Dua hari lamanya sejak Mingyu diantarkan pulang ke rumah oleh Seokmin, dirinya kini masih terbaring di ranjang. Wonwoo melepas semua pekerjaannya, sepanjang waktu berada di samping Mingyu yang suhu tubuhnya tidak kunjung turun. Pria tampan itu tidak mau sedikit pun ditinggalkan oleh Wonwoo, jadi mau tak mau semua kebutuhan makan Mingyu dibawa ke dalam kamar. Mulai dari termos air panas sampai bubur yang telah Wonwoo buat tadi pagi. Seharian ini Mingyu hanya meringkuk, dengan wajah yang ia sembunyikan menghadap perut Wonwoo, sedangkan Wonwoo hanya bersandar pasrah di headboard ranjang dengan tangan yang tidak berhenti mengusap punggung Mingyu. Sesekali tangannya ia pindahkan untuk menyibak rambut yang menutupi dahi Mingyu yang basah oleh peluh.
Wonwoo kadang tak tahan menciumi seluruh bagian wajah Mingyu, karena gemas melihat prianya menjadi sangat manja apabila sedang sakit. Meski berkali-kali bibirnya ditepis saat ingin mencium Mingyu, Wonwoo tak juga menyerah.
"Darl, berhenti menciumku nanti kamu tertular." Lalu suara batuk menggema di dalam kamar mereka, siapa lagi pelakunya kalau bukan Mingyu.
"Ya sudah, tidak apa biar sakitnya ke aku saja." Wonwoo merengut setelah dilarang oleh Mingyu.
"Tidak begitu cara mainnya, lalu kalau aku sakit, kau juga sakit, yang merawat siapa? Sudah ah, usap-usap saja punggungku, awas kalau menciumku lagi." Wonwoo tertawa melihat Mingyu yang menggemaskan, lalu tanpa sadar ia menjatuhkan lagi kecupan di kening Mingyu.
Selalu ada untuk Mingyu menjadi tujuan hidup Wonwoo sejak ia memutuskan untuk menerima pinangan pria tampan nan tinggi itu. Ia menyesal sudah tidak jujur pada Mingyu saat bertemu Sehun kemarin. Dan itu adalah hal yang tidak ingin Wonwoo ulangi lagi.
"Sayang, makan dulu ya selagi buburnya masih hangat." Dengan lembut, Wonwoo menepuk-nepuk pipi Mingyu. Baru saja Bibi Jung masuk ke kamar mereka untuk mengantarkan bubur yang baru saja matang.
"Hmm ... Baiklah ..." Gumaman Mingyu terdengar sesaat kemudian, lalu ia beringsut dan menyandarkan dirinya di headboard ranjang sementara Wonwoo mengambilkan mangkuk berisi bubur.
Demi hasil yang maksimal, Wonwoo menyuapi Mingyu. Meski beberapa kali, ekspresi mual tergambar jelas di wajah Mingyu.
"Baik, aku akan berhenti dulu ..." Wonwoo berhenti menyuapi Mingyu, menepuk punggung bidang itu dengan lembut. Tatapan sedih tersirat dari mata Mingyu, ia telah merepotkan Wonwoo-nya.
"Maafkan aku ..."
"Eh? Minta maaf untuk apa?" Tanya Wonwoo dengan heran.
"Aku merepotkanmu, ringkih sekali aku ya. Mudah sakit." Tangan besar Mingyu menggenggam tangan Wonwoo erat dengan sedikit meremas.
"Ini sudah kewajibanku. Selalu ada untukmu menjadi bagian paling aku suka di hari-hari kita." Wonwoo berujar, tanpa sadar Mingyu telah memindahkan mangkuk yang berada dalam tangan Wonwoo ke nakas di samping ranjang mereka.
Genggaman tangan itu semakin erat, posisi mereka semakin mendekat hingga panas napas Mingyu menerpa wajah Wonwoo. Mingyu membawanya ke dalam ciuman lembut penuh cinta dan rasa terima kasih. Jemari telunjuk Mingyu membelai wajah porselen Wonwoo, baginya itu adalah ciptaan Tuhan yang paling indah. Wonwoo memejamkan matanya karena terhanyut oleh perlakuan Mingyu yang begitu halus padanya. Hingga akhirnya Mingyu melepaskan ciuman itu ketika merasakan bahwa napas Wonwoo mulai tersengal.
"Terima kasih, Darl ... Terima kasih sudah merawatku. Aku kenyang, buburnya kau saja yang menghabiskan ya. Hehehehe ..." Mingyu memberikan cengiran jenaka khas anak kecil ke arah Wonwoo. Kalau sudah begini apa boleh buat, akhirnya ia yang harus menghabiskan bubur Mingyu hingga tandas.
~~~
Mingyu belum kembali ke restoran, alasannya sih karena ia masih dalam fase pemulihan setelah sakit, begitu juga Wonwoo yang dimintanya untuk meninggalkan semua pekerjaan hanya untuk menemani dirinya di rumah. Tidak ada yang berubah, Mingyu tetap menjadi Mingyu yang ketika sakit menjadi begitu manja, namun ketika kembali ke keadaan semula, menjadi Mingyu dengan pride yang setinggi Himalaya. Wonwoo kadang tak habis pikir, bagaimana bisa sosok dewasa dan matang itu bisa berubah drastis menjadi pribadi yang manja dan menggemaskan.
"Gyu ..."
"Hmm ..."
"Astaga mau sampai kapan kau hanya tidur-tiduran begitu?" Wonwoo meracau melihat aksi malas-malasan Mingyu pagi ini.
"Eiyy ... Suami tampanmu ini 'kan sedang pemulihan setelah sakit." Sepertinya Wonwoo harus meralat sifat Mingyu yang manja dan menggemaskan, kalau begini sih jadinya Mingyu yang manja dan menyebalkan.
"Suhu badanmu sudah turun?" Wonwoo kembali bertanya, mengalihkan topik dari pernyataan tampan yang berlebihan.
"Mengapa tak kau periksa sendiri saja? Aku bersedia kok kau periksa, pasti nanti kau akan menyentuh keningku, leherku, ya lebih bagus lagi kalau sekalian saja kau usap-usap dan pijit punggungku." Mingyu mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda Wonwoo yang sedang memutar bola matanya tanda malas mendengarkan godaan suami tampannya itu.
Dengan secepat kilat Wonwoo langsung menubrukkan dirinya ke arah Mingyu. Mengusakkan ujung hidung ke dada bidang yang selalu menjadi sandarannya setiap malam. Tanpa aba-aba, Wonwoo mengecup bibir tebal milik Mingyu dan kemudian tertawa.
"Baiklah, baiklah, sini aku yang periksa. Aku sudah belajar kok dengan Jeonghan-hyung bagaimana cara memeriksa tanda vital orang yang sedang sakit." Pria manis bermata rubah itu telah bersiap-siap bergaya layaknya seorang dokter yang siaga memeriksa pasiennya.
"Tidak perlu, aku sudah sembuh kok. Sini peluk!" Mingyu menawarkan sebuah pelukan dan dengan senang hati Wonwoo membentangkan tangannya lebar-lebar, siap menerima tubuh Mingyu dalam rengkuhannya.
Wajah mereka telah saling mendekat, sudah bisa dipastikan bahwa ciuman tidak akan mampu lagi terelakkan. Baru saja keduanya memejamkan mata bersamaan, namun ...
Uhuukk ...! Uhuukk ...!
Mingyu segera membuka mata, di hadapannya Wonwoo sedang memberikan cengiran canggung dengan mata berair dan hidung yang memerah.
"Darl ... Sepertinya aku tertular ..."
Mingyu tertawa dan memeluk istri tercintanya erat-erat. Sedangkan Wonwoo merasa bahagia yang teramat sangat, karena Mingyu-nya telah kembali.
"Tidak apa-apa, kali ini biar aku yang merawatmu. Kita bersama untuk saling menyembuhkan kok."
Mingyu dan Wonwoo tidak pernah bosan untuk mengingatkan kita bahwa cinta selalu tahu ke mana harus pulang. Bahwa cinta hanya akan kembali ke rumahnya setelah melangkah jauh.
~~~
P.S
Aunty minta maaf ya tadi sore PHP karena sedang tidak fokus jadinya kepencet publish, padahal belum selesai ngetik. Dan chapter ini juga pendek banget karena mau menyelesaikan konflik yang ada di dua chapter sebelumnya.
Kalian bosen nggak sih sama Bittersweet? Sudah 26 cerita lho ini.
Aku penasaran, kenapa sih kalian masih bertahan baca Bittersweet?
Adakah hal positif yang bisa kalian ambil dari Bittersweet?
Untuk yang kesel sama Wonwoo atau Aunty di chapter The Past (2), Aunty minta maaf ya hehehe ...
Selamat membuka kotak Pandora 💕🍃
Selamat menikmati romansa yang tidak biasa!
KAMU SEDANG MEMBACA
Bittersweet [Meanie] ✓
FanfictionBittersweet moment kehidupan pernikahan Jeon Wonwoo dan Kim Mingyu, apa jadinya?
![Bittersweet [Meanie] ✓](https://img.wattpad.com/cover/160168260-64-k172050.jpg)