Gendang telinga Lia sengaja ia tulikan. Ia tak mau mendengar omongan orang tentang dirinya. Mau seperti apapun dirinya di hadapan orang, tak akan pernah mengubah pandangan mereka tentangnya. Aprilia tetaplah Aprilia. Seorang gadis innocent yang banyak dijauhi karena tidak pandai bersosialisasi dan lebih memilih menyendiri. Aprilia tetaplah Aprilia, seorang manusia yang lebih nyaman berbicara bersama boneka ketimbang sesama manusia. Yang setiap kata dalam kamus otaknya hanya beberapa dan hanya digunakan seperlunya.
Jangan bayangkan akan ada perkenalan heboh ketika Faris masuk bersama Lia. Yang ada malah tatapan bingung dan heran yang kentara terlihat. Sekali lagi, seorang Aprilia berjalan bersama seorang pria yang tak dikenal, atau lebih tepatnya belum dikenal. Tentu saja dengan perspektif yang berbeda.
Helaan napas terdengar ketika setiap pasang mata mengarah padanya. Lia lebih memilih berlalu dan mengabaikan keadaan di sekitarnya. Bahkan suara Faris yang terus memanggilnya pun seakan hanya dianggap bisikan angin olehnya. Lia bahkan semakin mempercepat jalannya, dan mau tak mau Faris pun harus mengikutinya pula dengan tanda tanya yang besar tersemat di belahan hatinya.
Faris duduk di bangku sebelah pojok bagian kanan. Jaraknya hanya tiga meja dari bangku Lia. Ia sibuk memainkan jari jemarinya di keyboard. Matanya fokus pada layar laptop yang sedang digunakannya. Jam istirahat ini ia gunakan dengan berdiam diri di kelas. Ia masih merasa canggung dengan lingkungan barunya. Padahal seharusnya dia bisa lebih pandai bersosialisasi. Bisa saja ia langsung berkenalan dengan beberapa pria di kelas ini lalu pergi ke kantin bersamanya seolah mereka sudah mengenal satu sama lain. Namun, entah kenapa Faris tak melakukannya. Layar laptop dan gadis yang tadi bersamanya ternyata lebih menarik dibanding hingar bingar di luar sana.
Faris sendiri tidak sendiri di ruangan kelas. Di sana masih ada Lia yang sedang membereskan buku-buku pelajaran yang baru dibacanya, memasukannya ke dalam tas hitam miliknya.
Lia menoleh ke arah Faris, memperhatikan gerak-gerik pemuda itu dengan saksama. Dalam hatinya, Lia banyak berterima kasih pada Faris. Terutama saat ia menolongnya kala pingsan saat lari pagi beberapa hari yang lalu. Namun, hati kecilnya yang lain juga berkata lain lagi. Hati kecilnya yang lain itu malah memilih untuk tidak berdekatan dengan pemuda itu lagi, seolah ada alarm tanda bahaya yang akan menghalanginya. Hati kecil yang lainnya itu mungkin sudah terpengaruh oleh keadaan psikologis tuannya. Atau mungkin justru hati keil yang lain itulah yang telah menerapkan sebuah mindset bahwa "menjauh dari orang adalah pilihan terbaik".
Mengabaikan beragam komentar dan perkataan yang sedang bergelut di dalam hatinya, Lia lebih memilih untuk menuruti logikanya yang terasa aneh tiba-tiba.
"Tidak pergi ke kantin?" tanya Lia sambil berjalan menghampiri bangku Faris. Faris menoleh, mendapati Lia sudah ada di depannya. Awalnya sedikit kaget, tapi kemudian ia mengalihkan pandangannya kembali ke layar laptopnya.
"Aku masih merasa canggung dengan lingkungan baru ini. Lagipula, kau sendiri, kenapa tidak pergi ke kantin?" yang ditanya malah balik bertanya.
"Aku tidak terlalu suka keramaian. Mungkin terlalu berlebihan jika aku menyebutnya dengan paranoid."
Faris masih fokus dengan layar laptopnya.
"Begitukah?" tanya Faris. Yang di tanya tidak menjawab. Mungkin inilah yang menjadi penyebab sikapnya terlihat aneh tadi pagi. Kalau kebanyakan orang akan merasa senang dan heboh ketika banyak yang bertanya dan menyapa, Lia tidak. Dia adalah pengecualian dari semua itu. Satu pertanyaan berhasil terjawab. Namun, entah kenapa malah muncul beberapa pertanyaan lagi, yang tak bisa ia utarakan langsung kepada si sumber pertanyaan itu sendiri.
"Struktur virus. Kau mau jadi dokter?"
"Mungkin juga. Aku tidak terlalu suka kimia. Aku lebih suka makhluk hidup." Faris masih tetap memfokuskan dirinya di hadapan laptop. Sekarang, Lia sudah duduk di samping Faris. Matanya ikut fokus pada layar laptop yang menampilkan struktur sebuah virus penyebab penyakit TBC.

KAMU SEDANG MEMBACA
RAPUH (EDISI REVISI)
Teen FictionTitik terapuh seorang Aprilia adalah saat Faris, sahabat yang terbaik yang telah merubah hidupnya berada dalam keadaan tidak baiK-baik saja. Aprilia, seorang gadis penderita kanker otak stadium akhir yang sehari-hari bergelut dengan obat, menjalani...