Paradoxical

1.1K 148 8
                                        

Menikah itu ada separuh bagian jati diri yang hilang. Namun ada pula separuh bagian lain yang terlengkapi. Paradoks ya?

~~~

Senin tiba, waktunya menyimpan bulir-bulir air mata sedalam-dalamnya. Meski begitu, tidak ada yang benar-benar bisa disembunyikan ketika hati memilih untuk tidak mengantarkan kepergiannya hingga pada riuh ramai bandara. Ada sebuah harap tentang rentang waktu yang mungkin bisa segera terlipat-lipat hingga Selasa tiba. Sebuah hari di mana ketiadaan dan kerinduan teraduk dalam perutnya hingga membuat mual. Yang kemudian ia mencoba berlari dan menaruh harap pada jalan-jalan setapak yang akan membawanya kepada Rabu. Saat hentak kaki pada kedatangan pertama di bandara terdengar menyapu telinga. Saat suara bising pesawat paling pagi mendobrak paksa sebuah keinginan akan sebentuk pelukan dan ciuman di kening sebagai pertanda bahwa rindu telah terbayar. Tetapi Wonwoo sadar, waktu tidak akan pernah berjalan secepat itu. Dulu mungkin bisa dibilang ia yang jarang sekali memiliki waktu untuk sosok Mingyu, tetapi kini karma sepertinya sedang ingin bersenda gurau dengan pria manis bermata rubah itu. Buktinya Mingyu belum juga pergi, ia sudah merasakan rindu yang menyeruak di dadanya.

"Pergi lagi?" tanya Wonwoo yang mengalihkan pandangan pada tablet yang sedang dipegang.

"Sebentar saja, hanya 3 hari sayang." Mingyu menyempatkan kecupan pada kening Wonwoo meski ia sedang sibuk mengepak pakaian yang akan dibawanya.

"3 hari kali ke berapa ya dalam 2 bulan ini?" satir Wonwoo masam.

Ada kekehan kecil yang mengudara di antara hening sudut-sudut kamar.

"Aku 'kan pergi untuk bekerja. Sama sepertimu ... dulu ... Jadi, jangan merengek ..." jeda kalimat menggantung tak selesai. Sejujurnya, Mingyu malas jika hanya berdebat soal ini. Pasalnya mereka berdua telah sepakat mendeklarasikan diri sebagai pasangan yang mandiri, jadi rasanya tak etis jika harus merengek hanya karena salah satu dari mereka sedang bepergian untuk urusan pekerjaan.

~~~

Kemandirian.

Kemandirian.

Kemandirian.

Bagi beberapa orang, hadirnya raga hanyalah sebuah formalitas, yang terpenting hatinya tetap saling terikat. Tapi mungkin berbeda bagi beberapa orang lainnya, hadirnya raga dan peluk paling nyata menjadi urutan paling utama atas sebuah keharusan. Tidak apa, beberapa dan beberapa orang memang tidak harus selalu sama.

Mingyu dan Wonwoo acapkali mengerti hal itu, mereka kadang tidak pernah tahu ada di golongan beberapa yang mana. Yang mereka dan yang kita semua tahu, kedua anak manusia itu adalah orang-orang paling adaptif dengan mental sekuat baja dan gengsi setinggi Himalaya. Usia pernikahan dan lamanya mereka mengenal satu sama lain, tidak menjadikan mereka orang-orang yang mudah berbicara bahwa, "aku membutuhkanmu."

Wonwoo dengan segala hal yang meledak-ledak di kepalanya seringkali berpikir untuk apa menikah, berjanji ada dalam suka dan duka, ada dalam sehat dan sakit, jika Mingyu terus saja menempatkan Wonwoo menjadi sosok yang mandiri. Menjadi Wonwoo yang bisa melakukan dan memutuskan semua hal sendirian. Namun di satu sisi Mingyu menempatkan dirinya sendiri terlalu dominan. Ada titik di mana Wonwoo muak menjadi sosok bayang-bayang Mingyu, bukan entitas nyata diri sendiri. Wonwoo yang meletakkan semua nama Mingyu dalam setiap skala prioritas. Wonwoo yang selalu disematkan embel-embel tentang Mingyu meski ia sedang sendiri. Wonwoo yang selalu menjadi nomor dua.

Namun ketika dirinya menggunakan kesempatan kemandirian yang diberikan oleh Mingyu, maka pria tinggi besar itu akan berkata sebuah kalimat yang melesakkan Wonwoo ke dalam jurang ke-serbasalah-an, "Kita 'kan sudah memutuskan untuk hidup bersama, mengapa banyak keputusan kau ambil sendiri tanpa berdiskusi denganku." Kalau sudah begini, rasanya Wonwoo ingin berteriak di depan wajah tampan suaminya itu.

Sebuah paradoks yang tak berkesudahan, bukan?

~~~

Selamat membuka kotak Pandora 🍃💕

Selamat menikmati romansa yang tidak biasa!

P.S

Chapter ini ditulis atas keresahan dan sebagai curahan hati sebagai seorang perempuan yang telah menikah dan yang kebetulan nonton Kim Ji Young 1982 untuk kedua kalinya. Hahaha. Mungkin teman-teman pembaca di sini usianya jauuuh lebih muda dari Aunty, tapi percayalah kalian akan ada di fase ini.

Perempuan, entah bagaimana ceritanya selalu saja menjadi nomor dua. Perempuan akan menjadi Buㅡ(nama suami) atau Bundanyaㅡ(nama anak). Perempuan hanya akan sekadar menjadi imbuhan bukan lagi kata dasar. Segala apapun yang perempuan capai, credit-nya akan diberikan kepada suami (jika sudah menikah) atau kepada orang tua (jika belum menikah). Sudah menikah, ingin lanjut sekolah, dibilang buat apa. Belum menikah, ingin lanjut sekolah, dibilang nanti tidak ada laki-laki yang mau. Serba salah. Perempuan seringkali akan kehilangan entitas dirinya sendiri. Ia bukan lagi seorang individu merdeka yang berdiri di atas kaki sendiri. Padahal katanya perempuan selalu benar, tapi seringkali perempuan disalahkan bahkan oleh perempuan-perempuan itu sendiri.

Teman-teman pembaca, rangkul dan lindungi diri kalian juga perempuan-perempuan lainnya. Sekolah lah yang tinggi. Kejar mimpi dan cita-cita kalian. Jadilah individu merdeka yang berdiri di atas kaki sendiri.

Salam,
Aunty.

Bittersweet [Meanie] ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang