Intellectus

3.2K 603 31
                                        

Suatu sore saat Jiyeon baru saja menyelesaikan pekerjaan rumah, Lami tampak masuk dan berlarian menuju kamar dengan kedua pipi berlinangan air mata. Jiyeon menyusulnya, menemukan sang putri sulung tertelungkup di atas ranjang. Kecemasan dengan segera menyerang perasaannya.

“Kakak, bunda bolah masuk?”

Lami bergumam, Jiyeon masuk dan duduk di pinggiran ranjang. Jemarinya mengusap rambut Lami lembut, membuat putrinya itu pelan tapi pasti berbalik badan dan siap untuk bercerita.

“Kakak berantem sama Kak Jisung, bun.” Adunya pertama kali.

“Kenapa? Kalian ada masalah apa?”

Lami menggeleng, kedua pipinya memerah karena tangisan.

“Tadi Kak Jisung ngelamar kakak, tapi kakak belum siap. Mungkin kita berdua lagi sama-sama capek, jadi emosi terus berantem.”

Jiyeon membawa sang putri ke dalam pelukannya dengan segera. Tangis Lami belum mereda hingga bermenit-menit kemudian. Ia tampak terpukul. Mungkin karena itu adalah kali pertama Lami dan Jisung dilanda pertengkaran besar. Gadis itu pada akhirnya merasa bersedih dan menangis hingga terlelap.

Tepat pukul delapan malam, bel rumah berbunyi. Jiyeon menemukan Jisung berdiri canggung di depan pintu. Lelaki itu dipersilahkan masuk, duduk tepat di hadapan Jaehyun dan Jiyeon. Menolak untuk dipanggilkan Lami, karena memang tujuannya adalah bertemu dengan orang tua sang kekasih.

“Jisung mau minta maaf sama om dan tante, mungkin sore ini Lami pulang dalam keadaan yang nggak baik. Jisung minta maaf udah bikin putri om dan tante nangis.”

Lelaki yang sebelumnya selalu tampak percaya diri itu kini terlihat sedikit lemas, seolah ada sesuatu yang membuatnya tak lagi bersemangat.

“Memangnya ada masalah apa, nak? Kenapa sampai bertengkar seperti itu?”

Jaehyun terkesiap saat Jisung mengeluarkan kotak beludru dari saku coat. Meletakkan kotak yang sudah terbuka dan menampilkan cincin metalik sederhana namun elegan itu tepat di hadapannya.

“Jisung melamar Lami sore ini, om. Sebenarnya ini bukan lamaran yang pertama. Jisung sudah mempersiapkan diri dari tahun lalu untuk mengambil tanggung jawab terhadap putri om dan tante, untuk Jisung jadikan istri. Sebenarnya Jisung juga nggak pernah buru-buru, rasanya semua sudah pelan-pelan sekali. Kami berdua sudah melewati hampir segala rintangan dalam hubungan, jadi Jisung pikir sekarang sudah saatnya kami menyempurnakan hubungan ini, om, tante. Jisung ingin bertanggung jawab terhadap Lami, bukan cuma karena kebutuhan untuk terus ada didekatnya, tapi Jisung merasa nggak pernah tenang sebelum memastikan Lami ada di samping Jisung, mendukung dan selalu kasih Jisung support setiap hari. Jisung mulai takut dia direbut laki-laki lain, terlebih Lami terus menolak lamaran Jisung. Jadi kami sedikit berdebat dan sepertinya Jisung menyakiti perasaan putri om dan tante.”

Jaehyun terkesima dengan penjelasan panjang dari Jisung. Dan sedikit banyak mengerti apa yang lelaki itu rasakan. Lami dan Jisung sudah bersama lebih dari tiga tahun. Bukan tidak mungkin jika mereka memutuskan untuk menikah kini. Toh Lami sudah dua puluh lima. Jisung juga sudah mapan. Wajar jika lelaki itu ingin jauh lebih serius pada putrinya.

“Jisung sudah tanya kenapa Lami menolak lamarannya?”

“Sudah, om. Tapi Lami nggak pernah jawab. Dia cuma bilang belum siap, padahal Jisung sudah coba yakinkan, meski nggak bermewah-mewah dan mampu memberikan segala fasilitas seperti yang om dan tante berikan, tapi Jisung bisa jamin Lami nggak akan kekurangan. Jisung bisa bekerja lebih keras lagi kalau ini perihal materi. Tapi Jisung kenal Lami, dan bukan itu yang Lami takutkan. Tapi Jisung nggak bisa menebak-nebak ada apa dibalik ketakutannya, om.”

Jaehyun merasakan genggaman jemari sang istri. Jiyeon menatapnya untuk saling berbagi kepercayaan, lalu ia menatap Jisung lamat.

“Om dan tante coba bicara dulu sama Lami, ya, nak. Mungkin memang ada sesuatu yang dia takutkan. Jisung bisa bersabar sedikit lagi?”

Jisung mengangguk. “Jisung nggak masalah perihal waktu, tante. Jisung bisa menunggu Lami sampai dia siap. Tapi keadaan Lami yang nggak mau berbagi kadang bikin Jisung gelisah dan takut.”

Keduanya melihat kesungguhan dalam bola mata Jisung. Jadi malam itu ketika Lami terjaga, Jaehyun mengetuk pintu kamarnya dan masuk. Kedua mata putrinya tampak sembab, Jaehyun duduk di samping ranjang dengan menyeret sebuah kursi, menatap putrinya lamat.

“Tadi Jisung datang.” ucapnya mengagetkan Lami. “Dia udah cerita banyak hal sama ayah. Tapi ayah pengen denger langsung dari kakak, biar adil.”

Lama mereka terdiam, Lami menunduk dan melihat ayahnya ragu-ragu. Tapi Jaehyun masih disana dengan wajah teduh kebapakan, menunggu Lami bicara.

“Kakak takut, ayah.” Ujar sang putri persis bisikan. “Kakak takut belum pantes jadi istri yang baik untuk Kak Jisung. Kakak takut belum siap dan ngecewain Kak Jisung. Karna itu kakak nggak berani terima lamarannya.”

Air mata Lami kembali luruh. Jaehyun beranjak menuju ranjang dan memeluk putrinya erat-erat. Terkadang, sosok cerdas seperti Lami memang seringkali memikirkan hal-hal yang tidak penting dan itu berakhir membebaninya sendiri.

“Tapi kakak mau, nikah sama Jisung?”

Lami mengangguk lemah. Dan Jaehyun memeluknya semakin erat.

“Kak, dengerin ayah. Nggak ada manusia sempurna di dunia ini. Dulu bunda juga di awal pernikahan nggak sigap ngelakuin ini itu. Dulu ayah juga egois sama bunda. Dulu bunda nggak seenak sekarang masakannya. Dulu ayah juga nggak bisa bagi waktu antara kerjaan dan keluarga. Tapi ayah dan bunda belajar pelan-pelan. Karena semua butuh proses. Dan pernikahan itu, jadi ladang belajar buat kita berdua.”

Jaehyun mengangup pipi putrinya yang memerah karena tangis.

“Kakak lihat keseriusan dalam bola mata Jisung nggak?”

Lami mengangguk.

“Ayah juga. Dia berani, sopan, pekerja keras, bertanggung jawab. Dan, saat dia berani meminta kakak untuk membangun rumah tangga, berarti dia juga udah siap menerima baik buruknya kakak. Membimbing kakak menjadi lebih baik. Sekarang balik lagi ke kakak, kakak percaya nggak Jisung bisa memimpin rumah tangga dengan baik dari sikapnya selama ini?”

Lagi-lagi Lami mengangguk.

“Yaudah, jangan takut, sayang. Jalani semuanya pelan-pelan. Atau kalau memang kakak belum siap, cerita sama Jisung. Setidaknya, jangan bikin dia cemas karena takut kehilangan kakak. Ayah bisa liat gimana besarnya rasa sayang Jisung buat kakak. Kalian butuh lebih terbuka.”

[✔] Way Back Home | Jung JaehyunCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang