Di antara helai-helai rambut yang jatuh berserakan, ia temukan semangat yang lagi-lagi enggan menetap, yang hendak menguap saja jadi abu. Di antara jarak dirinya dengan cermin, ia jumpai sepasang mata rubah yang kini cekung dengan lingkaran menghitam di bawahnya. Ini masuk hitungan pekan ketiga Wonwoo beristirahat karena penyakit autoimunnya yang memburuk. Mingyu masih bekerja seperti biasa, namun tidak sepenuhnya berada di restoran. Jika biasanya ia menetap sampai selesai waktu makan malam, maka ketika keadaan sedang seperti ini, sebelum senja berakhir ia sudah berada di kamarnya. Menemani Wonwoo yang datang waktunya untuk menenggak obat-obatan dari dokter pribadinya.
"Benar tidak ada komplikasi apapun?" tanya Mingyu yang sedang sibuk membukakan kemasan obat yang akan Wonwoo minum.
"Tenang saja." Hanya jawaban singkat dari Wonwoo namun sarat akan tanda tanya bagi Mingyu.
"Aku khawatir." Hanya dua kata itu yang terlontar, Mingyu memang tidak pandai mengekspresikan perasaannya. Wonwoo mengerti, ia hanya tersenyum manis sambil mengusap lembut bahu Mingyu, meyakinkan pria tampan itu bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Ruam merah muda itu tersebar, menghiasi kulit Wonwoo yang seputih susu. Di bagian leher, di lengan atas, di pergelangan tangan, pada kedua pahanya, di punggungnya. Mingyu hanya meringis tidak tega melihatnya. Berkali-kali ia memeluk Wonwoo, hanya sebuah pelukan ringan pembagi beban. Meskipun Wonwoo sendiri tidak menunjukkan rasa sakit, wajahnya tetap semringah dengan sesekali peluh membanjiri dahinya. Padahal angin musim gugur sedang berembus mengantarkan hawa dingin yang sebentar lagi menembus kulit namun bagi mereka berdua, dingin musim gugur tak pernah menyakitkan. Musim gugur menjadi salah satu hal yang pertama menjadi titik temu kesukaan antara Jeon Wonwoo dan Kim Mingyu. Di antara oranye hingga cokelat daun yang berjatuhan, kilas balik kenyataan tentang Wonwoo yang akan menjalani kehidupan sebagai penyintas salah satu penyakit terputar di benak Mingyu. Bukannya menyerah, Mingyu justru terus melaju. Bertaruh sepanjang sisa hidupnya untuk tetap di samping Wonwoo. Makanya, frasa "sampai esok, tetap hidup" yang ditujukan Mingyu pada belahan jiwanya itu sangat berarti banyak untuk menyemangati Wonwoo.
"Mingyu ... Kalau suatu hari nanti aku tidak ada bagaimana?" Wonwoo bertanya sambil memeluk Mingyu yang memunggunginya.
"Aku sudah bicara bahwa aku tidak mau membahas itu 'kan? Kau sudah minum obatmu?" tanya Mingyu demi mengalihkan pembicaraan.
"Sudah kok, aku tidak pernah lupa. Karena aku ingin hidup lebih lama menemanimu." ujar Wonwoo sambil melepaskan pelukannya.
Di balik punggung kokoh yang Mingyu miliki terselip hati yang hancur dan air mata yang melebur dengan dinginnya udara ketika mendengar Wonwoo bertanya seperti itu. Mingyu tak mampu membayangkan ruang yang menyusut menyisakan kesendirian. Meninggalkan ia terjebak di dalam ruang-ruang yang dulu penuh tawa dan tingkah kekanakkan Wonwoo, sedang Wonwoo? Panas pembakaran akan mengubahnya menjadi abu kremasi. Diterbangkan angin menuju samudra yang entah mana. Mingyu tak mampu dan tak mau membayangkan bahwa hari-hari esok pagi, tak ada lagi suara berisik yang lembut disertai usapan pada bahu ketika Wonwoo membangunkan tidurnya. Atau ketika tak ada lagi suara denting cangkir tanda dibuatnya teh chamomile setiap pagi yang dilakukan Wonwoo untuknya. Derap langkah kaki kecil-kecil milik Wonwoo tak akan ada lagi ketika ia mencoba mengajak Mingyu berdansa dengan gerakan acak, menerbangkan debu-debu halus di kamar atau ruang kerja mereka. Sungguh Mingyu tak ingin kehilangan apa-apa.
Wonwoo tertidur pulas setelah meminum obat rutinnya. Namun Wonwoo tetap saja Wonwoo yang akan mengetahui sekecil apapun pergerakan yang terjadi di ranjang, apalagi jika itu menyangkut keberadaan Mingyu di sampingnya. Seperti saat ini saja, ketika Mingyu beranjak bangun, dengan cepat Wonwoo membuka matanya, meski ya hanya setengah sadar. Ia bertanya jam berapa dan menanyakan Mingyu hendak ke mana. Hal sekecil itu, tanda ia tak pernah mau ditinggalkan. Padahal Mingyu hanya buang air kecil atau sekadar minum air hangat lalu kembali lagi ke kamar. Wonwoo tahu kebiasaan Mingyu tiap dini hari dalam rentang waktu pukul satu hingga pukul dua. Tetapi ia masih saja bertanya. Lalu Wonwoo tahu ketika Mingyu sudah kembali lagi ke kamar namun belum berada pada posisi semula, yaitu berbaring di sampingnya. Terkadang di dini hari yang sepi itu, Mingyu duduk terlebih dahulu pada kursi kecil di sisi ranjang Wonwoo. Menerawangkan pandangannya ke segala arah, entah memikirkan apa. Atau memejamkan matanya sambil menggenggam tangan Wonwoo. Sepi, terlihat luarnya. Namun berisik dalam kepalanya. Kemudian hanya ada suara pelan nan parau Wonwoo yang memecah hening.
"Kembali tidur, Gyu ..." Usapan lembut ibu jari Wonwoo terasa pada punggung tangan Mingyu.
"Iya sayang, sebentar."
Tak lama kemudian, Mingyu kembali menaiki ranjang dan mengaitkan jari jemari tangannya dengan jari ramping milik Wonwoo. Mereka kembali tidur dengan hening, sesekali Wonwoo yang mendekatkan ujung hidungnya pada ceruk leher Mingyu atau mengusak pelan di sepanjang garis rahang yang tercetak tegas itu. Entah mengapa, ini menjadi bagian paling disukai Wonwoo.
~~~
Setelah peluk yang telah terlepas itu, Mingyu perlahan menjauh dan secepat apapun Wonwoo berlari, ia tak pernah bisa menggapainya kembali. Di sekeliling dengan sisi yang perlahan putih memucat, Mingyu hanya berupa titik hitam yang jauh. Dengan suara riuh yang memanggilnya disertai gema yang menggelegar. Mingyu memanggilnya, mencarinya dengan panik. Ia berusaha membalas panggilan Mingyu, berteriak hingga pita suara rasanya ingin putus. Tapi tak ada suara yang keluar.
"Aku di sini, Mingyu. Tetap di sini." Wonwoo bersuara dari kesendirian yang mendadak sepi dan bayangan Mingyu yang semakin menjauh. "Kalau kau mencariku suatu hari, aku tetap di sini." Tangan Wonwoo terangkat tetapi berat untuk melambai dengan kaki yang terpaku tak bisa melangkah.
"Selamat tinggal, Wonwoo ... Aku mencintaimu ..." Lirih suara Mingyu terdengar tanpa wujud.
"Tidak Mingyu, tidak! Aku tidak meninggalkanmu. Aku di sini, ada di sini. Mingyu, kau dengar aku? Mingyu! Kau dengar aku 'kan?" Lunglai, tubuh kurus itu terkapar di tanah? Entahlah tak bisa pula disebut tanah, karena Wonwoo sejak tadi hanya berdiri di suatu ruang tak berbatas yang berwarna putih.
Lalu alam bawah sadar memerintahkan dirinya untuk membuka mata, sesaat yang ia jumpai adalah kamarnya yang tidak berubah sedikit pun. Tetap sama seperti semula, hanya saja ketika ia menoleh ke samping, Mingyu tak ada. Wonwoo bergegas bangun dengan langkah terhuyung, ia jumpai Mingyu yang sibuk dengan ritual doa paginya. Wonwoo siap, untuk hal apapun yang menunggunya. Ia akan mencoba mengerti tentang segalanya. Tentang hidup. Tentang mati. Tentang takdir yang menyelubungi tiap makhluk Tuhan selamanya. Seperti tidak terjadi apa-apa, Wonwoo menyiapkan sarapan rutin untuk Mingyu. Dan memeluk Mingyu seerat yang ia bisa setelah pria itu menyelesaikan doa paginya.
~~~
P.S
Hai, nunggu lama ya?
Bagaimana liburannya, bahagia 'kan?
Here's another story Aunty-Uncle!
Selamat membuka kotak Pandora 💕🍃
Selamat menikmati romansa yang tidak biasa!
KAMU SEDANG MEMBACA
Bittersweet [Meanie] ✓
FanfictionBittersweet moment kehidupan pernikahan Jeon Wonwoo dan Kim Mingyu, apa jadinya?
![Bittersweet [Meanie] ✓](https://img.wattpad.com/cover/160168260-64-k172050.jpg)