Riska membanting ponselnya, kecewa melihat jawaban komentar Riko. Kenapa harus japri, apa dia malu kalau udah nikah? Pertanyaan aneh mulai muncul di otaknya.
Berjalan mondar-mandir, mengingat-ingat beberapa hari yang lalu. Saat masih bisa bertemu dengan Riko, bahkan sempat mengajak ke hotel.
Jadi kapan pernikahannya berlangsung? Kayanya gak mungkin baru kemarin? Ada yang gak beres, sepertinya pernikahan itu tak diinginkan! Riskan asyik membatin.
Ting! Sebuah notifikasi masuk, sebuah pesan aplikasi berwarna hijau.
[Ris, aku liat Riko posting cewe pake jilbab. Sejak kapan kamu pake jilbab?]
Deg!
Dikira sahabatnya, perempuan dalam foto itu dirinya. Melda, teman lama yang sudah tahu hubungan Riska dan Riko. Sedikit lega kalau temannya itu mengira dirinya.
Untung gak jelas fotonya! Riska tersenyum mengejek. Lalu jarinya lincah membalas pesan Melda.
[Yah, itu hanya tuhan yang tahu, aku aja lupa kapan pertama pake jilbab.] Balasan terkirim. Ia mengetuk-ketuk jari di meja, menunggu balasan sahabatnya lagi.
[Kece banget kamu pake jilbabnya, ajarin aku dong.]
Riska tersenyum, ternyata temannya matanya perlu diperiksa.
[Siaplah, wani piro.] Ditambahi emot ketawa. Tiba-tiba sebuah ide cemerlang bersarang di otaknya. Dengan semangat ia menyambar tas pungungnya, hendak pergi kesebuah tempat.
***
Riko duduk depan meja Hari. Menunggu sang bos, ada yang perlu disampaikan untuknya. Tadi setibanya di kantor, Hari langsung menyuruh Riko menemui di ruangannya.
"Kamu pasti sudah tahu 'kan sebelumnya, peraturan kantor itu apa? Ini juga berlaku buatmu, walaupun sahabat. Tapi kalau di sini kita harus profesional," terang Hari mengingatkan.
"Iya, aku ingat. Jadi maksudnya ...."
"Kamu atau istrimu harus keluar dari perusahaan ini." Hari berdiri berjalan menatap luar jendela. Awan mulai menghitam. Seolah tahu isi hatinya, yang tak sanggup akan melihat kemesraan Riko dan Deana setiap hari di kantor.
"Iya, aku siap. Besok Deana gak akan ada di sini lagi. Tapi aku mohon, persahabatan kita jangan sampai renggang, Hari." Riko memohon, sungguh ia tak mau melukai sahabatnya itu.
Hari berbalik, duduk di tepi meja tepat di hadapan Riko.
"Slow aja, aku akan bersikap biasa. Lihat aku masih bisa tersenyum, yang penting kamu jaga perasaan istri kamu, itu pesenku," ucapnya sambil menepuk-nepuk bahu Riko, berusaha tersenyum. Menyebunyikan kabut hitam di hati.
Riko bangkit dari duduknya, memeluk sahabatnya itu. "Makasih, makasih. Kamu emang teman yang paling baik."
"Riko, kita itu udah seperti saudara. Bahkan ibumu aja sudah menganggapku seperti anaknya. O, iya apa kabar ibumu, lama gak main ke sana?"
"Baik alhamdulillah."
"Syukur deh, salam ya kalau nanti ketemu ibu."
"Siap!"
Mereka berdua tertawa bersama, seolah tidak ada hal yang mengganjal di hati. Hari tersenyum tapi dalam hati merintih, ia akan mencoba mengikhlaskan Deana bersama Riko.
"Ya udah aku keluar dulu, ya," ucap Riko sambil memukul kecil lengan Hari.
"Kerja yang bener."
"Siap Pak Bos." Riko meletakan tangan kanannya di dahi, bergaya hormat. Hari hanya mengelengkan kepalanya, ada-ada saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
Deana
General FictionDeana adalah seorang istri, tapi bukan seperti istri pada umumnya. Ia harus mengikuti aturan dari suaminya. Riko tak terima bahwa dirinya sudah menjadi suami dari perempuan pilihan ibunya, dan ia membuat peraturan semaunya pada istrinya, Deana.
