin ada kemungkinan menimbulkan infeksi atau penyakit lain dikemudian hari. Ikhlas ya sayang.”
Jaehyun mengeratkan genggamannya pada jemari Jiyeon.
“Tapi kak.. perempuan mana yang akan ngerasa sempurna tanpa rahim?”
Air mata Jiyeon mengalir, terisak sendu. Jaehyun berdiri dan duduk di pinggiran ranjang. Meraih Jiyeon kedalam pelukannya.
“Sayang, dengerin kakak.” Jemari Jaehyun menangkup pipi sang istri lembut. “Kamu itu wanita paling sempurna buat kakak. Kamu punya kakak, kamu punya dua malaikat kecil kita. Kakak nggak minta apa-apa lagi dari kamu. Nggak perlu merasa bersalah, ya?”
Masih mengecup pelipis Jiyeon berkali-kali, Jaehyun mendengar dan menemani sang istri menangis hingga ia terlelap. Tanpa Jiyeon tau jika lelaki itu begitu teriris melihat sang istri tampak sangat terpukul dengan keadaannya.
Sejujurnya, meski Jiyeon tak mampu memberinya keturunan sekalipun Jaehyun selalu dan akan selalu merasa jika Jiyeon adalah wanita paling sempurna untuknya.
Anak adalah anugerah dari Tuhan dan mereka telah diberikan dua kepercayaan. Jaehyun bahkan tak mampu meminta lebih pada Jiyeon karena wanita yang begitu ia cintai itu telah memberikannya segala hal berlimpah tanpa ia sadari.
KAMU SEDANG MEMBACA
[✔] Way Back Home | Jung Jaehyun
RomantikIs it possible for home to be a person and not a place?
![[✔] Way Back Home | Jung Jaehyun](https://img.wattpad.com/cover/178582498-64-k225126.jpg)