"Pesawat jam berapa besok?" Lagi dan lagi, Wonwoo sudah mulai bosan dan benci melontarkan pertanyaan macam ini.
"Jam 5 sore, sayang. Dan please, jangan cemberut. Hanya 3 hari, terhitung sejak Kamis sampai Sabtu, lalu hari Minggu-nya, kita bisa menghabiskan waktu berdua." Mingyu memeluk Wonwoo dengan satu tangannya dan mengecup kening seputih susu milik pasangannya itu.
Mingyu mungkin tidak pernah tahu bahwa pada tiap-tiap penerbangan yang ia lakukan, ada rapalan doa Wonwoo yang tidak pernah berhenti. Ada Wonwoo yang menahan kantuknya demi bisa mendengar Mingyu pada pesan suara yang dikirimnya sesaat begitu mendarat. Mingyu mungkin bosan pada kata-kata cinta yang Wonwoo kirimkan beberapa detik sebelum ia lepas landas, Wonwoo hanya tidak ingin terlambat mengatakan cinta pada Mingyu dalam keadaan-keadaan yang berada di luar kuasanya. Tiga hari akan kembali terasa hampa untuk Wonwoo, tidak ada prosesi cium kening sebelum tidur, dan tidak ada pelukan tempat ia menyandarkan segala lelahnya seharian.
~~~
Musim dingin akan segera berakhir, hangat musim semi mulai terasa, daun-daun muda mulai tumbuh dari ranting yang tampak kokoh sehabis menahan salju ketika musim dingin berlangsung, kuncup-kuncup bunga mulai bermunculan, dan jubah panjang penghangat tubuh mulai ditanggalkan. Hari Sabtu yang terbilang cukup indah. Wonwoo duduk pada salah satu kursi taman yang berada di pekarangan belakang rumahnya, dengan beberapa keping kue cokelat yang tersaji di piring dan secangkir susu yang masih mengepulkan uap panas. Mingyu kembali hari ini, pesawat sore katanya. Seperti anak remaja yang baru saja kasmaran, Wonwoo menantinya dengan debar-debar tak karuan, ah sungguh lucu sekali kisah cinta dua manusia itu. Entah kekuatan apa, tetapi jika dilihat-lihat rasanya Mingyu dan Wonwoo seperti saling jatuh cinta setiap hari. Meskipun di tiap hubungan tetap saja ada konflik yang menghinggapi, tetapi dua kepala itu tetap bisa menyelesaikannya dengan baik. Mingyu yang sangat sabar dalam menenangkan Wonwoo dan Wonwoo yang sangat berusaha keras untuk tidak terlalu impulsif. Namun sebaliknya, ada kalanya Mingyu yang mati-matian mempertahankan ego dan Wonwoo yang melunak untuk mengalah. Tapi kenyataannya mereka berdua tetap bisa melewatinya.
Denting notifikasi mampir pada ponsel pintar hitam milik Wonwoo dan nama Mingyu-lah yang terpampang di situ.
From: Mr. Perfect 💕🍃
Bagus tidak?
[sent a photo]
To: Mr. Perfect 💕🍃
Astaga!
Kenapa sih harus foto shirtless gitu?
Pakai bajumu! Tutup badanmu!
Tidak usah pamer-pamer!
Siapa yang mengambil fotonya?
From: Mr. Perfect 💕🍃
Uh, posesif sekali.
Lagipula aku 'kan hanya mengirimkan foto ini padamu.
Ini 'kan kolam renang sayang, wajar kalau shirtless.
Rekanku sayang, laki-laki.
To: Mr. Perfect 💕🍃
Aku juga laki-laki kalau kau lupa.
Lekas pulang.
Wonwoo meletakkan ponselnya, mendengus kasar, dan menyeruput susunya dengan terburu-buru. Sedangkan Mingyu, di belahan bumi lain sana malah tertawa-tawa karena berhasil membuat kesal belahan jiwanya. Rasa rindunya semakin memuncak tatkala ia dikirimkan foto Wonwoo yang sedang merajuk dan cemberut oleh Jeonghanㅡkakak sepupu sekaligus asisten pribadi Wonwooㅡyang diambil secara diam-diam. Wonwoo dan Mingyu begitu kompetitif, kalau Wonwoo berkata rindu, maka Mingyu akan membuktikan bahwa ia lebih rindu pada Wonwoo, tapi tidak dengan kata-kata melainkan dengan aksi.
~~~
Malam tiba, waktu yang Mingyu janjikan bahwa ia akan segera sampai rumah sudah terlewat beberapa menit. Wonwoo? Jangan tanya, ia sedang bolak-balik di ruang tamu menunggu kedatangan pasangannya itu. Hingga suara deru mobil memasuki pekarangan depan rumah mereka, Wonwoo tak sabar untuk segera memeluk lelakinya itu. Wajah lelah Mingyu yang tersenyum menjadi pemandangannya malam ini.
"Gyu ..."
"Ya darl?"
"Aku rindu."
"Aku lebih rindu asal kau tahu."
"Dasar kompetitif!"
Renyah tawa menggema ketika dua insan itu berangkulan masuk ke dalam rumah untuk segera melepas lelah di pelukan belahan jiwanya.
~~~
Cuaca yang mendung membuat Mingyu tak juga membuka matanya, sedangkan Wonwoo sudah menggeliat ingin bangun tetapi masih terkunci dalam pelukan Mingyu.
"Sayang, aku hendak bangun membuat sarapan untukmu." Wonwoo berbisik sambil mengecupi seluruh bagian wajah Mingyu.
"Nanti saja, aku belum lapar." balas Mingyu dengan ceracaunya.
"Iya tapi aku yang lapar." Wonwoo memaksa untuk bangun dan dihadiadi kekehan dan kecupan kupu-kupu dari Mingyu.
"Baik, baik. Masaklah yang enak cintaku." jawab Mingyu sambil melepas pelukannya.
Wonwoo berjalan ke luar kamar sambil bergidik mendengar kalimat picisan Mingyu pagi ini.
~~~
Siang ini mereka habiskan dengan saling berpelukan di sofa ruang tengah, dengan film yang terputar tetapi tidak mereka tonton, Mingyu sibuk mengelus kepala Wonwoo dengan tangan kanan, namun tangan kirinya sibuk dengan laptop.
"Sangat mendesak ya? Tidak bisa ditunda nanti saja?" Wonwoo menegur kesibukan pasangannya itu. Tolong ingatkan Mingyu bahwa ini hari Minggu!
"Aku sedang konfirmasi pemesanan tiket pesawat, sebentar ya sayang." jawaban Mingyu membuat kernyitan pada dahi Wonwoo.
"Mau ke mana?"
"Senin aku harus berangkat ke Osaka."
"Astaga Gyu, bahkan semalam kau baru saja mendarat. Terserahlah." Wonwoo beranjak dari pangkuan Mingyu.
"Sayang! Sayang!"
~~~
P.S
Update-an ini dalam rangka Aunty sebel sama Uncle, baru juga Sabtu malam mendarat dari Jogja, cuddling seharian di hari Minggu, lalu Senin sore harus flight lagi ke Palembang.
Orang-orang pada sibuk social distancing, dia malah wara-wiri di airport, siapa yang nggak worry. Hiks ...
Selamat membuka kotak Pandora 💕🍃
Selamat menikmati romansa yang tidak biasa!
KAMU SEDANG MEMBACA
Bittersweet [Meanie] ✓
FanfictionBittersweet moment kehidupan pernikahan Jeon Wonwoo dan Kim Mingyu, apa jadinya?
![Bittersweet [Meanie] ✓](https://img.wattpad.com/cover/160168260-64-k172050.jpg)