Safe Flight (2)

1.6K 280 15
                                        

"Pesawatmu besok jam berapa?" adalah pertanyaan yang paling Wonwoo benci yang harus keluar dari bibir manisnya. Karena satu kalimat itu menandakan bahwa Mingyu kembali pergi meninggalkannya dalam perjalanan bisnis. Kadang Wonwoo seringkali menggerutu lucu ketika tahu bahwa Mingyu akan pergi,

"Huh! Yang CEO siapa, yang sering pergi perjalanan bisnis siapa!"

Setelahnya Mingyu hanya tersenyum sambil mengusak rema hitam pria yang telah menemani hidupnya selama beberapa tahun ini. Saat itu Wonwoo biasanya hanya mencebik sebal tapi sangat kontradiksi dengan perlakuannya yang langsung memeluk erat tubuh tinggi Mingyu dan mengusakkan hidung bangirnya di dada suaminya itu.

"Tidak lama darl, hanya tiga hari 'kan biasanya? Kau akan kuizinkan menjemput ke bandara kali ini. Dan boleh meminta apa saja saat aku pulang nanti." tutur Mingyu dengan lembut.

"Kau tahu 'kan aku tidak bisa jauh darimu? Waktunya tidak tepat, Gyu ... Saat aku libur selama itu, kau malah pergi. Ya sudah kalau begitu aku mau pulang saja ke rumah Seulgi-noona, bermain dengan Seuljoo." Seulgi adalah kakak sepupu Wonwoo dan si mungil Seuljoo adalah anaknya. Balas Wonwoo dengan raut wajah yang terlihat masih merajuk.

"Eiy, kau bilang apa tadi? Pulang? Bagaimana bisa kau bilang pulang padahal rumahmu saja di sini." Mingyu menggoda Wonwoo dan menunjuk dirinya sendiri sebagai rumah bagi pria manis itu.

"Ah kau ini, bisa saja merayunya." tepukan halus mendarat di lengan Mingyu disertai wajah malu-malu dari Wonwoo.

~~~

Hari libur akhir pekan ini tidak ada yang istimewa, karena Wonwoo tahu bahwa esok, saat Senin di awal hari, Mingyu sudah harus terbang jam sebelas siang. Memang sih hanya tiga hari, tapi itu akan terasa lama karena pasalnya Wonwoo malah mengambil jatah cuti, yang mana berarti ia tidak akan punya kegiatan apapun selama tiga hari ke depan. Sebuah miskomunikasi yang bodoh bukan? Sejak pagi setelah menyiapkan sarapan dan menyuapi Mingyu tentunya, Wonwoo hanya tidur-tiduran di sofa-bed ruang tengah rumahnya, mengganti-ganti saluran televisi yang sebenarnya tidak ia tonton. Di sampingnya, setelah sarapan dan kegiatan berkebunnya yang menguras tenaga Mingyu kembali terlelap setelah mandi. Sesekali lengan kekarnya memeluk erat tubuh kurus Wonwoo dan menempatkan hidungnya pada perpotongan leher dan bahu istrinya itu.

Wonwoo kembali membangunkan bayi besarnya itu untuk cuci muka dan makan siang. Bukannya beranjak ke meja makan, Mingyu malah kembali ke sofa-bed dan merebahkan dirinya.

"Gyu, astaga! Kau harus makan siang." Tipikal ibu rumah tangga. Wonwoo mengoceh seperti memarahi seorang anak.

"Di sini saja makannya sayang, aku mau mengatur pemain di FPL." Sebuah permintaan yang terkesan manja namun mutlak. Sangat Mingyu sekali.

Lagi-lagi Wonwoo hanya menggelengkan kepala. Mingyu memang tidak secara langsung meminta disuapi oleh Wonwoo, tapi bagi pria manis itu tingkah laku Mingyu yang tidak memberikan atensi penuh terhadap makanan membuat Wonwoo gemas dan ingin menyuapinya saja agar lekas selesai dan tidak berantakan.

Detik yang berdetak pada jam dinding di ruang tengah itu mengantarkan mereka pada sore hari yang sedikit mendung. Mingyu dan Wonwoo masih asyik bercengkrama di sofa-bed sambil sesekali tertawa diiringi lagu-lagu yang mereka putar. Hingga akhirnya Mingyu membawa Wonwoo untuk mandi dengan sebuah gendongan koala.

~~~

Malam menjelang, setelah sekian lama Wonwoo tidak pernah lagi membantu Mingyu berkemas untuk perjalanan bisnis setelah insiden vas bunga yang dimasukkan ke dalam koper, malam ini ia kembali membantu suaminya itu. Menyiapkan beberapa pasang baju dan celana yang akan dipakai oleh suaminya selama di sana. Sedangkan Mingyu merapikan laptop dan beberapa berkas yang akan dibawa serta.

Bittersweet [Meanie] ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang