Di penghujung tahun saat libur natal dan tahun baru dimulai, Jaehyun membawa Jiyeon untuk terbang menuju daerah kutub. Adalah Saariselka, desa kecil di ujung Finlandia tempat Jaehyun kembali berhasil membuat Jiyeon berdecak kagum.
Lelaki yang telah mengambil tanggung jawab sebagai suaminya itu datang dengan ide tinggal di dalam rumah igloo selama empat hari.
Adalah kaca termal yang membuat mereka mampu melihat indahnya aurora di setiap malam yang hangat karena saling berpelukan.
Rumah tinggal sederhana itu tampak hangat dengan lampu oranye yang menyala terang. Di dalamnya terasa sangat nyaman. Ada kaus kaki juga selimut yang terbuat dari wol disana.
Jaehyun membawa Jiyeon untuk makan malam ditemani aurora di hari kedua mereka menginap. Rasanya seperti mimpi, terlalu indah untuk menjadi kenyataan.
“Udah?”
Jaehyun melihat Jiyeon mengangguk, lelaki itu segera menyelipkan tangannya pada lekukan kaki juga pundak Jiyeon dan mendudukkannya di atas closet yang sudah ditutup. Flush dinyalakan. Jaehyun menampung air dari wastafel dan mengusap ujung bibir Jiyeon pelan.
Salah satu tangannya masih sibuk mengusap tengkuk sang istri. Sementara Jiyeon tampak menyandar lemas, menenggelamkan wajahnya kedalam perut Jaehyun.
“Kakak panggilin dokter, ya?”
Jiyeon menggeleng lemah. “Katanya hari ini ada yang mau kakak liatin ke aku? Kapan?”
“Nanti sore. Tapi kalau kamu masih sakit, mending kita stay di kamar aja.”
Lagi-lagi Jaehyun merasakan istrinya menggeleng pelan. “Tetep kesana ya? Aku mau lihat apa yang kakak siapin buat aku.”
Jaehyun bergumam menjawab. Kedua tangannya kembali terselip di tubuh Jiyeon, mengangkat gadis itu menuju ranjang mereka. Sementara Jiyeon menyelipkan wajahnya di perpotongan leher Jaehyun, memeluk lelaki itu erat.
Siang menjelang sore ketika matahari tidak lagi terlalu terik, Jiyeon mengikuti langkah Jaehyun meski masih sedikit lemas. Ia menyalahkan daya tahan tubuhnya yang terlalu sensitif terhadap perubahan suhu yang ekstrim. Jika saja ia sedikit lebih kuat, acara liburan mereka pasti akan lebih seru.
Jemari keduanya saling bertautan saat Jaehyun berhenti di depan sebuah bangunan tinggi yang lagi-lagi membuat Jiyeon terpana. Adalah Ice Chapel, sebuah gereja es yang berada di Kakslattanen. Dengan ornamen yang klasik namun indah, Jaehyun menuntun Jiyeon untuk berdiri di tengah-tengah bangunan megah itu.
Berdua.
“Kakak pernah kepikiran kita pemberkatan disini, tapi kamu pasti lebih milih Korea. Jadi disini berdoa aja ya? Kamu bisa minta apapun. Semoga Tuhan selalu berbaik hati mengabulkan doa-doa kita.”
Jiyeon menangkupkan jemari. Merajut untaian doa perihal ia dan Jaehyun agar terus berbahagia dan terus diberikan berkat lainnya dalam rumah tanggan mereka.
Sementara Jaehyun menyatukan jemari dan memohon agar tidak lagi dipisahkan dari Jiyeon karena tidak ada yang lebih ia inginkan daripada istrinya untuk bahagia.
Sedetik selepas mereka mengucapkan kata amen, pandangan Jiyeon menggelap dan wanita itu tumbang secara tiba-tiba.
KAMU SEDANG MEMBACA
[✔] Way Back Home | Jung Jaehyun
RomanceIs it possible for home to be a person and not a place?
![[✔] Way Back Home | Jung Jaehyun](https://img.wattpad.com/cover/178582498-64-k225126.jpg)