Tatap Terakhir Mingyu

841 27 5
                                        

Aku melepaskanmu karena aku tak ingin kehilanganmu.
Apakah kita akan tetap melihat ke arah masa depan yang sama?

~~~

Pejaman mata ini membuka dengan berat yang dipaksakan. Meskipun aku menutup mataku sepanjang malam, namun pikiranku selalu tentangmu. Membuat malamku riuh memutuskan kau dan aku entah terpisah dalam batas mana, yang tipis antara dunia nyata dan mimpi. Aku tidak lagi berada di kamar tidur ternyaman kita. Bahkan aku tahu turunnya hujan deras yang mulai pada pertengahan pukul 1 menuju 2 dini hari tadi, suaranya meraung-raung seperti ditumpahkan sekaligus dari langit. Padahal aku menyukai hujan dengan sangat, selalu menyematkan kata syahdu bila ia turun. Dan kau pasti telah hafal bahwa tidurku akan semakin nyenyak bersamaan dengan senandung suara hujan yang bersahutan. Entah kemana syahdunya sekarang, mungkin aku terlambat sadar bahwa yang aku sukai bukan hujannya, melainkan kau di sampingku yang bergelung dalam selimut ketika hujan.

Aku mendudukkan diri pada pinggir ranjang tunggal yang tersedia dalam kamar apartemen ini. Dinding putih polos yang sebelumnya kau pilih agar bisa menghiasi seluruh ruangannya, hingga kini masih polos. Aku ingat betul hari di mana kau membeli properti ini, kau bilang lumayan bisa menjadi pemasukan pasif kalau kita menyewakannya, ingin menjadi ibu kost katamu. Namun pada akhirnya tempat ini menjadi pelarianku ketika kita tidak bisa lagi bersama. Kau bilang tidak masalah, justru lega kalau kau mengetahui bahwa aku baik-baik saja dan berlindung di sini.

Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba mengisi paru-paru dengan udara yang terasa lebih dingin dari biasanya. Aku menunduk, menatap ubin keramik yang retak di salah satu sudut kamar. Rasanya seperti diriku—retak, tak sepenuhnya utuh, tapi tetap berusaha menyangga beban di atasnya. Di apartemen ini, aku memutar ulang kenangan seperti film tanpa akhir, terus-menerus mengingat hari-hari ketika kita masih saling melengkapi, sebelum semuanya berubah. Dulu, saat pertama kali kau berbicara tentang apartemen ini, kau menyebutnya sebagai langkah awal untuk masa depan kita. Kita. Kata itu terasa asing sekarang, seperti sisa-sisa bahasa kuno yang tak lagi relevan. Aku mencoba mengingat kapan terakhir kali aku mendengar suaramu. Sejujurnya, aku tak bisa memastikan—seminggu lalu, mungkin? Atau lebih lama? Percakapan terakhir itu juga terasa hambar, seperti dua orang asing yang terjebak dalam formalitas. Kau berbicara tentang pengacara, pembagian aset, dan hal-hal praktis lain yang membuat semua ini semakin nyata.

Ku paksakan kakiku berjalan menuju jendela besar di sisi ruangan. Tirai yang sedikit berdebu bergeser saat aku menyibakkannya. Kota yang sibuk terbentang di luar sana, penuh lampu-lampu kecil yang berkedip, seolah ingin menghiburku. Tapi tak ada yang benar-benar bisa menggantikan kosongnya ruang di dalam dadaku. Aku tak tahu kenapa aku tetap di sini. Mungkin karena tempat ini adalah satu-satunya hal yang tersisa darimu—dan dariku. Tempat ini pernah menjadi simbol harapan kita, tapi sekarang hanya sebuah monumen bisu dari kegagalan.

Ponselku bergetar di atas meja kecil di samping ranjang. Nama yang muncul di layar membuatku ragu-ragu. Kau. Sudah lama aku tak tahu apa yang harus kuucapkan ketika kau menghubungiku. Tanganku bergerak otomatis, mengangkat panggilan itu.

“Halo,” kataku, berusaha terdengar lebih tenang daripada perasaanku yang sebenarnya.

“Halo,” jawabmu. Suaramu tetap sama—halus, tapi kini ada sedikit jarak yang sulit kuabaikan. “Aku cuma ingin memastikan kau sudah menerima berkas-berkas dari pengacara.”

“Iya,” jawabku singkat. Ada jeda yang panjang di antara kita. Kata-kata yang seharusnya ada di sana telah hilang entah ke mana.

“Kau... baik-baik saja?” tanyamu akhirnya, dengan nada yang terdengar seperti perhatian, tapi juga canggung.

“Aku di apartemen ini,” kataku pelan. “Tempat yang kau beli untuk masa depan kita.”

Bittersweet [Meanie] ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang