Hari pernikahan David pun datang. Tanggal yang semula akan diundur mengingat kesehatan sang bunda yang semakin menurun pada akhirnya tetap terlaksana karena Jiyeon menolak keras usulan itu. Ia tidak pernah ingin jadi penghalang bagi kebahagiaan putra bungsunya.
Jiyeon datang dengan bantuan kursi roda. Selama prosesi, ia hanya mampu duduk disana. Menyaksikan betapa maskulin dan gentle nya sang putra bungsu meminang sang gadis pujaan. Betapa semua itu mengingatkan Jiyeon pada pernikahannya bersama Jaehyun puluhan tahun silam. Lelaki yang hingga kini tidak pernah berhenti menggenggam tangannya erat.
“Kalau capek bilang kakak ya, sayang.”
Jiyeon tersenyum mengusap telapak tangan Jaehyun yang menggenggam jemarinya erat di pesta pernikahan David pada malam harinya. Dan usai hari itu rasanya seluruh tanggung jawab Jaehyun dan Jiyeon sudah luruh.
Kedua anak-anak mereka tumbuh dengan sempurna dan mengesankan. Jaehyun tidak pernah mampu menghentikan rasa syukur yang mengalir dalam dadanya mengingat bahwa keduanya sudah berjalan sejauh ini, mengantarkan kedua malaikat titipan Tuhan pada kebahagiaan mereka masing-masing.
“Besok Dave berangkat ke Italy, kan?”
Jaehyun yang baru saja keluar dari kamar mandi mengangguk. Mereka memutuskan untuk menginap di hotel tempat perayaan pernikahan Dave dilangsungkan demi menghindari kelelahan.
“Iya. Habis adek berangkat, kita langsung ke rumah sakit ya?”
Jiyeon merapatkan tubuhnya saat Jaehyun bergabung di atas tempat tidur. Lelaki itu memeluknya, menyamankan posisi mereka berdua di atas tempat peristirahatan. Kesempatan itu, dipergunakan Jiyeon untuk mengukir pola abstrak pada dada sang suami.
“Kenapa, hmm?”
Jaehyun merebut jemari Jiyeon, menyelipkan miliknya disana, mengisi ruang kosong diantara jemari istrinya, menyempurnakan genggaman tangan mereka. Lalu mengecupnya lembut.
“Besok boleh jalan-jalan dulu nggak, kak?”
Mata mereka beradu, Jaehyun sedikit terkejut mendengarnya.
“Mau jalan-jalan kemana?”
Jiyeon terkekeh mendegar tanggapan Jaehyun yang tidak defensif.
“Jalan-jalan di sekitar sungai han? Udah lama kita nggak kesana.”
Tawa Jiyeon menular, Jaehyun mengecup seluruh permukaan wajah wanita yang paling ia cintai itu sebelum mengabulkan permintaanya.
Lagipula Jaehyun tidak pernah mampu menemukan cara menolak binar dalam bola mata galaksi istrinya itu.
Sungai han tampak begitu tenang di akhir musim semi. Cherry blossoms yang bermekaran dan gugur, menghiasi setapak dengan indah. Anginnya yang masih terasa dingin meski tidak lagi menusuk.
Jaehyun masih ingat bagaimana kencan pertama mereka terasa begitu canggung puluhan tahun lalu.
Jiyeon selalu menolak untuk bergandengan tangan, bukan karena ia tidak ingin, tapi kedua pipinya selalu merona dengan cepat sesaat setelah kulit keduanya saling bersentuhan.
Itu, membuat Jaehyun mati-matian menahan rasa gemas untuk tidak menciumi seluruh permukaan wajah si gadis saat itu juga.
Banyak yang berubah dari setapak di pinggiran sungai han. Tentu saja, mereka sudah bertahun-tahun tidak lagi kesana. Sibuk dengan urusan rumah tangga, juga sibuk dengan kebahagiaan sederhana mereka di dalam rumah.
“Kak..”
“Hmm?”
“Dingin.”
Jaehyun terkekeh. Mereka sedang duduk di sebuah bangku taman di bawah pohon yang rindang. Jiyeon sudah meninggalkan kursi rodanya karena ia ingin duduk berdampingan dengan sang suami. Saat itu juga, Jaehyun mengangkatnya dan mereka duduk bersisian.
“Sini, peluk.”
Jiyeon merapat, Jaehyun menenggelamkan wanita yang paling ia cintai itu ke dalam dekapan hangat. Menikmati cherry blossom yang berguguran dan aroma bunga yang begitu wangi. Keduanya memejamkan mata, menikmati kebahagiaan yang tak pernah berhenti untuk mereka bagi satu sama lainnya selama ini.
“Nggak kerasa ya kak kita udah sama-sama puluhan tahun.”
Jaehyun mengangguk.
“Karna kakak bahagia terus sama kamu, jadi waktu rasanya terlalu cepat berlalu.”
Jiyeon mengeratkan pelukannya. “Aku juga bahagia terus sama kakak. Aku pernah bilang makasih ke kakak, belum? Karena udah masuk ke dalam hidup aku dan ngasih kebahagiaan yang nggak putus-putus?”
“Berarti kakak juga harus bilang makasih ke kamu. Karena udah hadir di dalam hidup kakak, ngasih kasih sayang dan cinta yang berlimpah-limpah, ngasih kakak kesempatan untuk jagain dua malaikat titipan Tuhan sama kamu. Makasih ya, sayang. Kakak cinta kamu.”
“Aku juga cinta kakak.”
Hening yang panjang menyelimuti suasana sore itu. Jiyeon menatap lalu lalang pejalan kaki yang tampak tenang. Sementara Jaehyun sibuk dengan cahaya senja yang mulai tampak berpulang ke pangkuan malam.
“Kak..”
“Hmm?”
“Apa yang dipersatukan dan dipisahkan oleh Tuhan, pada akhirnya nanti akan dipersatukan lagi, kan?”
Pelukan Jaehyun mengerat. Bibirnya mengecup penuh kasih kening Jiyeon, lalu menjawab.
“Iya, sayang. Semoga.”
Dua minggu berselang, Jaehyun masih mendekap penuh kasih tubuh Jiyeon. Meski kala itu jiwa wanita yang paling ia cintai itu telah pergi. Tubuhnya telah ditinggalkan. Dan isak tangis kedua anaknya tak lagi terelakkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
[✔] Way Back Home | Jung Jaehyun
RomanceIs it possible for home to be a person and not a place?
![[✔] Way Back Home | Jung Jaehyun](https://img.wattpad.com/cover/178582498-64-k225126.jpg)