Perihal musim, aku pernah dan akan selalu tak berdaya di hadapan musim gugur. Sampai aku tersadar bahwa Tuhan menjawabnya, bahwa musim gugurku adalah lelaki bermata bulan purnama itu.
~~~
Kim Mingyu, begitu dunia memanggilnya. Iris matanya yang kecokelatan dengan bingkai alis tebal yang tajam. Betapa teduh tatap matanya. Betapa sabar dan luas kasihnya. Betapa lembut tutur kata dan perangainya mampu membuat siapa saja dengan mudah jatuh hati. Kalau Tuhan benar mengirimkan malaikat tanpa sayap, maka Kim Mingyu lah sosok itu.
Lelaki ini, bagiku adalah sosok dongeng paling nyata dalam hati dan pikiran. Sosok paling manis yang sayang jika hanya dilewatkan begitu saja. Kim Mingyu adalah entitas nyata dari kebaikan Tuhan yang berupa manusia.
Telinganya yang selalu saja mendengar dan mulutnya yang terkatup tanpa interupsi, menjadi salah satu bagian yang aku kagumi. Ia selalu bisa membuatku merasa didengar tanpa perlu merengek terlebih dahulu. Perlu banyak waktu yang aku perjuangkan untuk dapat menyelami sosoknya, menyelami hatinya, menjangkau isi kepalanya, bahkan untuk mendengar betapa semangatnya ia menceritakan mimpi-mimpi miliknya.
Kim Mingyu laksana gunung es, betapa sedikit bagian yang terlihat pada permukaan. Amarahnya tidak pernah berapi-api. Manusia paling tangguh yang aku kenal sepanjang hidup singkatku ini. Aku pernah ketakutan akan hal yang sebenarnya tak perlu kutakutkan. Aku takut bahwa tidak ada aku dalam impian-impiannya.
Tetapi tidak.
"Di dalam impian-impian itu ada dirimu, Wonwoo."
Kim Mingyu berhasil menenangkanku.
Tetapi aku tetap saja Wonwoo si impulsif. Yang acapkali menyakiti hatinya dengan intonasiku yang tinggi. Yang menyalahkan dirinya atas sesuatu yang aku tidak bisa. Yang akan menyesal kemudian ketika membangkitkan amarah dan kekesalannya dalam bentuk sebuah wajah yang amat sedih. Wajah yang ketika tertidur sangat damai seperti anak-anak kecil tanpa noda. Tidak hanya wajahnya, Kim Mingyu ketika meminta sesuatu juga berperangai selayaknya anak kecil. Aku mencintainya dengan sangat. Meski seringkali aku tak tahu bagaimana cara mencintainya dengan benar.
Aku pernah marah karena merasa tak diizinkan untuk memiliki hatinya dengan utuh, merasa ia kerap membentang jarak dan membangun dinding yang tinggi. Namun yang kudapat adalah sebuah jawaban yang menyayat hati,
"Aku tetap harus menjaga hatiku sendiri, aku hanya takut bagaimana jika kau tiada? Aku pasti akan hampa sekali jika seluruh hatiku kau bawa pergi."
Kim Mingyu bahkan dengan gamblang mengatakan bahwa ia akan sangat kehilangan jika aku tiada. Tetapi aku lagi-lagi tak mampu mencintainya dengan benar. Selalu gagal memberikan seluruh telingaku untuk mendengar keluh kesahnya. Hampir tak pernah berhasil membalas cintanya yang begitu besar dengan sabar.
Kim Mingyu, kukatakan bahkan akan selalu baik-baik saja jika aku tiada. Akan bisa mendapatkan cinta siapapun di dunia ini meski entitasku lesap. Karena aku yakin banyak yang bisa mencintai sosok Mingyu dengan apa adanya. Justru aku yang tidak bisa, aku yang rumpang dan compang-camping dengan ketidaksempurnaan malah berlaku besar kepala karena merasa dicintai olehnya.
Aku lagi-lagi hanya bisa menghitung hari, memilih dengan benar perangai sempurna seperti apa untuk kuberikan padanya di sisa kehidupan yang tidak lama.
"Kau tahu Arunika, Wonwoo? Dia sepertimu. Arunika yang berarti sinar matahari pagi. Cerah dan terasa hangat. Hanya hangat, tidak sampai menyakiti dengan panasnya. Kamu. Hangat."
Kim Mingyu berkata bahwa aku sosok yang hangat, meski jauh di dasar jiwa sana aku adalah si dingin penyendiri. Namun karena ia berkata aku hangat, maka dengan segenap hati aku berjuang untuk bisa menghangatkannya.
Kim Mingyu bagaikan musim gugur. Meski angin dingin menyertainya namun kesan hangat dari dedaunan yang memerah kecokelatan tetap ada. Alam seakan bahagia bersolek ketika musim gugur tiba, kuning, jingga, merah, cokelat, semua membentuk harmonisasi yang cukup sempurna.
"Kau menulis apa?"
Aku gelagapan dan hanya bisa menyembunyikan semua hal yang sedang kutulis. Kim Mingyu tidak boleh mengetahuinya, nanti jiwa narsistiknya kambuh ketika membaca bagaimana diksi-diksi sederhanaku ini begitu memujanya.
Kim Mingyu akan selalu menempatkan dirinya sendiri di urutan sekian entah. Sosok tangguh yang memilih menjamin kebahagiaan orang-orang terdekatnya terlebih dahulu daripada kebahagiaannya. Kim Mingyu yang akan sangat terluka dan gusar hatinya ketika melihat anjing dan kucing yang liar terlantar. Kim Mingyu yang tak bisa melihat hewan ternak disembelih. Kim Mingyu si perasa dengan kelembutan hati yang jauh melampaui manusia lainnya.
"Ah tidak, aku hanya menulis prosa acak biasa."
Jawabku singkat.
Kim Mingyu, sekali lagi kau bagaikan sesosok tokoh dongeng paling nyata yang Tuhan wujudkan.
Terima kasih telah terlahir ke dunia ini.
Aku yang mencintaimu,
Wonwoo
~~~
Selamat membuka kotak Pandora 🍃💕
Selamat menikmati romansa yang tidak biasa!
P.S
Ditulis untuk Uncle dari Aunty yang tidak sempurna.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bittersweet [Meanie] ✓
FanfictionBittersweet moment kehidupan pernikahan Jeon Wonwoo dan Kim Mingyu, apa jadinya?
![Bittersweet [Meanie] ✓](https://img.wattpad.com/cover/160168260-64-k172050.jpg)