flashback

15.8K 626 1
                                        

Beberapa bulan yang lalu. Gadis ayu yang bernama Deana, sedang menaruh piring berisi aneka kue-kue untuk jamuan jamaah yang hadir di acara Masjid dekat rumahnya itu. Sesekali ia mengulas senyum pada jamaah yang hadir. Tak sedikit yang memuji keramahannya.

Usia Deana memang sudah tak lagi remaja, namun apa salahnya kalau ia membantu. Selagi menunggu panggilan kerja, ia siap akan membantu anggota remaja Masjid.

Ya, ia memang sudah melamar pekerjaan, mungkin karena memang perusahaan yang ia lamar belum ada lowongan, jadi Deana belum juga dapat panggilan.

Tampak seorang perempuan paruh baya sedang memperhatikan setiap gerakan gadis itu, Deana. Ah, senangnya kalau punya anak seperti itu, udah cantik, ramah lagi.

"Silakan, Bu. Dinikmati hidangannya." Deana mempersilakan pada wanita paruh baya tadi.

"Iya, makasih, Nak," balasnya dangan senyum.

Gadis itu berlalu dari tempat jamaah ibu-ibu tadi, dan ke tempat jamaah lainnya untuk menyajikan jamuan.

Tak lama acaranya pun selesai. Ibu paruh baya tadi menghampiri gadis tadi, Deana yang sedang membereskan gelas-gelas plastik yang berserakan di halaman masjid pun menghentikan aktifitasnya, ketika mengetahui ada seseorang menghampiri.

"Nak, bisa bicara sebentar?"

"Bisa, Bu. Ada apa ya?" tanya Deana sambil membetulkan pengait kerudungnya.

"Gak ada apa-apa. Ibu cuma mau tanya, nama kamu siapa?"

"Ooh, saya Deana, Bu."

Setelah berbicara cukup lama, akhirnya ibu-ibu itupun harus pulang. Karena ia adalah rombongan tamu dari luar, yang tak lain adalah tetangga desa.

***

Sejak pertemuan itu, ibu itu sering datang menghadiri pengajian rutin di Masjid dekat rumah Deana, walaupun tanpa diundang. Sengaja ia lakukan, karena ingin kenal lebih jauh dengan gadis itu.

Hingga pada suatu ketika ia datang menghadiri pengajian. Deana, saat itu tak ada di Masjid, karena memang acara di Masjid tak selalu seramai seperti Minggu kemaren, Maulid Nabi. Yang perlu banyak bantuan.

Namun ibu itu tak habis pikir, ia pun mendatangi rumah gadis yang ia cari. Tak butuh waktu lama, ibu itu berhasil menemukan rumah Deana.

"Assalamu'alaikum!"

Tak lama si penghuni rumah keluar, menyambut salam. "Waalaikum salam."

"Perkenalkan saya Resti. Apa bener, Bu. Ini rumahnya Deana?"

"Iya, ada apa ya?"

"Eh, hanya pengin tahu saja. Di mana rumahnya. Tapi, kalau boleh saya mau ketemu sama Deananya."

"Boleh, bentar saya panggil dulu."

Deana yang mendengar panggilan dari ibu tirinya pun keluar.

"Nah, ini Deananya," ucap ibunya setiba Deana tiba di depan.

Deana yang tahu siapa tamu yang datang pun langsung berjabat tangan, bersalaman.

"Eh, Nak Deana. Tadi Ibu gak liat kamu di Masjid, jadi Ibu ke sini," ujar tamu ibu tadi.

"Iya, Bu. Emang gak selalu ke Masjid, saya. Dan kebetulan juga lagi berhalangan," jawab Deana.

"Ayo, silakan masuk dulu," ucap ibu tiri Deana, yang bernama Suri. Dan Deana pun mengambilkan minum buat tamunya.

"Ibu, silakan diminum tehnya," kata ibu tirinya Deana. Resti pun meminum tehnya. "Ngomong-ngomong, Bu Resti ke sini ada apa ya?"

Resti akhirnya mengutarakan isi hatinya, bahwa pingin menjodohkan anaknya dengan Deana.

"Alhamdulillah," ucap syukur Suri.

"Jadi gimana, kira-kira Deana udah punya pilihan apa belum? kalau udah ada pilihan, Ibu gak maksa ...." belum sempet melanjutkan ucapannya, ibu tiri Deana memotongnya.

"Belum, Bu. Kalau kata anak muda sekarang mah, jomblo," ucapnya sambil senyum.

"Ibu," ucap Deana menegur ibunya.

"Deana, Ibu ini baik loh. Pasti anaknya juga baik. Ya, kan Bu?" ujarnya pada Deana dan beralih ke tamu itu. Sedangkan Resti hanya senyum mengiyakan.

***

Ke esoknya, Deana sedang berhadapan dengan pria berpakaian kaos biru dongker bercelana jean. Pria itu memandang Deana dari atas hingga ke bawah. "Ini orangnya, Bu?" tanya pria yang bernama Riko datar.

"Iya, kalian bisa kenalan dulu," ucap Resti.

"Oh iya, apa Nak Riko udah punya pekerjaan?" tanya ibu tiri Deana langsung.

"Udah dong, Bu. Saya mana berani jodohin sama anak Ibu, kalau belum karja dia," jawab Resti mantap. Sesekali ia menyenggol lengan anaknya agar mau bicara.

"Iya, Tante. Saya udah kerja, tenang aja." Akhirnya Riko menjawabnya.

"Syukur deh. Kalau begitu, tunggu apalagi. Deana juga belum ada yang punya," ucap Suri senang.

Pria itu tampak berdecih, tak suka dengan keadaannya sekarang.

Mereka pun akan memutuskan pembicaraan kelanjutannya nanti, kalau sang ayah dari Riko pulang dari luar kota. Dan selang beberapa menit, tamu ibu dan anak itupun pamit pulang.

"Bu, Deana 'kan ada orang yang ...."

"Apa. Beni? Anak berandal itu," potong ibunya.

"Dia, bukan berandal, Bu. Tapi memang suka bergaul."

"Sama saja. Lagian kalau kamu tar nikah, kan bisa ringanin beban ibu," ujar ibunya sambil menaruh gelas kotor bekas tamu tadi.

"Sini, biar Deana yang kerjain." Deana meraih gelas-gelas kotor itu.

"Udah. Biar Ibu aja, mending kamu pikirin deh omongan Ibu Resti. Dia tuh, orang baik. Pasti anaknya juga baik."

***

Selang satu bulan, Deana akhirnya bersedia menikah dengan Riko. Tentu saja semuanya karena ibu tirinya yang terus mendesak. Sebenarnya, Deana itu sudah mempunyai pilihan. Ya, baru pilihan dalam arti, mereka baru saling mengagumi.

Namun karena Deana tak mungkin membangkang, walaupun ibu tiri, ia masih sangat menghormati. Tak apa menikah, toh semua juga buat kebaikannya.

Jangan lupa tinggalkan jejak bila suka, agar cepet di up part selanjutnya😊

Deana Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang