Wonwoo mencebik, melihat ke layar ponselnya yang tidak juga memunculkan tanda-tanda adanya notifikasi pesan atau panggilan masuk. Jika sudah berurusan dengan workshop, menu masakan baru, atau manajemen restoran siap-siap saja Wonwoo dinomor-sekiankan oleh Mingyu. Jangkankan sedang jauh begini, jika sedang berdekatan sekali pun, bertingkah lucu, menggemaskan, bahkan flirting tidak akan berefek besar bagi pria tinggi itu. Bukan berarti Mingyu tidak memperhatikan, hanya saja ia memilih menikmati tingkah ajaib Wonwoo yang sangat jarang itu dalam diam. Mengulum senyuman tipis yang luput dari pandangan istri manisnya. Sudah dua hari Mingyu bertolak ke Jepang untuk mematangkan konsep restoran yang akan ia buka di sana. Suatu pencapaian besar dan sebuah kebanggaan bagi Mingyu, bagi Wonwoo juga tentunya. Karena ia berhasil membuktikan cita-citanya sejak kecil, padahal kalau dilihat dari segi materi, sepasang suami istri itu sudah lebih dari cukup, apalagi status Wonwoo yang merupakan putra tunggal CEO Jeon. Tapi itu tidak serta merta membuat Kim Mingyu menjadi pemalas dan hanya menikmati saja, justru status itu menjadi penyemangat Mingyu untuk terus memantaskan diri agar layak dan dapat dibanggakan oleh Wonwoo. Padahal pria manis bermata rubah itu tidak pernah menuntut apapun dari Mingyu, bagi Wonwoo, cinta untuk Mingyu tidak bersyarat apa-apa dan ia menerima pria Kim itu dalam keadaan apapun.
Nada sambung panggilan yang tidak juga diangkat oleh seseorang di seberang sana, lagi-lagi menerbitkan ekspresi kecewa dari bibir plum merah muda milik Wonwoo. Kalau ada pertanyaan, apakah hal yang paling menyiksa bagi Wonwoo sudah barang pasti jawabannya adalah merindukan Kim Mingyu.
"Ya Tuhan! Kalau begini terus, lama-kelamaan akan aku beli semua restoran Mingyu agar aku yang menjadi pemilik seutuhnya dan kuperintahkan dia hanya berada di sampingku sepanjang waktu!" Pria manis itu mengusak rambutnya dengan gemas, sungguh ia merindukan Mingyu-nya.
Dengan konyol, Wonwoo berkali-kali berswafoto di kamar mereka, namun bagian yang difoto hanyalah matanya. Mata yang selalu disukai Mingyu, namun pria tinggi berkulit kecokelatan itu tak pernah sekalipun gamblang mengatakan bahwa ia menyukai mata Wonwoo, ia hanya akan mengutarakannya dengan tindakan. Mengecup mata rubah yang tajam itu berkali-kali. Ketika hendak tidur, ketika bangun tidur, atau ketika mereka selesai bercinta. Mata yang selalu memicing ketika bertemu orang asing, namun seketika berubah menjadi mata paling hangat saat sudah mengenal Wonwoo dengan baik. Dan Mingyu menyukai mata itu.
To: Mr. Perfect 💕🍃
Aku kirim foto mataku Barangkali kau rindu Tapi tidak sehangat dan seteduh matamu Kkkkk~
Satu menit, dua menit, tiga menit, bermenit-menit lamanya masih tidak ada balasan juga dari Mingyu. Wonwoo memilih untuk keluar dari kamarnya dan memakan satu cup besar es krim di ruang makan. Meninggalkan ponselnya di kamar, dengan harapan ketika ia kembali ke kamar untuk menyelesaikan laporan perusahaan, pesan balasan dari Mingyu sudah menghiasi ponselnya. Selesai dengan es krimnya, Wonwoo masih menyempatkan diri untuk melihat Bibi Yoon yang sedang merawat bunga-bunga miliknya di taman belakang.
"Sudah mekar, cantik-cantik ya Bi ..." Gumaman Wonwoo membuat Bibi Yoon yang sedang serius menyiram bunga berjengit kaget.
"Astaga Tuan Muda, mengagetkan saja. Apakah ada yang Tuan Muda butuhkan?" Bibi Yoon segera mematikan air dan menghampiri Wonwoo.
"Ah tidak, aku hanya iseng menengok taman. Sudah lama rasanya aku tidak minum teh di sini." Wonwoo kembali bergumam, mengingat-ingat bahwa ia pernah menghabiskan banyak waktu berinteraksi dengan Mingyu, namun semakin bertambah usia pernikahan mereka, semakin jarang kebersamaan itu tercipta.
"Tuan Muda ingin Bibi buatkan teh chamomile?"
"Tidak, aku akan kembali ke kamar." Pria manis itu membalikkan tubuhnya dengan perlahan, berjalan dengan tanpa semangat untuk kembali ke kamarnya di lantai dua. Bibi Yoon yang melihat itu ikut merasakan aura sedih yang dipancarkan oleh Wonwoo.
~~~
Pria tampan itu duduk dengan gelisah dan tidak bisa diam. Vibrasi dari ponselnya yang ia taruh di saku celana bergetar berkali-kali, ia tahu bahwa Wonwoo pasti berusaha menghubunginya sejak tadi. Meeting untuk mematangkan konsep restoran barunya yang berkolaborasi dengan koki ternama negeri Sakura ini menuntutnya untuk bersikap profesional dan mencurahkan seluruh atensinya pada proyek ini serta mengabaikan Wonwoo untuk sementara. Seokmin yang mendampingi Mingyu kali ini melempar tatap ke arahnya dengan sedikit berbisik.
"Ada apa? Kau gelisah sekali?"
"Aku belum sempat mengabari Wonwoo." Mingyu menjawab pertanyaan Seokmin dan hanya dibalas gumaman mengerti oleh sahabat senyum mataharinya itu.
Lagi-lagi getaran pada ponselnya mengalihkan atensi yang susah payah dibangun oleh Mingyu, maka untuk kali ini, mau tidak mau Mingyu dengan sedikit terpaksa mengecek ponselnya.
From: My Sunshine 💕
Aku kirim foto mataku Barangkali kau rindu Tapi tidak sehangat dan seteduh matamu Kkkkk~
Baru saja Mingyu hendak membalas pesan yang Wonwoo kirimkan, sudah ada lagi pesan masuk dan masih dari istri manisnya itu.
From: My Sunshine 💕
Padahal aku sedang berusaha menarikperhatianmu, tapi sepertinya kau sibuk Tidak ada respon Huhu, bye ...
Ah, mata rubah sipit nan hangat di foto yang baru saja Wonwoo kirimkan membuat Mingyu semakin tenggelam dalam kerinduan itu. Kalau saja bisa, ia hanya ingin lekas pulang dan menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Wonwoo yang beraroma bunga gardenia itu. Dengan gerakan tangan yang cepat, ia mengetikkan pesan balasan untuk istrinya.
To: My Sunshine 💕
Aku on meeting hey! Matamu cantik kok, aku suka
Mingyu tidak tahu saja bahwa di seberang sana, yang berbatasan dengan perairan Laut Jepang ada sepasang pipi yang sedang merona mengalahkan merah mudanya sakura yang mekar pada musim semi.
Meski pesan balasan yang dikirimkan Mingyu tidak lebih dari sepuluh kata, Wonwoo merasa bahagia. Bagi Wonwoo, rindu bisa saja menjadi hal yang paling menyebalkan karena rindu untuk Mingyu rasa-rasanya tak pernah tuntas jika tak diwujudkan dengan temu. Padahal rindu itu sederhana, hanya sesederhana kata saling. Saling merindukan atau tidak. Yang membuatnya tidak sederhana adalah ketika rindu tapi tak tersemat kata saling.
~~~
P.S
Update lagi hehehe Aunty-nya sedang rindu jadi maaf ya kalau sekalinya update jadi sendu-sendu begini.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Iya Uncle sedang tugas luar kota, sedang meeting tapi Aunty-nya rindu, mau tsundere sudah nggak bisa :(
Nggak terasa Bittersweet sudah ada 19 cerita, cerita absurd ini masihkah ingin dilanjutkan?
Selamat membuka kotak Pandora! 💕🍃 Selamat menikmati romansa yang tidak biasa!