I Love You, Infinity

1.8K 326 9
                                        

Mingyu pernah trauma, sekali dalam hidupnya. Hingga untuk bisa percaya lagi rasanya sangat sulit. Perangai Mingyu yang tidak banyak bicara dan penolong, membuatnya mudah dicintai banyak orang, apalagi lawan jenis. Rasanya kalau dikhayalkan, menjadi pendamping Mingyu adalah suatu anugrah terindah dalam hidup. Tapi sayang, benteng pertahanan diri Mingyu begitu tinggi dan kokoh hingga tiada satu pun sosok yang mampu meruntuhkannya. Pria tampan cokelat manis (karena perlu dicatat, Mingyu tidak hitam) itu selalu mencintai tantangan, lawan jenis yang mendekatinya kebanyakan mudah ditebak, mengajaknya bertemu dengan segala cara, selalu berusaha memunculkan topik pembicaraan agar komunikasi dengannya tidak pernah terputus. Mingyu tetap saja Mingyu, yang tidak pernah tega untuk menyakiti mereka dengan perlakuan ketus atau tindakan menjauh, hanya saja ia selalu membatasi komunikasi dengan sosok-sosok yang mengejarnya.

Mungkin berbeda dengan Wonwoo, yang ketika Mingyu temui, sosok manis bermata rubah itu isi kepalanya serupa kelindan rumit yang tak mampu terurai. Meski dalam pertemuan intens pertama, Mingyu telah banyak mengidentifikasi karakter si manis itu. Bagaimana Wonwoo jika ingin membalas argumen lawan bicaranya, bagaimana cara Wonwoo menggenggam botol minumnya, bahkan Mingyu tahu bagaimana Wonwoo mengikat tali masker di belakang kepalanya. Eksistensi Wonwoo seakan menantang benteng pertahanan Mingyu, jika dinding benteng Mingyu menjulang setinggi Himalaya, maka bunker persembunyian Wonwoo dari dunia luar sedalam palung Mariana. Mingyu tidak pernah menjumpai sosok sekuat sekaligus serapuh Wonwoo, yang dewasa tetapi sebenarnya sangat cengeng. Untuk hal ini kadang Mingyu bingung sendiri bagaimana menenangkan Wonwoo kalau sudah menangis.

Tapi dua sosok itu kini telah melebur menjadi satu, saling menguatkan dan berpijak di dataran yang sama dengan orang-orang lain. Mingyu turun dari tempat perlindungannya dan Wonwoo naik dari tempat persembunyiannya. Mereka saling mengucap janji untuk menghadapi dunia bersama-sama.

"Sayang, sudah semuanya 'kan?" Mingyu memeriksa isi tas Wonwoo yang akan dibawa.

"Sepertinya sudah kok." jawab Wonwoo sambil memasang pose berpikirnya yang membuat Mingyu gemas lalu menghujaninya dengan kecupan kupu-kupu pada kening istrinya itu.

Wonwoo dan Mingyu akan bertolak ke Anyang untuk lima hari, karena pria tinggi itu sangat merindukan kakek dan neneknya, maka dengan perasaan gembira ia mengajak Wonwoo pergi bersamanya. Pasalnya, sejak membina rumah tangga selama dua tahun, Mingyu belum pernah mengajak Wonwoo pergi ke rumah kakek dan neneknya. Ini adalah kali pertama untuk mereka pergi berdua, membayangkan rasa udara pedesaan yang sejuk, bersepeda keliling perkebunan, dan mendengarkan kecipak air sungai yang jernih.

"Benar tidak ada yang lupa?" tanya Mingyu sekali lagi.

"Tidak sayang, benar deh tidak ada yang terlupa." kali ini Wonwoo yang mengecup ujung bibir Mingyu, gemas karena prianya itu terlalu teliti untuk segala hal.

"Obatmu dan teman-temannya. Sudah juga 'kan? Aku hanya tidak mau menjadi suami yang tidak berguna jika tengah malam kau kambuh dan aku tidak berhasil menemukan apotek untuk membeli obatmu." Sebuah pelukan erat datang dari Mingyu, karena melihat Wonwoo sakit akan secara otomatis membuat dirinya merasakan sakit juga.

"Sudah sayang, aku menaruhnya di tempat yang paling mudah dijangkau. Kau tidak perlu khawatir." Wonwoo mengusap lengan Mingyu yang sedang memeluknya erat.

"Jatuhmu kemarin bagaimana kronologisnya?" Sebuah tanya tiba-tiba dari Mingyu membuat Wonwoo sejenak terbungkam. Ia tidak mengatakan apa-apa perihal jatuhnya kemarin pada suami tampannya itu, tapi satu hal yang Wonwoo lupa, sejak sakit dan sering menyembunyikan sakitnya, Mingyu jadi sering memeriksa rekaman CCTV yang dipasang di rumah mereka.

"Eung ... Itu ... Aku jatuh ... Hanya limbung sedikit karena pusing." aku Wonwoo dengan ragu.

"Yakin karena pusing? Bukan karena kehilangan koordinasi? Karena kulihat sebelumnya kau tidak memegang kepalamu seperti halnya orang yang sedang pusing. Kau jatuh begitu tiba-tiba, bahkan saat kau sedang berjalan sambil melompat kecil, kebiasaan yang sering kau lakukan ketika bersenandung. Dan lagi, kau terdiam beberapa saat 'kan setelah jatuh? Kenapa? Kakimu tidak dapat digerakkan?" Mingyu memberondongnya dengan pertanyaan yang sulit sekali untuk dijawab oleh dirinya. Sengaja ia menyembunyikan hal itu, karena tak ingin Mingyu-nya khawatir.

Beberapa hari ini, Wonwoo memang merasakan ada yang tidak beres dengan sistem koordinasi antara saraf dan ototnya. Dua kali jatuh tanpa sebab dan begitu tiba-tiba.

"Kita periksa ke dokter sarafmu sebelum pergi ke Anyang." titah Mingyu mutlak.

Wonwoo terisak dan memeluk erat Mingyu-nya. "Aku sehat 'kan Gyuie? Aku akan menemanimu dalam waktu yang lama 'kan?"

"Pasti. Tenang saja. Kau hanya sedang kelelahan." Kalimat yang penuh keyakinan itu Mingyu utarakan, mungkin bisa berlaku sebagai doa juga pada Tuhan bahwa Wonwoo-nya memang baik-baik saja. Karena jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Mingyu tidak mau dan tidak akan pernah mau jika ditinggalkan oleh Wonwoo.

"Aku mencintaimu, Mingyu. Aku mencintaimu dengan tidak terhingga." gumam Wonwoo dalam dekapan itu.

"Aku pun." balas Mingyu singkat, namun diiringi dengan peluk yang mengerat.

Mungkin benar, bahwa Wonwoo hanya sekadar kelelahan biasa. Wonwoo memperbaiki segala aspek kehidupannya, mulai dari makanan hingga gaya hidup yang sehat. Untuk apa? Karena semata-mata, Wonwoo hanya ingin menemani Mingyu lebih lama. Sangat lama. Lebih dari selamanya bahkan jika ia bisa. Mingyu seringkali berkata padanya,

"Ingat Wonwoo, hidupmu bukan hanya untukmu sendiri."

Dari kalimat itu Wonwoo sadar bahwa hidupnya berarti untuk keluarganya, untuk Mingyu, dan mungkin untuk malaikat-malaikat kecil yang akan meramaikan rumah besar mereka nantinya. Garis Tuhan memang tidak pernah ada yang salah, hadirnya Mingyu membawa cahaya dari suramnya tempat persembunyian Wonwoo. Dan datangnya Wonwoo menyejukkan Mingyu dari panas ketinggian tempat perlindungannya. Kelabu, hitam, dan putih saat mereka masih menjalani kehidupan masing-masing, kini berwarna-warni selayaknya balon-balon helium yang diterbangkan anak-anak pada festival musim panas.

"Kau bersedia mengantarkanku ke dokter 'kan kali ini?" tanya Wonwoo sambil memasang wajah memohonnya.

"Tentu saja. Mana tega aku membiarkan anak kucing yang manis ini berkeliaran sendirian." jawab Mingyu sambil mengecup ujung hidung runcing yang kerapkali berkerut saat tertawa.

"Mingyu ..."

"Ya darl?"

"Selamat ulang tahun, My Iron Man."

"Bahkan aku saja melupakan ulang tahunku. Terima kasih, sayang. I love you, 3000."

"No, no, no! Itu terlalu sedikit Mingyu, yang benar seperti ini ... I love you, infinity! Aku mencintaimu, tidak terhingga!"

Mingyu tertawa dan kembali memeluk erat Wonwoo. Ia juga mencintai pria manis itu, dengan tidak terhingga, tapi ia sengaja tidak mengutarakannya. Mingyu masih menjadi Mingyu yang gengsinya sebesar gunung es di film Titanic.

~~~

P.S

Happy birthday Uncle-nya Aunty.
Sesama Cancerian kaya Jeon Wonwoo, sifatnya hampir sama, hobby-nya juga sama, koleksi bukunya juga sama banyaknya kaya Wonwoo.
Terima kasih lho Uncle sudah terlahir ke dunia ini, terima kasih sudah hadir di hidup Aunty.

P.S.S

Sebenarnya Uncle ulang tahunnya sudah sejak awal Juli sih, tapi nggak apa-apa lah Aunty buat tulisan tentang Uncle-nya sekarang.

Selamat membuka kotak Pandora 💕🍃
Selamat menikmati romansa yang tidak biasa

Bittersweet [Meanie] ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang